Follow

Memaknai Kemerdekaan, Dias Pradadimara: Berpikir Kritis Bukan Teperdaya Slogan

Editor: Renita Pausi Ardila | Minggu, 19 Agustus 2018 - 15:16 Wita | 539 Views
Dias Pradadimara MA. Foto: Arisal

Semarak 17 Agustus telah membanjiri kota dan  pelosok di seluruh Indonesia. Berbagai cara orang memaknai kemerdekaan Indonesia di usianya yang ke 73 tahun ini. Ada yang menggelar acara seremonial upacara pengibaran bendera merah putih dengan berbagai perlombaan. Pegelaran pentas seni, dan  ada juga yang membuka ruang-ruang diskusi dengan mengangkat tema seputar kemerdekaan Indonesia.

Lain halnya dengan dosen sejarah Unhas, baginya memaknai kemerdekaan itu di mulai dari diri sendiri dengan cara berfikir kritis. Berikut petikan wawancara reporter identitas, Andi Ningsi bersama Dias Pradadimara MA, Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Rabu (7/08).

Apa makna kemerdekaan bagi anda ?

Kita saat ini berada di zaman di mana semua negara saling berintegrasi secara global. Sehingga kita harus memaknai kemerdekaan dengan cara modern. Jangan pakai zaman dulu. Merumuskan kemerdekaan itu harus sesuai dengan abad 21. Apa yang paling penting di situ? Yaitu memastikan seluruh rakyat Indonesia memenuhi kebutuhan dasarnya, hak asasi manusianya. Kita harus menaikkan level mereka. Kemerdekaan harus kita rasakan bersama oleh karena itu saya pribadi memaknai merdeka itu bila orang-orang yang terinjak dan terpinggirkan bisa kita carikan jalan untuk memanusiakan manusia. Tidak boleh lagi diinjak, bahkan sesama bangsa sendiri. Telah menjadi tanggungjawab bersama untuk memastikan mereka yang terpinggirkan memiliki akses terhadap sumber daya dan haknya bisa terpenuhi.

Apa yang perlu dipertahankan dari budaya Indonesia dalam meningkatkan integritas bangsa?

Semangat saling menolong yang penting. Menolong yang kurang beruntung. Berempati kepada yang membutuhkan. Mengajarkan anak-anak untuk peduli kepada orang lain. Nah,  itu yang tidak terjadi saat ini. Kita tidak diajarkan bagaimana menciptakan sikap kesetiakawaan sesama bangsa sendiri. Padahal masalah yang paling besar kita saat ini adalah kemiskinan dan itu musuh bersama yang harus dicarikan solusi.

Benar, negara saat ini sudah sangat mudah bertukar informasi bahkan bisa saling mempengaruhi melalui apa saja. Melihat hal ini, bukan berarti kita tidak boleh mendapat pengaruh dari luar. Zamannya sudah berubah sekarang. Jadi kalau kita berpikir memaknai kemerdekaan sama seperti 70 tahun yang lalu maka kita akan jauh ketinggalan. Kita hanya akan jadi korban slogan semata. Lalu apa yang perlu kita jaga? Itu seharusnya pertanyaan yang harus kita perhatikan.

Bagaimana anda melihat orang-orang memaknai kemerdekaan ?

Cukup memprihatinkan. Kita berbicara soal kemerdekaan, soal nasionalisme dan hanya sampai di level slogan. Sementara di balik kata-kata besar itu, kita tidak pernah tahu apa arti sebenarnya. Bahkan parahnya kita sekarang banyak dibohongi oleh slogan-slogan yang sengaja orang cerdas buat untuk menyesatkan. Mungkin nanti saat Indonesia berumur 100 tahun yaitu di tahun 2045, kita akan semakin luar biasa terintegrasi global. Kalau kita tidak benar-benar siap dan cerdas menggunakan akal, maka kita akan jadi generasi yang mudah dibohongi oleh slogan.

Apa masalah besar Indonesia saat ini?

Masalah utama kita selama ini adalah maraknya penggunaan slogan. Berbicara soal kemerdekaan, nasionalisme, dan NKRI itu selalu ada atribut slogan disitu. Seperti “Harga Mati NKRI”, “merdeka 100 persen” dan sebagainya. Slogan seperti itu mungin bermanfaat atau relevan 70 sekian tahun yang lalu. Tetapi zaman sudah banyak berubah. Contohnya, berbagai acara seremonial mengehbohkan ulang tahun Indonesia, berbangga dengan kemerdekaan Indonesia yang ke 73 tahun. Tapi sampai saat ini kita masih makan beras hasil impor. Katanya merdeka 100 persen, teriak sana sini.

Sementara kami orang sejarah tahu persis, sepanjang umur Indonesia dan di masa kolonial sampai masa kemerdekaan selalu impor beras. Memang hanya beberapa tahun di era Soeharto kita tidak impor karena Pak Soeharto seorang yang hidup di masa sulit, jadi ia terobsesi dengan swasembada beras. Jadi itu sebenarnya penyimpangan sejarah. Justru sepanjang Indonesia ada ebih banyak impor beras. Itu contoh bahwa kita termakan slogan lagi. Makanya segala sesuatunya harus ada data.

Mengapa Indonesia identik dengan slogan, apa pemicunya ?

Tugas kita adalah mencerahkan bukan ikut slogan. Permasalahannya juga karena minat baca yang menurun dan akses pendidikan tidak merata. Jadi lima tahun terakhir saya lihat kita hanya dipenuhi dengan slogan-slogan. Ini membuat kita makin tidak cerdas. Hanya kitalah orang-orang yang bisa mengakses pendidikan yang tahu betul apa yang benar dan salah. Saya selalu bilang, kita semua ini disubsidi untuk bisa menikmati segala fasilitas, supaya kita bisa duduk, belajar membaca dan berpikir. Lihatlah mereka yang tidak memiliki akses, seperti sopir grab, tukang batu yang tidak punya kemewahan untuk berpikir yah wajar mereka menerima apa yang disampaikan oleh arus informasi di sosial media mereka. Sebagai orang yang tahu intelektual, tugas kita untuk memikirkan dan mencari solusi permasalahan, bukan tambah slogan dan menyebarkan hoax.

Bagaimana anda mengajarkan cara memaknai kemerdekaan di lingkungan akademik ?

Pertama menunjukkan data yang ada, kemudian mengajak berfikir kritis bahwa ada banyak cara pandang terhadap suatu hal. Bagaimana kita menilainya, tergantung dari mana kita melihatnya.

Apa tugas penting generasi muda untuk indonesia?

Bagaimana penerus bangsa ini merusmuskan kemerdekaan dengan cerdas. Bagaimana kita secara bersama-sama memikirkan dan mencari jalan untuk mereka yang terpinggirkan dan tertindas dapat lebih baik hidupnya. Tantangan lain bagaimana kita dapat membendung banjir slogan. Membendung hoax. Untuk mewujudkan itu, generasi muda harus membaca, membaca dan membaca. Nomor dua berpikir menggunakan akal. Supaya kita memerdekakan diri kita dari slogan dan hoax. Kemampuan baca bangsa kita menurun.

 

Andi Ningsi

BACA JUGA