Follow

Luka Hati

Editor: Ayu Lestari | Kamis, 06 Februari 2020 - 11:30 Wita | 525 Views
sumber ilustrasi : Google image

Hujan turun sangat deras. Musim hujan sepertinya akan menenggelamkan daerah ini. Aku berharap-harap cemas akan nasib tambak bandeng yang kini dipenuhi air hujan. Airnya yang semakin tawar bisa-bisa mematikan nener yang baru kutebar sebulan lalu.

Dari tepi jalan, aku memandangi tambak itu. Permukaan air sudah hampir rata dengan pematang-pematangnya. Hatiku semakin ciut melihat curah hujan yang berbulir-bulir besar jatuh menimpa permukaan air, menimbulkan riak kecil. Payungku yang dua tulang rangkanya sudah patah, semakin reot oleh curah hujan yang ditingkahi angin kencang. Air hujan memercik di wajahku. Tapi aku lebih mencemaskan tambak bandengku.
Masih dengan hati cemas, aku berbalik. Saat ini aku tidak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkannya, selain berdoa, semoga hujan segera berhenti. Aku bermaksud pulang ketika kulihat seorang perempuan berlari-lari kecil di bawah curah hujan yang sangat deras. Dia hanya menggunakan tas kerjanya untuk melindungi kepalanya. Baju seragam coklatnya basah kuyup.

“Bu Guru, baru pulang?” ujarku menyapa. Kusamperi dia dengan payungku. Tampak wajahnya yang basah tersenyum lega.
“Oh, Pak Ahmad, terima kasih,” balasnya sambil mengeluh, “Hujan tak juga berhenti.”
“Iya Bu, beginilah musim hujan,” jawabku mencoba bijak, meski hatiku juga kesal pada hujan. “Dari mana Bu, sore begini baru pulang?”
“Dari kantor dinas, Pak,” jawab Bu Arni. “Tapi sudah sore sekali, tidak ada lagi kendaraan yang masuk ke sini, jadi terpaksa jalan kaki.”
“Kenapa tidak menginap saja di kota? Ibu bisa sakit kena hujan begini,” kataku khawatir.
“Besok harus mengajar, Pak. Lagi pula saya sudah pulang dari tadi siang, tapi hujan tidak juga berhenti. Padahal saya tidak bawa payung karena tadi pagi diantar naik motor,” jelasnya panjang lebar.
Memang benar, hujan baru turun sangat deras menjelang siang dan belum pernah berhenti sampai sore ini. Pagi tadi cuaca lebih bersahabat.
“Mari, Bu, saya antar.” Aku meneduhkan payung besarku di atas kepala Bu Arni. Payung rusakku masih cukup lebar untuk melindungi kepala kami berdua.
Hujan semakin deras. Bu Arni memeluk tasnya di dada dengan kedua tangannya.
“Maaf bu, payungnya sudah rusak, yang lain dibawa anak-anak ke sekolah,” ucapku menyesali ulah payung yang enggan berkompromi itu.

Bu Arni hanya menyunggingkan senyum di wajahnya yang dipenuhi butiran air hujan. Tiba-tiba hatiku berdesir. Senyum itu indah sekali. Aku membuang pikiran tentang senyum itu, sejauh mungkin. Kuajak Bu Arni berjalan kembali di bawah hujan yang terus mengguyur bumi. Tak sadar, tanganku merengkuh bahu Bu Arni lebih mendekat ke arahku. Benar-benar aku tak sadar, sampai Bu Arni tersentak oleh sentuhan tanganku. Aku ikut tersentak lalu dengan cepat menarik kembali tanganku. Wajah kami merah padam.

“Maaf Bu. Sama sekali tidak bermaksud…” Aku kehilangan kata-kata ketika melihat matanya memandang tajam padaku, tak senang. Aku benar-benar tidak bermaksud melecehkannya. Yang kurasakan saat itu adalah bahwa aku harus melindunginya dari hujan dan angin. Tetapi aku benar-benar lupa diri bahwa dia adalah seorang lain, seorang guru dan aku seorang petani, yang tidak punya hubungan pribadi.
“Maaf sekali Bu..” aku menatapnya penuh harap, penuh penyesalan.

Bu Arni mengangguk, lalu berjalan lebih cepat. Aku segera menjajari langkahnya, berusaha melindungi kepalanya dengan payungku. Kami melewati beberapa rumah dalam diam, sebelum akhirnya tiba di depan rumahnya. Tepatnya, rumah Mak Isah, tempat Bu Arni tinggal selama ini. Dia hanya mengangguk padaku sebelum membuka pintu pagar yang terbuat dari bambu, dan tak menoleh lagi ketika masuk ke dalam rumah. Apalagi bersuara mengucapkan terima kasih.

