Follow

Menikah Bermaharkan Buku, Patahkan Tradisi Bugis-Makassar

Editor: Urwatul Wutsqaa | Jumat, 27 Maret 2020 - 17:00 Wita | 1754 Views
identitas/ Santi Kartini

Pernikahan merupakan sesuatu yang sakral dalam kehidupan seseorang karena hanya dilakukan sekali seumur hidup. Indonesia dikenal memiliki keberagaman budaya, termasuk tradisi pernikahan yang berbeda-beda di setiap daerah. Selain beragam, beberapa daerah memiliki tradisi yang unik dalam pelaksanaan pernikahan.

Adat pernikahan masyarakat Bugis-Makassar misalnya. Dalam tradisi mereka, dikenal istilah uang panai. Uang panai adalah sejumlah uang yang harus diserahkan oleh calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita sebagai tanda keseriusan meminang wanita pujaannya. Jumlah uang panai yang diberikan biasanya ditentukan atas kesepakatan keluarga kedua calon mempelai.

Tradisi uang panai ini selalu menjadi hal menarik untuk dibicarakan. Bagaimana tidak? Hampir setiap saat kita disuguhi berita viral tentang pernikahan dengan uang panai ratusan juta rupiah. Salah satu yang menarik perhatian netizen baru-baru ini terjadi di Kabupaten Bantaeng. Uang panai 300 juta rupiah, tanah satu hektar, emas satu stell, beras satu ton dan seekor kuda menjadi mahar yang diberikan calon mempelai pria. Besarnya uang panai yang diberikan menjadikan uang panai seakan menjadi ajang adu gengsi dalam masyarakat Bugis-Makassar.

Namun, Alghifahri Jasin, mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin berhasil mematahkan semua itu. Agi sapaan akrabnya, menikahi kekasihnya, Feranda, Senin (23/12/2019) dengan mahar sebuah buku dan seperangkat alat salat, tanpa uang panai sepeser pun.

Saat ditemui di kediamannya, Selasa (24/2), Agi membeberkan alasan ia menikahi kekasihnya dengan mahar tersebut. Ia terinspirasi dari kisah Muhammad Hatta, Wakil Presiden pertama Indonesia yang menikahi istrinya dengan sebuah buku yang ditulisnya sendiri.

Agi mengaku, mengetahui hal tersebut sejak duduk di bangku Sekolah Menegah Atas (SMA) dan berpikir akankah ada wanita yang seperti istri Muhammad Hatta. “Saya terinspirasi dari Muhammad Hatta dan dari awal juga berjanji kepada diri saya bahwa jika saya menikah saya ingin menikah dengan memaharkan wanita itu dengan buku dan perangkat salat,” ujarnya.

Selain itu, Agi berpikir bahwa ia tidak memiliki harta selain buku. Dengan buku, ia merasa mewah. Sebenarnya, Agi berencana memberi mahar dengan dua belas buku, namun hal tersebut ditolak oleh Feranda, istrinya. Feranda mengaku, ia akan merasa kesulitan menjaga dua belas buku nantinya. Selain itu, Feranda juga ingin ditunggalkan. Akhirnya Agi memilih satu buku saja untuk dijadikan mahar, sebuah Ensiklopedia Indonesia.

Pasangan muda ini pertama kali bertemu pada bulan Agustus 2019. Waktu pertemuan hanya berselang 4 bulan dengan pernikahan mereka. Waktu yang sangat singkat untuk memutuskan mengucapkan ijab kabul, hal yang sangat sakral.

Menurut Agi, keputusan tersebut dilandasi rasa posesif. Ia mengaku sangat takut kehilangan kekasihnya itu. Menurutnya, menikah adalah menyatukan dua pemikiran dan Feranda memiliki pikiran yang membuat Agi kagum kepadanya. ”Saya kagum dengan pemikirannya, saya orangnya sangat posesif, saya tidak mau kehilangan dia,” ujarnya.

Dengan tekad yang bulat dan mental yang siap ditolak oleh orangtua Feranda, Agi menemui kedua orang tua kekasihnya itu yang terbilang sangat terpandang. Bagaimana tidak, dalam istilah Bugis-Makassar, keluarga Feranda adalah keturunan karaeng.

Selain mahar yang sederhana, pasangan Alghifahri dan Feranda ini juga tidak menggelar resepsi seperti pada umumnya yang mengundang banyak orang. Mereka hanya melangsungkan ijab kabul di Kantor Urusan Agama (KUA) dengan disaksikan keluarga dari kedua mempelai dan teman- teman dekat mereka.  Teman- teman yang hadir pada saat itu pun tidak mendapat undangan.

“Kami tidak mengundang. Ijab  kabul disaksikan keluarga saya dan keluarga istri. Kalau dari teman- teman sendiri kami memang tidak membuatkan undangan khusus, hanya memanggil mereka langsung,” jelasnya.

Agi yang merupakan sahabat Alfian Dipahattang dan Faizal Oddang ini mengaku tidak ingin menggelar resepsi karena tak ingin merepotkan banyak orang.

Rupanya menikah di usia yang masih sangat muda saat masih berstatus mahasiswa bukan tanpa masalah. Tak jarang mereka mendengar omongan miring dari orang-orang terkait keputusan mereka menikah muda. Namun, Agi dengan tegas membatah hal tersebut. “Kalau saya menikah karena kecelakaan, tentu istri saya sudah lama hamil, tapi kenyataannya kan tidak,” pungkasnya.

Irmalasari

BACA JUGA