Follow

Menjadi Bijak dengan Filsafat Stoa

Editor: Khintan | Rabu, 11 September 2019 - 16:23 Wita | 101 Views
Foto: Santi Kartini/Identitas.

Pernah merasa khawatir terhadap sesuatu yang belum terjadi? Ataukah Anda pernah merasa khawatir tetapi tidak tahu apa penyebabnya? Pertanyaan-pertanyaan seputar rasa khawatir tersebut bisa ditemukan di dalam buku Filosofi Teras ini. Dan bagaimana Anda harusnya bersikap terhadap rasa khawatir itu.

Penulisnya, Henry Manampiring, menulis buku ini berdasarkan pengalaman pribadinya, yang sangat sering merasa khawatir, mudah marah dan negative thinking. Hingga suatu hari, sikapnya itu telah mengganggu diri dan lingkungannya lebih dalam. Ia pun menemui dokter ahli jiwa dan dia divonis terkena Major Depressive Disorder atau depresi.

Lalu dia ‘iseng-iseng’ membuat survei khawatir melalui akun instagramnya. Ada 3.634 responden terbukti merasa khawatir tentang banyak hal dengan tingkat kekhawatiran yang berbeda. Mulai dari khawatir akan sekolah/perkuliahan, pacaran/menikah, pekerjaan/bisinis, mengenai keuangan, sosial dan politik hingga kekhawatiran sebagai orang tua.

Ditengah pengobatan yang ia jalani, bapak satu anak ini menemukan buku How to Be a Stoic yang ditulis Massimo Pigliucci. Buku itu membahas tentang bagaimana menerapkan filsafat stoisisme. Setelah membaca buku tersebut, dia pun merasa lebih tenang, damai, tidak mudah stres dan bisa mengendalikan emosinya. Kejadian-kejadian itulah yang mendorong Henry menulis buku tersebut.

Buku kedelapan yang ditulis Henry ini membedah prinsip-prinsip Filsafat Stoa dengan bahasa yang asyik, dan mudah dipahami. Sehingga membaca filsafat tidak lagi membuat kepala mumet dengan segala teori yang bagi sebagian orang sulit untuk dipahami. Ada beberapa prinsip filsafat stoa yang Henry bagikan di antaranya; dikotomi kendali, hidup selaras dengan alam, dan bagaimana merespon opini orang lain.

Membaca tulisan lelaki yang kerap disapa Oom Piring ini seakan menyadarkan kita bahwa hidup yah memang penuh dengan masalah. Jadi, nggak usah lebay. Sebab semua orang juga pasti pernah tertimpa masalah. Hal itu beriringan dengan prinsip filsafat stoa bahwa manusia mesti hidup selaras dengan alam.

Bahkan ketika kita tertimpa suatu musibah semisal kehilangan barang berharga, sebaik mungkin kita harus berpikiran bahwa kejadian itu memang sudah seharusnya terjadi. Dengan begitu, maka hidup saya sudah selaras dengan alam. Memang berat kehilangan barang berharga, tetapi semua itu hanya titipan. Alam yang punya hak mengatur segalanya.

Selain itu, demi mengurai rasa kesal, sedih, dan segala macam emosi yang berkecamuk, filsafat stoa menawarkan prinsip dikotomi kendali. Termasuk kehilangan barang berharga tersebut. Dikotomi kendali terdiri atas sesuatu yang bisa manusia kendalikan atau kontrol dan sesuatu yang tidak bisa manusia kendalikan.

Hal-hal yang dapat manusia kendalikan hanyalah dirinya sendiri; pikiran, hati, dan perasaan. Sedangkan hal yang tak bisa dikontrol manusia ialah segala sesuatu yang berasal dari luar dirinya. Mulai dari kehilangan harta berharga ataupun pendapat orang lain.

Filsafat Stoa mengajarkan agar manusia lebih berfokus pada hal-hal yang dapat ia kontrol sendiri, yakni hati dan pikiran. Sehingga seseorang dapat merespon masalah atau peristiwa menyakitkan yang terjadi di hidupnya dengan lebih jernih. Sebab manusia lah yang berkuasa terhadap respon yang akan dia berikan terhadap masalah atau suatu kejadian.

Jadi, menurut filsafat stoa, sebenarnya setiap orang bisa merespon masalah dengan hati yang damai dan tenang. Tidak melulu dengan amarah yang meluap-luap atau kesedihan yang berlarut-larut.

Terkait pendapat atau opini orang lain terhadap diri kita yang mana sebagian besar orang sangat terganggu dan sangat memikirkan opini orang lain tentang apa yang sedang dia lakukan saat ini. Dikotomi kendali tersebut adalah cara ampuh untuk melawan opini-opini tersebut. Bahwa opini orang lain tidak berada pada ranah kontrol kita sebagai manusia, maka kita tidak perlu memikirkannya. Hal yang mesti difokusi adalah bagaimana kita menjadi versi terbaik dari diri kita.

Marcus Aurelius, salah satu pemikir Stoa pernah berkata “kita selalu kagum, kita selalu mencintai diri sendiri. Namun, justru peduli dengan pendapat orang lain”. Meski begitu, Nasihat dan opini yang membangun dan memperbaiki diri tetap harus kita hormati dan didengarkan.

Filsafat Stoa ini hadir sejak 2000an tahun yang lalu. Bahkan sebelum agama Kristen dan Islam ada. Filsafat tersebut dapat menjadi sebuah pertimbangan dalam mengambil keputusan. Pada hakikatnya, filsafat ini bertujuan untuk menjadikan manusia sebagai makhluk yang bijak dan terhindar dari segala emosi negatif.

Buku ini sangat cocok bagi kamu yang sering mempertanyakan eksistensi dirimu dan mencari jati diri. Oiya, beberapa ilustrasi dan wawancara khusus dengan beberapa ahli jiwa dan orang-orang yang menerapkan filsafat stoa dalam hidupnya menjadikan buku ini bacaan wajib bagi kaum muda. Selamat membaca!

Data Buku :

Judul : Filosofi Teras
Penulis : Henry Manampiring
Tahun Terbit : 2019
Jumlah Halaman : 320

Reporter: Santi Kartini

BACA JUGA