Dengan perasaan yang campur aduk, antara menyesal dan kecewa, aku bergegas menuju ke rumahku. Rasanya sangat dingin di tengah hujan yang masih memuntahkan air dari langit. Ketika kehangatan rumah dan segelas besar kopi hitam membuatku nyaman, mataku menatap ke arah televisi sedang memutar sinetron kisah anak remaja yang tak kumengerti jalan ceritanya. Gambarnya kabur penuh bintik dan kadang-kadang timbul tenggelam. Tetapi televisi itu satu-satunya hiburan di sini, yang kini sedang melakonkan adegan dua remaja yang saling mengungkapkan cintanya. Lakon itu tiba-tiba mengingatkanku pada Bu Arni. Aku merasa malu telah menyentuhnya tadi. Tapi aku telah lancang padanya. Bu Arni tidak suka dengan perlakuan itu. Dia tadi marah. Hanya saja dia tidak menampakkannya.

Aku menatap air hujan yang jatuh dari atap seng seperti tumpah yang tak ada habis-habisnya. Mataku seolah menembus derasnya air yang jatuh membasahi bumi ke arah rumah Mak Isah, langsung tertuju ke kamar Bu Arni. Kulihat di sana, Bu Arni sedang duduk di tempat tidurnya, menunduk menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Bahunya terguncang. Dia menangis. Aku terkejut. Apakah Bu Arni menangis karena kejadian tadi? Sebegitu mendalamkah kekesalan hatinya karena kelancanganku?

Aku bangkit dari dudukku, lalu berdiri di pintu ruang tamu. Menjelang magrib, hujan masih juga tak menampakkan akan mereda. Hatiku mendadak terasa tidak enak. Sesal menyelimuti perasaanku. Aku harus meminta maaf secara khusus kepada Bu Arni.

Ketika aku akhirnya berani mengunjunginya di rumah Mak Asih pada suatu hari selepas Magrib, Bu Arni tampak segar dengan senyum cerahnya menyambutku. Dia menerima kunjunganku didampingi Mak Asih yang tampak sangat senang dengan kedatanganku ke rumahnya. Tak tampak lagi marah di wajahnya.

“Ada apa pak Ahmad datang malam-malam begini?” sapa Bu Arni dengan ramah.
Hatiku terasa sejuk dengan sambutannya yang sangat baik itu.
“Ah, kebetulan saja, Bu, saya baru pulang dari tambak lewat sini. Jadi sekalian mampir. Siapa tahu Ibu suka ini,” aku menyerahkan kantongan plastik yang kubawa. Isinya ikan bandeng yang masih cukup kecil, tapi sudah lumayan untuk menjadi lauk. Mak Asih menyambut oleh-olehku dengan suka cita. Perempuan tua itu dengan segera membawanya ke dalam, meninggalkan kami berdua di ruang tamu, bercerita panjang lebar. Tetapi malam telah memotong kebahagiaanku. Waktu yang sudah menuju larut, memaksaku pamit. Senyum Bu Arni mengantarku sampai ke pintu pagar rumah Mak Asih, mengantarkan aku sampai ke rumahku, dan bahkan mengantarkan aku sampai tertidur. Sejak saat itu, aku selalu ingin bertemu dengannya, berbincang dan berbagi kebahagiaan. Tuhan, aku benar-benar telah jatuh cinta. Tiba-tiba aku merasa bagai remaja yang baru pertama kali mengenal cinta. Sejak itu pula, aku selalu memiliki alasan untuk melewati rumahnya, berpapasan dengannya, atau sekadar melihatnya dari jauh.

“Lihat-lihat dirimu, Daeng,” ujar Aminah, adikku yang mencecar dengan sadis ketika aku mengutarakan perasaanku pada Bu Arni.

Aku terpaksa berterus terang padanya, karena kunjunganku ke rumah adikku itu masih dipenuhi ‘pantun’ favoritnya, sindiran-sindiran tentang kesendirianku. Sudah 10 tahun aku melewatkan waktu dalam kesendirian sejak Wina, istriku, meninggal karena demam berdarah. Sudah berulang-ulang semua keluargaku menyuruhku mencari pengganti Wina. Tetapi pengalaman beristri Wina membuatku trauma dengan perempuan dan pernikahan.
Kami menikah karena perjodohan. Sebagai laki-laki sederhana, aku tak berharap banyak pada orang yang dipilih untuk menjadi pasanganku. Karena itu aku belajar mencintai Wina, saat untuk pertama kali kami berdua saja di kamar pengantin kami. Tetapi cinta yang baru mulai kutumbuhkan di hatiku langsung padam dengan sikapnya yang serba mengatur, tuntutan kebutuhan yang harus selalu lebih baik daripada tetangga dan keluarga yang lain, serta rentetan kicau yang tak pernah berhenti, kecuali saat tidur.

Dalam setahun, aku lelah menghadapi kehidupan yang serba diatur dan kuping yang selalu panas sampai ke hati dengan berbagai sindirian, terutama bila aku gagal membawa uang pulang ke rumah. Tetapi aku selalu berusaha untuk sabar dengan mengurut dada. Seiring berjalannya waktu, aku belajar untuk menerima nasibku dan menjalaninya apa adanya, hingga Wina bisa memberikan dua putra untukku. Itulah alasan yang membuatku tetap berusaha belajar mencintainya.

