Follow

Meningkatkan Produksi Sapi Bali dengan Teknik In Vitro

Editor: Urwatul Wutsqaa | Senin, 30 Maret 2020 - 19:00 Wita | 158 Views
Ilustrasi : Finsensius

Sapi merupakan salah satu komoditas menjanjikan di Indonesia. Hal itu diungkapkan oleh Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (TAB BPPT), Soni Solistia Wirawan. Menurutnya, daging sapi merupakan komoditas potensial yang menyumbang 18 persen terhadap konsumsi daging nasional.

Pada tahun 2017, total konsumsi daging sapi Indonesia sekitar 720.225 ton, dengan perhitungan bahwa jumlah penduduk sebesar 261.900.000 orang dan konsumsi daging sapi sebesar 2,75 kg/kapita/tahun. Namun, konsumsi daging tersebut tidak sejalan dengan produksi daging sapi dalam negeri yang hanya mencapai 437.300 ton.

Oleh karena itu perlu upaya untuk meningkatkan produksi daging sapi di dalam negeri, salah satunya adalah menggunakan metode pengembangan teknologi produksi embrio secara in vitro. Seperti yang dilakukan oleh Prof Dr Ir Herry Sonjaya DEA DES bersama dengan rekannya, Hasbih. Dalam penelitiannya yang berjudul “Potensi Teknik Produksi Embrio In Vitro untuk Meningkatkan Bibit Sapi Bali”, Herry berhasil memproduksi embrio in vitro yang dapat digunakan untuk memelihara dan meningkatkan kualitas genetik sapi Bali.

Terobosan tersebut terdiri dari pematangan in vitro (IVM), fertilisasi in vitro (IVF) dan kultur in vitro (IVC). Ketiga proses itu telah dipelajari menggunakan oosit sapi Bali dengan tingkat kematangan mencapai 91,53 persen, sedangkan tingkat pembuahan dan pembagian adalah 68 -70,03 persen dan embrio in vitro kultur sapi Bali mencapai 32 tahap blastokista sel.

Riset yang dilakukan di Laboratorium Pusat Penelitian Fertlisasi In Vitro dan Embrio Hewan, Unhas ini telah diaplikasikan di Maiwa Breeding Center, Enrekang. Meski penelitian seperti ini telah dilakukan sebelumnya, Herry mengaku risetnya masih sangat jarang dan Unhas lebih memfokuskan pada jenis sapi Bali.

“Ada teknologi yang dapat memproduksi embrio secara in vitro dan ini adalah pertama kalinya di Unhas. Meski di Jawa sudah ada dan kebanyakan yang berhasil itu sapi perah. Kalau kita sedang kembangkan pada jenis sapi Bali,” ujarnya.

Aplikasi produksi embrio in vivo dan in vitro memang masih perlu dikaji, sehingga teknik ini dikembangkan untuk mempercepat peningkatan populasi dan kualitas genetik sapi Bali. Salah satu terobosan baru adalah dengan menerapkan teknologi produksi embrio in vitro (IVEP). Teknologi produksi embrio di laboratorium ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan teknologi produksi embrio in vivo. Pertama, IVEP dapat digunakan pada sapi bermasalah seperti sapi yang gagal menanggapi pengobatan superovulasi. Kedua, IVEP dapat digunakan untuk menyelamatkan potensi genetik sapi yang sakit yang tidak diharapkan untuk merespon produksi embrio konvensional. Ketiga, semen dari sapi jantan yang berbeda dapat digunakan untuk membuahi oosit hasil panen dari ovarium sapi betina, yang menghasilkan banyak oosit dan berpotensi dibuahi oleh sperma dari berbagai sapi jantan menjadi embrio. Keempat, oosit untuk IVEP dapat diperoleh dari ovarium donor hidup menggunakan ovum pick up (OPU) atau dari ovarium sapi potong.

Adapun metode yang dilakukan untuk pengembangannya adalah mengambil ovarium dari rumah potong hewan, kemudian dicacah untuk diambil oosit yang berkualitas bagus dan dimatangkan diinkubator. Selanjutnya, sperma beku yang menjadi bahan dasar dilakukan vertilisasi dan kultur. Lalu diamati perkembangannya setiap dua hari dan diperiksa hingga tahap blatosis.

Penelitian teknologi produksi embrio in vitro ini telah dilakukan selama tiga tahun terakhir.  Dalam penelitian di laboratorium Unhas, oosit yang digunakan berasal dari RPH. Faktor-faktor untuk karakter yang berperan penting dalam keberhasilan kematangan oosit in vitro adalah kualitas oosit, waktu maturasi dan media kultur yang digunakan. Di mana keberhasilan pematangan oosit sangat ditentukan oleh kualitas oosit pada awal proses pematangan.

Prof Herry menjelaskan bahwa sejak vertiliasi hingga siap untuk dikembangkan, teknologi tersebut membutuhkan waktu delapan hari. Setelah itu, dilakukan penanaman ke induk betina resien sebagai penerima. Saat ini, ia berencana mengembangkan teknologi hasil risetnya ke kabipaten Takalar.

“Sekarang kita rencanakan dengan menyusun proposal LPDP dan akan dikembangkan di Takalar. Hingga saat ini dana yang telah digunakan sekitar 100 juta rupiah yang bersumber dari dikti dan Unhas,” pungkasnya.

Wandi Janwar

BACA JUGA