Follow

Mengenang Profesor Lawalenna Samang, Putra Terbaik Unhas

Editor: Khintan | Senin, 19 Agustus 2019 - 10:20 Wita | 118 Views
Istimewa

Profesor Lawalenna Samang MS M Eng bergegas menuju suatu mal di Makassar untuk memenuhi janji makan malamnya bersama sang istri,Dr Nurdjannah Hamid, M Agr. Saat tiba di parkiran mal, Sabtu petang, (16/5/2019) lalu, serangan jantung menghujam organ vital guru besar departemen teknik sipil tersebut. Lelaki kelahiran Empagae, Sidrap 31 Desember 1960 itu pun segera dilarikan ke Rumah Sakit Grestelina. Sayang, putra terbaik Unhas tersebut berpulang di usianya yang ke-59 tahun.

Semasa hidup, Lawalenna telah banyak berkontribusi untuk Unhas, utamanya di akhir tahun 2018. Ia menjadi salah satu dosen yang membantu Unhas dalam mencapai target publikasi terindeks scopus. Lelaki yang mulai mengabdi sebagai dosen Unhas sejak tahun 1985 tersebut menjadi satu dari sebelas penulis paling produktif. Ia tercatat mempublikasikan sepuluh hasil penelitian.

Selain sepuluh hasil penelitian itu, Lawalenna juga memiliki ratusan publikasi lainnya, baik yang ia tulis sendiri maupun bersama partner akademik dari Indonesia dan luar negeri. Tulisan ilmiah lelaki yang memperoleh doktor di Universitas Saga Jepang tersebut dapat ditemukan melalui akun google scholar, Lawalenna Samang. Di akun itu terdapat beragam penelitian Lawalenna dari tahun 1990an.

Dari pernikahannya bersama Nurdjannah, Dosen Departemen Manajemen, mereka dikaruniai tiga orang anak. Anak pertama mereka, dr Nirwana, Ph D juga berprofesi sebagai dosen di Unhas, yang kedua berkuliah di Inggris untuk meraih gelar Ph D. Adapun anak bungsu mereka, Muhammad Firman Walenna sedang menempuh jenjang S1 manajemen di Unhas.

Lawalenna meninggalkan bekas tak terlupakan di ingatan anak ketiganya itu. Firman mengatakan, kerja keras adalah pesan yang paling membekas dari sang ayah. Hal tersebut pun menjadi pegangan hidupnya.

“Bapak suka mengingatkan kalau dia yang dulunya hidup dalam keterbatasan materi saja tetap berusaha keras dan alhamdulillah sukses. Artinya,saya dan dua kakak saya harus bisa lebih bekerja keras dan sukses karena kecukupan materi yang kami miliki,” katanya kepada identitas.

Firman mengaku, sang ayah sering bercerita soal perjuangannya saat masih kecil. Lawalenna kecil harus menjual telur sembari bersekolah agar dapat membiayai hidup dan pendidikannya. Perjuangan sejak kecil itulah yang menjadi cermin perilakunya saat dewasa.

Di masa-masa hidupnya, Firman sering mendapati Lawalenna bekerja tidak kenal lelah hingga membuatnya selalu tidur pada larut malam karena mengerjakan penelitian atau proyek lainnya. Tak hanya pekerja keras, Lawalenna juga merupakan orang yang disiplin dan bertanggung jawab. Ia selalu menerima mahasiswa untuk konsultasi skripsi dan disertasi tanpa batasan waktu, pagi atau malam.

Sikap kerja keras dan disiplin itu juga membuka jalan baginya untuk menduduki beberapa jabatan. Di antaranya, Kepala Laboratorium Mekanika Tanah (1997-2003), Ketua Jurusan dua periode (2002-2006 dan 2010-2014), dan pengurus Ikatan Alumni Teknik (Ikatek) UH sebagai anggota Majelis Pakar Ikatek (2014-2018).

Mahasiswa lulusan terbaik Unhas di masanya itu juga memiliki pengalaman organisasi yang cukup aktif. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (HATTI) Sulsel, Ketua Ikatan Ahli Teknik Penyehatan Indonesia (IATPI) Sulsel, Wakil Ketua Himpunan Ahli Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI) Sulsel, anggota Dewan Pakar MTI dan MASKA Sulsel. Tak hanya itu, ia juga pernah menjabat Sekjen Badan Musyawarah Pendidikan Teknik Sipil Seluruh Indonesia (Bamus PTSSI) tahun 2010-2014 dan menjadi bagian dari Majelis Pertimbangan Badan Musyawarah Pendidikan Tinggi Teknik Sipil Seluruh Indonesia (BMPTTSSI) Periode 2015-2019.

Meski dikenal pekerja keras, Lawalenna tidak menjadi sosok yang lupa keluarga. Firman menceritakan salah satu momen kedekatannya bersama sang ayah yang sering mengajaknya berdiskusi.

“Bapak dulu cukup sering bercerita tentang bidang tekniknya karena kakak saya yang laki-laki juga di teknik sipil dan ia juga sering bercerita bagaimana dulu pengalaman kuliahnya,” kenang Firman.

Raga Lawalenna memang tidak lagi ada di dunia ini. Namun, sifat-sifat baik yang dimilikinya akan selalu diingat oleh kerabat dan keluarga. Kesuksesan yang diperoleh bukan tanpa makna. Anak-anaknya memaknai kesuksesan itu dengan bijak melalui kasih sayang yang ia torehkan.

Muflihatul Awalyah

BACA JUGA