Ketika dia meninggal pada saat sepuluh tahun pernikahan kami, aku berada di antara gelombang kesedihan dan kelegaan. Aku sedih, karena Wina adalah ibu dari anak-anakku yang masih balita, dan aku mencintainya karena posisinya itu yang tak akan bisa tergantikan oleh siapapun. Aku sedih, karena anak-anakku selalu menanyakannya setiap hari setelah kematiannya. Seminggu setelah kepergian Wina, aku menemukan diriku sangat kehilangan dirinya. Aku telah mencintainya dan baru menyadarinya setelah dia meninggal.

Melihat kesedihanku ditinggal istri, seluruh keluargaku berinisiatif mencarikan pengganti. Sudah banyak perempuan yang diperkenalkan padaku untuk mengganti posisi ibu anak-anakku. Tetapi setiap kali memandang mereka, aku selalu melihat sosok Wina di sana. Perempuan yang suka mengatur, senang bergosip, dengan tuntutan hidup yang tinggi. Aku tak ingin mengulang pengalaman pahit itu. Tetapi keluargaku tak pernah bosan mendorongku menikah lagi, bahkan hingga 10 tahun kesendirianku, sampai sekarang walaupun setiap tahun gencarnya dorongan itu semakin berkurang, hingga menginjak tahun ke 10 kesendirianku, tak pernah lagi mereka mencecarku.

Anak-anakku sudah besar. Irfan baru saja menyelesaikan SMU-nya di usianya yang 19 tahun dan setuju mewarisi karirku sebagai petambak. Sedangkan adiknya, Hendra yang sudah SMU berminat menjadi guru. Anak-anak itu tak pernah lagi menanyakan ibu mereka. Bahkan Irfan kadang-kadang terlalu sibuk setiap kali diajak berziarah ke makam ibunya pada menjelang puasa Ramadhan.

“Tidak usah pakai cinta-cinta segala, Daeng,” ujar Aminah dengan kesal. “Lagipula, siapa kau? Siapa dia? Ingat umur..! Ingat keturunan…!” Aminah meletakkan sepiring ubi rebus dengan keras di meja makan di depanku.
Aku hanya diam, lalu mencomot sepotong. Ocehannya yang tak putus-putus mengingatkanku pada Wina.
Dalam ocehannya, Aminah menyuruhku menyadarkan diri dan bercermin. Berulang-ulang dia mengingatkan bahwa diriku hanya seorang petambak yang serba terbatas, pendidikan rendah dan juga status dudaku dan usia yang sudah hampir setengah abad. Aku tahu, masih banyak yang ingin diungkapkan oleh Aminah tentang Bu Arni.

Bu Arni adalah guru SMP Negeri yang sudah mengajar di desa kami selama 10 tahun ini. Dia cantik dan ramah. Setiap orang langsung menyukainya sejak pertama kali bertemu dan sampai sekarang semua orang berharap dia tidak meninggalkan kami. Para orang tua di kampung berharap ada pemuda kampung kami yang bisa menyuntingnya. Tetapi hingga sekarang, belum ada yang berhasil mendapatkannya. Kehidupan pribadi Bu Arni seolah sebuah misteri, karena tak pernah ada yang tahu alasan Bu Arni tetap menyendiri sampai sekarang.

Tapi aku terlanjur mencintainya. Setiap kali melihat senyum Bu Arni, hatiku terasa sejuk tersiram air dingin. Aku melupakan traumaku, saat melihatnya. Aku bahkan tidak peduli, kalaupun Bu Arni sama cerewetnya dengan Wina, almarhumah istriku. Yang aku tahu, kalau aku harus menikah lagi, hanya ingin bersamanya. Tapi aku juga sadar. Benar kata Aminah, aku harus bercermin, agar bisa melihat kenyataan bahwa usia sebentar lagi setengah abad dengan anak-anak yang sudah dewasa. Bertolak belakang dengan Bu Arni yang masih gadis dan belum pernah direcoki oleh anak-anak. Dia cantik, bersih dan terawat. Dia berpendidikan tinggi sampai sarjana dengan masa depan yang baik sebagai seorang PNS.

Kenyataan itu membuat nyaliku melayang. Aku tak berani melamarnya. Semakin hari aku menekan perasaanku, semakin gila rasanya. Setiap hari aku melewati rumah Mak Isah dan beberapa kali dalam seminggu aku berpapasan dengannya di jalan. Dia selalu semakin cantik setiap kali aku melihatnya melangkah tergesa-gesa dalam balutan seragam pegawainya. Aku masih tak berani mengungkapkan perasaanku padanya. Dan aku tahu, aku tak akan pernah berani mengungkapkan padanya.

Aku memandang hamparan permukaan tambak yang tenang. Semilir angin yang berhembus menciptakan barisan riak kecil, memantulkan sinar matahari. Sementara burung-burung beterbangan lincah di atas permukaan air dengan manuver-manuver yang menakjubkan. Tetapi hatiku terluka oleh cinta yang tak pernah sampai. ***

 

Penulis : Huri A Hasan,

Senior PK Identitas Unhas

BACA JUGA