Follow

Melek Kasus Cerpen Suara USU, PK Identitas Unhas Gelar Bincang Literasi

Editor: Wandi Janwar | Senin, 15 April 2019 - 20:55 Wita | 142 Views
Foto: Santika/Identitas

Sebuah cerita pendek (cerpen) yang dimuat di situs suarausu.co milik pers mahasiswa Suara Universitas Sumatera Utara (USU) berujung kontroversi. Cerpen yang berjudul  “Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya” tersebut ditulis oleh Yael Stefani Sinaga.

Pihak birokrasi kampus USU menganggap cerpen ini mengandung unsur pornografi dan mempromosikan kaum LGBT. Sehingga, beberapa pertimbangan itu rektor USU melakukan pemecatan kepada para pengurus Suara USU. Hal inilah yang menjadi buah bibir di kalangan masyarakat.

Melek terhadap kasus itu, PK identitas Unhas mengadakan Bincang Literasi di Lantai Dasar Rektorat Unhas, Senin (15/4). Pada diksusi kali ini, panitia mengusung tema “Ada Apa Dengan Cerpen Suara USU?”.

PK identitas Unhas  mendatangkan tiga pemateri andal, yakni Faisal Oddang (Penulis Novel dan Cerpen), Aslan Abidin (Sastrawan/ Dosen FBS UNM), dan Firmansyah SH (LBH Pers Makassar).

Dalam pemaparannya, Firmansyah, selaku advokat LBH Pers Makassar merasa pemberian sanksi pemecatan itu, kurang pas karena tidak sesuai prosedur dan aturan terkait. Menurutnya, sebuah karya sastra memiliki aturan dan cara tersendiri.

Usai pembicara pertama mengutarakan pendapatnya, Khintan, Redaktur Pelaksana PK identitas yang memandu diskusi, mempersilahkan Aslan untuk menyampaikan pandangannya.

Sebagai seorang Sastrawan, Aslan mengajak mahasiswa untuk berfikir lebih kritis mengenai masalah yang satu ini.

“Sebuah tulisan itu berisi gagasan. Hanya bentuknya yang berbeda.  Menurut Rektor USU, dia mengatakan cerpen USU yang dimaksud  lebih menjurus ke LGBT. Walaupun nyatanya jenis kelamin itu konstruksi sosial yang tentu berbeda dengan kegiatan seksual,” tuturnya.

Di kesempatan yang sama, Faisal Oddang yang merupakan penulis cerpen dan novel juga mengutarakan pendapatnya. Menurut Faisal, sebuah kekuasaan yang berujung kesewenang-wanangan akan mempengaruhi kualitas intelektual.

“Beberapa toleransi yang diilancarkan terancam gagal karena kualitas intelektual tidak memadai, iman yang sok suci, dan kekuasaan yang  sewenang-wenang. Itulah mengapa kita akan menemui di bangsa yang tidak mengajarkan sastra intelektualis dan agama tidak memadai,” jelasnya.

M07

BACA JUGA