Follow

Lembaga Mahasiswa Tidak (Boleh) Mati!

Editor: Ayu Lestari | Selasa, 30 Oktober 2018 - 10:30 Wita | 249 Views
ilustrasi : Renita Pausi Ardila

Mahasiswa merupakan agen perubahan (agent of change). Sebagai bagian dari masyarakat, mahasiswa adalah golongan terdidik, terbiasa berpikir dalam rangka menyelesaikan permasalahan bangsa, memberikan solusi dan arah bagi terwujudnya kehidupan masyarakat yang maju dan bermartabat. Lembaga mahasiswa di kampus adalah ujung tombak untuk menciptakan kader-kader aktivis mahasiswa yang visioner dan bisa menciptakan perubahan.

Namun, sayangnya jauh panggang dari api. Lembaga mahasiswa yang ada di kampus-kampus hari ini berada dalam kondisi yang tidak bisa diharapkan, baik oleh mahasiswa pada umumnya maupun oleh masyarakat. Pada faktanya, lembaga mahasiswa lebih banyak disibukkan dengan masalah internal atau kegiatan-kegiatan yang sifatnya hanya euforia belaka, dan sangat jarang melakukan dialog-dialog yang membangun pemikiran. Maka tidak heran, jika suatu ketika mahasiswa disebut telah mati atau mahasiswa kupu-kupu (baca: kuliah pulang kuliah pulang).

Lembaga mahasiswa mengalami kegagalan dalam menjalankan perannya sebagai gerakan mahasiswa yang berpengaruh, dinamis dan maju, layak diikuti dan didukung, serta mampu melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik, setidaknya dikarenakan empat hal.

Pertama, Gerakan-gerakan mahasiswa yang ada berdiri di atas dasar pemikiran yang masih umum tanpa batasan yang jelas, sehingga muncul kekaburan dan pembiasan. Padahal, dasar pemikiran yang tetap akan menentukan, arah dan tujuan yang jelas yang ingin dicapai.

Apakah gerakan mahasiswa ini layak untuk diikuti tergantung pada seberapa besar dasar pemikiran itu mampu membawa kebangkitan? Kebangkitan hanya bisa diraih dengan mengemban suatu pemikiran yang universal, layak diikuti, sesuai dengan fitrah kemanusiaan, dan membawa pada kepuasan akal serta rohani. Dengan demikian, lembaga mahasiswa hari ini tidak memiliki pengaruh yang besar bagi kehidupan kampus apalagi masyarakat karena adanya kelemahan berpikir, sehingga mereka tidak mampu menjalankan tugasnya sebagai agen perubah, tidak mampu menjawab tantangan jaman, bahkan tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat.

Kedua, Gerakan yang ada tidak mengetahui metode untuk melaksanakan pemikiran-pemikiran mereka, disebabkan oleh tidak adanya pemikiran yang jelas menuju kebangkitan dan perubahan yang seharusnya dimiliki oleh suatu gerakan. Gerakan-gerakan yang ada tidak mengerti bagaimana menghadapi problem-problemnya serta tantangan dan hambatan yang akan dihadapi dalam meraih tujuan-tujuan mereka. Akibatnya, mereka sulit keluar dari permasalahan-permasalahan mereka dan tidak siap menghadapi segala sesuatu yang terjadi di kemudian hari.

Ketiga, Gerakan-gerakan tersebut bertumpu pada orang-orang yang belum sepenuhnya mempunyai kesadaran yang benar. Mereka belum mempunyai niat yang benar. Bahkan mereka hanyalah orang-orang yang berbekal keinginan dan semangat belaka, sementara dan insidental. Karena itu, wajarlah jika gerakan-gerakan tersebut bergerak hanya sebatas bekal kesungguhan dan semangat yang dimiliki sampai bekal itu habis. Kemudian aktivisnya berhenti dan akhirnya lenyap terganti dengan orang-orang yang baru. Demikian yang terjadi terus menerus.

Keempat, Orang-orang yang menjalankan tugas gerakan-gerakan tersebut tidak mempunyai ikatan yang benar. Ikatan yang ada hanyalah struktur organisasi itu sendiri, disertai dengan sejumlah deskripsi mengenai tugas-tugas organisasi dan sejumlah slogan-slogan organisasi. Ketika akhir masa jabatan, aktivis-aktivis menanggalkan keanggotaannya dan mengurusi kepentingan masing-masing.

Faktor-faktor di atas menjadikan lembaga mahasiswa yang ada menjadi stagnan, apatis, dan pragmatis, baik dari segi pemikiran maupun aktivitas gerak yang berpengaruh. Akibatnya lembaga mahasiswa terus terjebak dengan permasalahan-permasalahan yang sama sementara permasalahan-permasalahan dalam dunia pendidikan atau permasalahan-permasalahan lain di luar kampus terus berkembang. Akhirnya, lembaga mahasiswa gagal menjadi gerakan yang diharapkan oleh mahasiswa apalagi masyarakat. Tentu kita tidak ingin kondisi terus berlangsung. Oleh karena itu, setelah mengetahui faktor-faktor penghambat yang menggagalkan gerakan di atas, sudah saatnya lembaga mahasiswa kembali menelaah internalnya,

 

Penulis : Nurul Damasih,

Mahasiswa Jurusan Sastra Jepang,

Aktivis Komunitas Back to Muslim Identity Chapter Unhas.

 

BACA JUGA