Follow

Menggugat Pola Hidup yang Serba Cepat

Editor: Ayu Lestari | Selasa, 24 Juli 2018 - 05:30 Wita | 186 Views
ilustrasi : Renita Pausi Ardilla

Salah satu jurnalis asal Kanada, Carl Honore pernah menulis bahwa “We are living a fast life, instead a good life,”. Penulis buku berjudul “In the Praise of Slowness” ini telah memberikan inspirasi orang – orang di berbagai belahan dunia untuk menerapkan slow living movement. Gerakan ini pada awalnya terilhami dari protes besar – besaran di Roma, Italia pada tahun 1986. Bermula dari Carlo Petrini yang memprotes pembukaan gerai makanan cepat saji (fast food) di ibu kota Italia tersebut.

Seiring waktu, gerakan ini akhirnya berkembang menjadi sub-kultur di berbagai ranah, mulai dari gerakan slow foodslow parenting, slow fashion, slow traveling hingga slow career. Pada dasarnya, gerakan ini hendak mendorong si individu agar memiliki kehidupan yang  bermakna. Oleh karena itu, gerakan ini sejatinya bukan mengajak kita untuk melakukan segala hal dalam tempo lamban serupa keong, namun mengarahkan kita agar menemukan ritme hidup yang tepat, bukan yang dipercepat. Kecepatan sesuai dengan kebutuhan, alias “the right speed for the right things”.

Kecepatan dan Terciptanya “Masyarakat Diam”

Ada banyak perubahan radikal yang sedang kita alami sekarang sebagai implikasi dari penerapan logika kecepatan. Kini orang tidak perlu lagi ke toko untuk membeli pakaian, perabotan atau kendaraan karena kita dapat membelinya di “toko virtual”. Kini orang tidak perlu lagi memasak atau pergi membeli makanan, sebab orang dapat memesannya via Go-Food/Grab-food. Bahkan nyaris seluruh proses transaksi ekonomi kini dapat dilakukan melalui satu aplikasi virtual ; bayar asuransi, bayar tagihan, bayar iuran hingga bursa saham.

Di sektor lain semisal pendidikan, mahasiswa Indonesia  tak perlu lagi jauh – jauh menghadirkan fisiknya di kampus Harvard, MIT, atau Cambridge, sebab kini telah hadir sebuah metode belajar jarak jauh melalui platform bernama MOOC. Ataukah untuk sekedar mencari ilmu saja tanpa mempedulikan kualifikasi ijazah, maka pada hakikatnya seseorang tak perlu lagi sekolah atau kuliah, sebab kini cukup dengan berguru kepada “Profesor Google” maka apapun bisa kita ketahui.

Syahdan, di era masyarakat post – industri hari ini, nyaris seluruh aspek kehidupan kita telah bersentuhan dengan sistem elektronik (online). Hal ini menyebabkan pergeseran pola hidup dari pola ekspansif (penjelajahan) menuju pola implosif (penghisapan). Seumpama sistem peredaran orbit, dimana manusia yang menjadi pusat gravitasinya lalu akan dikitari oleh berbagai kebutuhannya (makanan, kendaraan, pengetahuan, hiburan).

Ilustrasinya seperti ini. Ketika Anda mau makan, berpergian, membeli atau mengantar barang, maka cukup dengan memesan Grab atau Go-jek, semuanya dapat terpenuhi. Tatkala Anda mau bayar tagihan listrik, tagihan air, tagihan telepon, cicilan motor, cicilan rumah, asuransi kesehatan, maka anda tak perlu panas – panasan keluar rumah, sebab cukup dengan menggunakan Pay-Tren (ini bukan promosi), semua bisa teratasi. Anda cukup duduk cantik saja di rumah, kebutuhan anda segera menghampiri.

Maka pada titik tertentu, potret kehidupan seperti ini akan membentuk apa yang diistilahkan oleh Paul Virilio (1989) sebagai masyarakat diam (society of the sedentarisness) atau masyarakat tontonan (society of the spectale) kata Guy Debord (1983). Mengapa demikian? sebab kini bukan lagi manusia yang bergerak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tetapi kebutuhan itu sendiri yang akan bergerak menghampiri si manusia. Semuanya dapat kita raih hanya dalam satu genggaman di gawai kita.

Kecepatan dan Kehidupan Autentik yang Memudar

Pola kehidupan masyarakat perkotaan (modern) yang disesaki dengan berbagai rutinitas yang padat dengan sendirinya akan “memaksa” individu agar menjalankan aktivitasnya dengan cepat (prinsip efisiensi. Namun pertanyaan sederhananya adalah apa sejatinya yang hendak dicapai dari pola hidup yang serba cepat ini ?.

Sungguh durasi dan tempo kehidupan yang serba cepat nun instan tanpa disadari dapat menggiring manusia kepada sebuah situasi kehidupan yang dangkal, hampa dan nir-makna. Hal ini disebabkan karena manusia tak lagi memiliki jeda waktu untuk menghayati dan mengevaluasi berbagai aspek kehidupannya. Mereka hanya menenggelamkan diri pada rutinitas yang padat, namun nihil aspek hakikat (Wesen).

Di tengah denyut kesibukan masyarakat modern, mungkin tak seorang pun lagi menyempatkan diri untuk menginsafi kesehariannya (conditio humana). Barangkali kita tak lagi menyaksikan orang tua yang sempat mengantarkan anaknya ke sekolah karena telah diantar oleh transportasi online, tak lagi mencicipi ke-khas-an masakan ibu karena kehadiran fast food dan delivery food, bahkan mungkin tak ada lagi tegur sapa antar tetangga dan teman sebaya di dunia nyata, karena kita sudah saling berjumpa di dunia maya.

Maka mengembalikan kehidupan yang autentik adalah jalan keluar dari arus kehidupan yang banal dan serba cepat ini. Yaitu sebuah gambaran kehidupan dimana manusia berperilaku sebagai manusia bukan sebagai mesin. Heidegger (filsuf Jerman) telah berpesan agar kita senantiasa menghadirkan kesadaran dalam segala sesuatu (proses meng-ada), dengan lingkungan (Umwelt), dengan orang lain (Mitwelt), terutama diri sendiri (Selbswelt).

“Santai mki, dunia ji ini.” Satir ala orang Makassar.

 

Penulis : Achmad Faizal 

Kordinator Kajian Strategis KAMMI Makassar

Tahun 2017 – 2019

 

BACA JUGA