Menanti Senja Sambil Belajar

Menurut hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 yang dilakukan oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), menempatkan Indonesia di peringkat 72 dari 77 negara berdasarkan kualitas pendidikan. Hal ini membuktikan bahwa mutu pendidikan di Indonesia masih sangat tertinggal. Banyak faktor yang melatarbelakangi rendahnya kualitas pendidikan kita, mulai dari tidak meratanya sarana dan prasarana, kompetensi tenaga pendidik, hingga tingginya angka putus sekolah.

Di daerah-daerah tertinggal, persentase angka anak putus sekolah masih sangat tinggi. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) mengeluarkan data angka anak putus sekolah di Indonesia pada 2019. Sepanjang tahun itu, sekitar 4,3 juta siswa Indonesia putus sekolah di berbagai jenjang.

Dokumentasi pribadi

BACA JUGA: Bangun Kejayaan Maritim Melalui Organisasi Maritim Muda Nusantara

Melihat kondisi tersebut, Atifatul Qalbi Kadir, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, yang saat itu duduk di bangku kelas XI SMA mendirikan sebuah komunitas bernama Pondok Senja. Komunitas ini bergerak di bidang pendidikan khususnya untuk anak-anak putus sekolah di daerahnya.

Mahasiswa angkatan 2018 ini menceritakan awal mula berdirinya komunitas Pondok Senja. Qalbi mengatakan bahwa komunitas Pondok Senja berdiri untuk menjawab semua keresahannya selama ini. Ia resah melihat tingginya angka putus sekolah di daerahnya yang berada di Pantai Biru Kelurahan Langnga, Pinrang.

“Komunitas ini berawal dari keresahan saya yang tinggal tidak jauh dari lokasi. Timbul akibat mayoritas anak-anak di daerah tersebut putus sekolah atau masih sekolah tetapi terancam putus dan dilabeli sebagai anak pembuat masalah oleh masyarakat setempat,” tuturnya.

Dokumentasi pribadi

BACA JUGA: Jelajah Pelosok, Tingkatkan Kualitas Pendidikan

Komunitas Pondok Senja berdiri pada 22 Mei 2017 dan pertama kali dideklarasikan di SMAN 11 Pinrang. Pondok Senja dipilih menjadi nama komunitas ini karena diambil dari lokasi dan waktu pembelajaran. “Sebenarnya arti dari nama komunitas kami sangat sederhana, diambil dari lokasi kegiatan pembelajaran dan waktu pembelajarannya. Jadi, kami belajar di tempat sejenis pondok yang dipinjamkan oleh masyarakat setempat, dan senja diambil dari waktu selesainya kegiatan yang biasanya ditandai dengan munculnya matahari terbenam,” jelas Qalbi.

Adapun program utama komunitas tersebut adalah Sabtu Sore Seru. Kegiatan ini diadakan sekali seminggu di sore hari pada pukul 16.00-17.30 Wita,  yang bertujuan menumbuhkan motivasi anak-anak untuk bersekolah melalui kegiatan pembelajaran yang menarik, ramah anak, dan aplikatif. Selain itu, mereka juga aktif melakukan upgrading sekaligus mentoring bagi pengurus dan relawan.

Meski banyak komunitas di luar sana yang bergerak di bidang pendidikan khususnya di daerah tertinggal, tetapi Qalbi menuturkan bahwa komunitas ini berbeda. Menurutnya, Pondok Senja melibatkan siswa SMA dan sejenisnya untuk menjadi sumber daya utama. Hal ini mereka lakukan  agar lebih dekat dengan anak-anak dan menumbuhkan kepedulian sosial sejak dini.

Namun, menurut Qalbi, Pondok Senja sebenarnya menerima siapa saja yang mau bergabung selama dapat menjangkau lokasi dan bersedia mengikuti proses relawan. “Sejatinya siapa pun yang berkeinginan untuk ikut dalam komunitas  Pondok Senja diperbolehkan selama orang tersebut dapat menjangkau lokasi,” ujarnya.

Dokumentasi pribadi

BACA JUGA: Lingkar, Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya

Menurut penuturan Qalbi sebagai pendiri Pondok Senja, penduduk sekitar Pantai Biru merespon baik komunitas ini. Terbukti dengan bersedianya penduduk meminjamkan pondok untuk kegiatan belajar mengajar. Bahkan mereka sudah memiliki lokasi pembangunan sekolah Pondok Senja  dan sedang dalam tahap pengumpulan dana pembangunan.

“Respon dari penduduk terutama orangtua sangat baik. Hal ini terbukti dari dipinjamkannya tempat untuk kegiatan kami, bahkan masyarakat turut aktif mencari solusi untuk masalah tempat tersebut. Kini kami sudah memiliki lokasi pembangunan pondok belajar, selanjutnya tinggal mengumpulkan dananya,” jelasnya.

Qalbi berharap dengan hadirnya komunitas ini dapat mengurangi angka putus sekolah. Ia mengatakan bahwa kedepannya tradisi putus sekolah di daerah tersebut dapat berganti menjadi tradisi bersekolah, sehingga anak-anak di sana dapat meraih cita-cita mereka.

“Kedepannya tentu kami berharap bahwa putus sekolah bukan lagi menjadi tradisi di Pantai Biru, digantikan dengan tradisi baru yaitu tradisi bersekolah. Sehingga anak-anak dapat mencapai cita-cita mereka dan survive di masyarakat,” tutupnya.

Finsensius T Sesa

Written by

wandijanwar@gmail.com

No comments

LEAVE A COMMENT