Follow

Mari Kenal 5 Profesor Termuda di Unhas

Editor: Sri Hadriana | Sabtu, 06 Oktober 2018 - 19:26 Wita | 915 Views

Profesor atau guru besar merupakan salah satu jabatan akademik yang menjadi idaman bagi semua orang. Untuk memperolenya, seseorang pun harus melalui beberapa tahap. Setidaknya, ia mesti menyelesaikan studi strata satu, master, hingga doktor.

Bahkan, tak semua yang telah menempuh studi doktoral mampu menjadi profesor. Oleh karena itu, dapat dikatakan, seseorang yang mendapat jabatan akademik profesor di usia yang masih muda dapat diacungi jempol.

Berdasarkan data dari Biro Perencanaan dan Sistem Informasi Universitas Hasanuddin (Unhas), terdapat lima profesor muda di Unhas. Segelintir civitas akademik pasti sudah tidak asing lagi dengan mereka.

  1. Prof Dr Dahlang Tahir SSi MSi

Dahlang merupakan profesor termuda yang ada di Unhas. Lelaki kelahiran Salassae Bulukumba, 7 September 1975 ini merintis pendidikan Sarjana di Unhas dan selesai pada tahun 1997. Selanjutnya program Strata 2, ia tempuh di Institut Teknologi Bandung dengan mengambil Jurusan  Experimental Material Physics. Setelah itu, ia hijrah ke Korea Selatan untuk melanjutkan pendidikan program doktoral, tepatnya di Experimental Material Physics Chungbuk National University, Chungbuk hingga tahun 2011.

Hanya butuh waktu tiga tahun setelah menyelesaikan studi di Korea Selatan, Dahlang memperoleh guru besar di usia 39 tahun. Jabatan akademiknya itu ia peroleh setelah melakukan penelitian berjudul Peran Fisika Material dalam Usaha Meningkatkan Pemanfaatan Material Sintesis dan Biomaterial di Indonesia. Prof Dahlang, begitu kerap disapa, diketahui memiliki keahlian di bidang riset  tentang Fisika Material dan Energi.

  1. Prof Dr Eng Syafaruddin ST M Eng

Dosen Fakultas Teknik Unhas yang memiliki keahlian bidang Energi ini, resmi menjabat sebagai guru besar Unhas di usia 43 tahun, tepatnya pada Oktober 2017. Saat pengukuhan, ia membawakan pidato tentang penelitiannya yang berjudul Metode Real-Time Pelacakan Daya Output Maksimum Panel Surya Berbasis Sistem Cerdas.

Lelaki kelahiran Gowa 30 Mei 1974 ini menempuh studi Strata 1 di Fakultas Teknik Unhas pada tahun 1992-1996. Ia lalu memilih berguru di Negeri Kanguru untuk peminatan Electrical Enigineering Uiniversity of Queensland Australia pada tahun 2003-2004. Dua tahun berselang, ia lalu hijrah ke Negeri Sakura unuk menjalani program Doktoral di Kumamoto University Japan. Di sana, Syafaruddin mengambil peminatan Computer Science and Electrical Engineering sampai tahun 2009.

Lebih lanjut, Syafaruddin diketahui pernah menerima penghargaan dari Endowed Chair of Kumamoto University atas dedikasinya sebagai  Project Assistant Professor 2010-2011.

  1. Prof Dr Hamzah Halim SH MH

Pria yang saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Hukum Unhas ini lahir di Kanang  Polewali Mandar, 31 Desember 1973.

Hamzah resmi mendapatkan label guru besar sejak Juni 2017, tepatnya di usia 43 tahun. Selain aktif mengajar di Unhas, Hamzah juga  kerap menjadi konsultan hukum di beberapa daerah, dan perusahaan yang ada di Sulawesi Selatan.

Ia pun memiliki prinsip, belajar memang hal yang melelahkan, tetapi akan lebih melelahkan kelak jika saat ini kita tidak mau belajar.

  1. Prof Sukri Palutturi SKM MKes MSc PH PhD

Lelaki kelahiran Tanatoa Jeneponto 29 Mei 1972 ini memang tertarik akan dunia kesehatan. Terbukti, setelah lulus Sekolah Menengah Atas, ia mengambil Departemen Administrasi Kesehatan dan Kebijakan di Unhas. Ia pun kemudian berhasil meraih Strata 2 di Fakultas yang sama pada tahun 2001.

Setelah dua gelar diperoleh di Unhas, Sukri menyelesaikan program master lagi di Griffith University, Australia di bidang Administrasi dan Kebijakan Kesehatan pada tahun 2008.

Di universitas yang sama, Sukri memilih melanjutkan studi doktornya di bidang Administrasi Kesehatan Masyarakat pada tahun 2013.

Di usia 45 tahun, ia pun didaulat menjadi profesor, tepatnya Oktober 2017.

Kini, Sukri menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Sekolah Kesehatan Masyarakat. Selain itu, juga sebagai dosen di Departemen Administrasi Kesehatan dan Kebijakan. Ia dikenal pula sebagai salah satu pakar asuransi kesehatan dan pengembangan kota sehat.

  1. Prof Dr Muhammad SIP MSi

Lahir di Ujung Pandang 17 September 1971, lulusan Universitas Airlangga Indonesia ini adalah pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unhas. Ia juga pernah menjadi ketua Panwaslu RI  periode 2012-2017.

Ia resmi menyandang guru besar sejak tahun 2015 atau di usia 43 tahun. Ia berhasil meraih itu setelah berpidato yang bertajuk “Mewujudkan Akuntabilitas Pemilihan Umum yang Berkualitas dan Berintegrasi melalui Transformasi Sistem Pemilihan Umum”.

Para kaum hawa tampaknya mengidolakannya lantaran parasnya yang selalu tampil segar di setiap kesempatan. Muhammad pun saat ini mendapat amanah sebagai anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) periode 2017-2022.

M04

BACA JUGA