Follow

Menelisik Identitas Suku Bajo

Editor: Fitri Ramadhani | Senin, 25 Februari 2019 - 09:00 Wita | 1143 Views
Istimewa

Indonesia diakui dengan keberagamannya, baik dari segi suku, bangsa, budaya, bahasa, dan masih banyak lagi. Namun, tidak semua memiliki tingkat pamor yang tinggi. Sama seperti suku yang satu ini yakni suku Bajo.

Dosen Antropologi Unhas, Dr Tasrifin Tahara MSi, yang mengaku konsen pada kelompok-kelompok minoritas dan tidak pernah diangkat ke permukaan memiliki ketertarikan lebih meneliti suku Bajo. Dia sudah menerbitkan jurnal mengenai suku ini.

Menurutnya, suku Bajo hingga saat ini masih unik. Keunikannya yang pertama adalah suku Bajo masih mempertahankan identitasnya sebagai suku bangsa laut. Hal ini dikarenakan mereka masih bermukim di atas laut. Memang terdapat sedikit perubahan. Jika dulu mereka bermukim dengan hunian kapal, kini bertransformasi menjadi sebuah rumah. “Saya merasa Bajo ini sebagai suku yang paling absah kita klaim sebagai suku bangsa maritim. Bicara maritim itu suku bangsa Bajo, bukan suku bangsa lain,” tuturnya.

Keunikan kedua, secara historis belum ada titik temu tentang siapa dan dari mana asal sebenarnya orang-orang suku Bajo ini. Sebab, mereka seolah tidak menganggap kehadiran suatu negara. Eksistensi suku Bajo ternyata terdapat di berbagai negara, seperti Filipina, Malaysia, Indonesia, dan Vietnam. Suku Bajo di negara-negara ini meyakini bahwa identitas mereka sama dan menyebut diri mereka sebagai orang Sama, yang berarti sama di mana-mana. Sedangkan orang selain suku Bajo mereka sebut sebagai orang Bagai. Oleh karena itu, mereka merasa lebih dekat dengan sesama suku Bajo walau dari negara lain.

Untuk mendapatkan kredibilitas jurnalnya, Dr Tasrifin melakukan penelitian dengan menggunakan metode etnografi, yakni tinggal bersama, mengamati, bahkan merasakan kebudayaan dari sesuatu yang diteliti. Penelitian ini memakan waktu hampir tiga tahun. Ada 12 pemukiman suku Bajo yang ia kunjungi. Di antaranya terletak di Wakatobi, Mola, Sampenan, dan Selayar.

Melalui metode etnografi itu, dia bisa menjalin kedekatan dengan orang-orang suku Bajo, seperti tokoh adat di sana. Sehingga informasi yang didapatkan bisa dipertanggungjawabkan. “Bahkan saya cukup dekat dengan Presiden Bajo,” ucapnya.

Kenyataan bahwa suku Bajo hanya sebuah suku kecil, bukan berarti mereka tidak mendapatkan perhatian publik. Terbukti dari kesempatan yang diberikan kepada Dr. Tasrifin. Ia diminta memaparkan penelitian suku Bajo di Harvard University. Salah satunya, keunikan suku bangsa Bajo yang tidak menjadikan negara sebagai penghalang dalam batas-batas geografis. Mereka beranggapan bahwa laut adalah milik bersama tanpa batas-batas negara. Sehingga, mereka biasa berlayar, menangkap ikan, tanpa sadar telah melewati batas negara Indonesia dan kemudian dikenakan sanksi oleh negara tetangga.

Problem-problem yang dialami suku Bajo ini sebenarnya bukan hanya problem daerah, tetapi dapat menyangkut problem internasional. Seperti di Wakatobi, beberapa anak suku Bajo yang sempat putus sekolah diberikan beasiswa oleh beberapa anggota parlemen di Malaysia yang notabene adalah orang Bajo. Orang Malaysia itu cukup perhatian kepada mereka bukan karena diplomasi antar negara, tetapi karena diplomasi etnis.

Siapa sangka, penelitian ini kemudian mendapat respon baik. “Yang namanya orang di dunia internasional, menganggap hal-hal unik, isu-isu yang sifatnya humanis, persoalan hak asasi manusia itu selalu bisa mendapat ruang. Sekecil apapun komunitas itu, yang namanya hal-hal yang berhubungan kemanusiaan, yang melihat suku bangsa dengan negara, dan satu bangsa yang akan diberdayakan itu menjadi perhatian positif,” jelas Dr Tasrifin.

Hasil lainnya dari penelitian, ditemukan stereotip mengenai orang-orang suku Bajo yang menjadikan mereka terkucilkan. Dr Tasrifin membenarkan adanya stereotip itu tetapi pada zaman lalu. Stereotip tentang Bajo adalah laut. Orang-orang darat merasa dalam berinteraksi, mereka sebagai kelompok ekonomi, suku Bajo sebagai kelompok penangkap ikan.

Kemudian secara fisik, suku Bajo memiliki kulit hitam gelap, ini jelas saja akibat mereka yang tinggal di atas laut. Kemudian terkena terik matahari terus-menerus. Ada pula stereotip orang Bajo adalah orang bodoh, hal ini dikarenakan mereka tidak memiliki akses pendidikan. Semua itu pernah terjadi.

Tetapi kini stereotip itu dapat pudar dengan adanya peran-peran yang dilakukan oleh orang Bajo, yakni peran-peran yang memasuki ruang pendidikan. Mereka sudah ada yang berpendidikan tinggi hingga meraih gelar doktor.

Mereka sudah masuk pada ruang yang sama dengan bangsa lain, dari aspek akses pendidikan, ekonomi, politik, birokrasi, dan hubungan internasional. Semua aspek itu sangat potensial untuk berkembang. Apalagi jaringan kesukuan di negara lain juga skill memanfaatkan sumber daya bisa membantu mereka mengelola ekonomi yang berkelanjutan dengan baik dan tidak merusak alam.

Melalui penelitian yang dilakukannya, Dr Tasrifin ingin menyampaikan pesan tersirat kepada masyarakat dan pemerintah. “Dalam hidup berbangsa dan bernegara, marilah kita mengapresiasi kelompok-kelompok suku bangsa sekecil apapun. Karena mereka punya andil dalam kerang kan kebangsaan ini, dalam kerangka ke-Indonesia-an ini. Indonesia besar karena keberagaman. Tidak ada satu suku bangsa pun yang menjadi masyrakat kelas dua. Semua punya hak dan kesempatan yang sama. Untuk pemerintah, kita bisa menjadikan masyarakat Bajo sebagai garda terdepan pembangunan benua maritim Indonesia ini,” jelasnya.

Muflihatul Awalyah

BACA JUGA