Follow

Memetik Impian Ke Luar Negeri di Bangku Kuliah

Editor: Fitri Ramadhani | Jumat, 27 Desember 2019 - 08:41 Wita | 686 Views
Arisal/Identitas

Hasrat ke luar negeri tanpa biaya orang tua, terus menggebu dalam pikirannya. Sejak duduk di bangku SMP, cita-cita itu telah dipupuk, meski lima tahun kemudian baru kesampaian ketika sudah di bangku kuliah.

Itulah yang terjadi pada mahasiswa Fakultas Peternakan, Waode Nurmayani. Ia mengaku bila melihat orang lain berprestasi, terkadang merasa terinspirasi. “Bagaimana jika saya di posisi orang yang menginspirasi itu?” pikirnya. Ternyata, pikiran positif ini sangat jitu dalam meraih cita-citanya.

Setelah memasuki bangku kuliah, Yani, begitu ia disapa, terus mencari informasi ke luar negeri kepada dosen, senior yang sekolah di luar negeri.

Mimpi Yani untuk keluar negeri tanpa biaya dari orang tua terwujud. Semester dua, Yani mendapat beasiswa Huayu Enrichment dari Kementerian Pendidikan Taiwan, belajar selama enam bulan Bahasa dan Budaya Cina.

Mengambil cuti di semester dua tentunya akan mendapat hambatan dari pihak fakultas. Syarat evaluasi empat semester adalah 48 SKS. “Tapi, setelah berdiskusi dengan pihak fakultas, saya mendapat izin untuk cuti,” ungkap mahasiswa angkatan 2015 ini.

Gadis kelahiran Wanci, 5 Agustus 1997 tersebut menyampaikan kepada pihak fakultas kalau apa sedang dirintisnya ini bukan untuk liburan, tapi semata beasiswa dari Kementerian Pendidikan Taiwan. “Kasian kalau beasiswa itu hangus. Padahal, saya cuma 18 orang dari Indonesia mendapatkannya. Saya tidak punya jaminan untuk lolos lagi tahun berikutnya,” jelasnya.

Hanya berbekal kemampuan Bahasa Inggris tanpa basic bahasa Mandarin. Orang-orang tempat tujuan Yani sangat minoritas bahasa Inggris. Namun, kendala ini dapat diatasinya.

“Caraku kemarin, cari teman dekat yang bisa Bahasa Inggris. Bisa temani saya jalan-jalan keluar. Jadi saya pake Bahasa Inggris dia terjemahkan ke Bahasa Mandarin kepada orang-orang yang ditemui atau ditemani bicara,” bebernya.

Selain itu, kendala lain dihadapi Yani, jarang mendapatkan makanan halal. “Tinggal bertahun-tahun di daerah yang mayoritas muslim, makanan halal sangat mudah didapatkan. Sebaliknya, di daerah yang minoritas muslim, makanan halal bagaikan makanan langka,” ungkapnya.

Menghadapi hal ini, Yani terpaksa mendekati Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang buka warung. “Ya, saya langganan di warung mereka, meskipun jaraknya jauh  dari apartemen tempat tinggalku. Terpaksa harus  naik bus dengan jarak tempuh sekira 20 menit,” kenangnya.

Sukses keluar negeri pertama, justru menyusul berikutnya. Kala kedua Yani keluar negeri, dia diterima di Peternakan Dengkil Malaysia dengan partial funded. “Pengalaman kedua ini, biaya penginapan dan makan ditangung, dan dikasih uang saku. Transportasi tanggung sendiri, tapi banyak mendapatkan makanan halal,” jelasnya.

Tahun 2019, Yani kembali keluar negeri kali ketiga. Dia mendapat beasiswa dari PT. Charoen Pokphand, perusahaan peternakan terbesar di Indonesia yang berpusat di Thailand. Yani training di Jakarta, lalu magang di PT. Charoen Pokphand Thailand selama dua bulan.

Kemudian, balik ke Jakarta mempresentasikan kegiatan selama magang. Inovasi yang bisa diberikan kepada perusahaan. Setelah presentasi, Yani berangkat lagi ke Thailand-Kamboja.

Delegasi Indonesian Future Leaders Conference (IFLC) di Makassar SulSel Indonesia 2018 ini merasa, pengalaman di Thailand sangat wow. “Menurutku itu berlebihan banget. Ada partpart yang wow sekali. Misalnya makan malam di kapal pesiar sambil berkeliling di sungai-sungai di Thailand,” kenangnya.

Selain mendapat beasiswa ke luar negeri. Sederet prestasi telah diraihnya. Misalnya saja, Juara II Debat Nasional dengan tema mengoptimalkan sumber daya alam Indonesia yang berbasis ekonomi kreatif di Universitas Islam Alauddin Makassar tahun 2016. Penulis terpilih untuk kompetisi menulis cerita pendek nasional oleh Jejak Publisher tahun 2017.

Selanjutnya, Finalis lomba esai nasional tentang antibiotik yang diadakan Kementerian Pertanian Indonesia bekerja sama dengan Food and Agriculture organization (FAO) PBB di Universitas Gajah Mada Indonesia 2017 dan masih banyak lagi.

Salah satu tips Yani untuk lolos ke luar negeri, berani mencoba dan mendaftar meskipun belum lancar berbahasa Inggris. Analoginya, ketika ada event, orang mendaftar punya kesempatan 50% untuk menang, tidak mendaftar sudah tentu 100% tidak lolos.

Selain mencoba, hal yang tidak boleh terlupakan, minta izin orang tua. Meminta izin orang tua adalah tiket untuk berhasil. Mimpi tidak akan begitu besar, jika kamu belum bangun di sepertiga malam, berdoa di keheningan malam.

Kejarlah akhiratmu namun jangan lupakan dunia. Mengejar akhirat, dunia akan mengikuti. Salah satu kunci kesuksesan Yani adalah perbanyak salat dan baca Alquran. Intinya mendekatkan diri kepada Allah.

Yani dapat merasakan perbedaan kesuksesannya ketika mendekatkan diri kepada Allah dan tidak. “Pernah pada masa jahiliyah toh, kita kayak berusaha mati-matian. Sampai- sampai lupa salat, jarang mengaji. Ketika gagal, itu pasti sangat depresi. Beda ketika kita sudah berusaha dan berdoa, tapi gagal, biasanya kita lebih ikhlas,” tuturnya sambil tertawa kecil.

Irmalasari

 

BACA JUGA