© Copyright Identitas 2020
 

Menulis adalah Meditasi

Menenekuni dunia jurnalistik dan sastra adalah hal yang menyenangkan bagi Erni Aladjai. Semasa kecil ia sudah menenggelamkan diri dalam berbagai buku cerita rakyat Jawa yang terdapat di perpustakaan sekolahnya. Wanita yang merupakan alumni Sastra Perancis Unhas ini pun mengaku telah memulai karier menulisnya sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.

“Saya mulai belajar menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar. Kala itu, saya iseng menuliskan cerita pendek berjudul ‘Harimau yang Sedih di Dalam Hutan’ untuk mengikuti lomba mengarang mewakili sekolah. Untungnya, ceritaku lolos ke tingkat kecamatan, dari sana lah  awal mula saya ingin menulis lagi,” kenangnya.

Nyatanya, perjalanan karier manulis Erni sempat terputus tatkala dirinya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ketika berseragam putih biru, gadis kelahiran Banggai Kepulauan ini memutuskan untuk berdagang. Alhasil, ia tidak lagi fokus di dunia tulis menulis.

Ketika beranjak ke bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), Erni kembali ke hobi lamanya. Ia menuliskan beberapa opini di koran lokal perihal banyak hal, seperti dunia persahabatan antar remaja dan lain sebagainya. Wanita yang lahir pada tanggal 7 Juni 1985 tersebut menulis karena merasa terpanggil untuk menceritakan hal-hal yang membuatnya gelisah.

“Saya memilih nyemplung di dunia tulis-menulis karena saya merasa harus menceritakan hal-hal yang menjadi kegelisahan saya. Ketika SMA, ada teman saya pakai narkoba, di kelas dia ngantuk. Saya menulis, karena hal itu adalah kegelisahan di sekitarku,” tuturnya.

Kegelisahan juga menjadi alasan mengapa Erni masih terus menulis hingga kini. Namun, dalam hal menuangkan kegelisahannya dalam suatu tulisan, wanita yang pernah diundang di Makassar International Writers Festival pada 2011 ini lebih tertarik untuk memilih fiksi sebagai mediumnya. Menurutnya, beberapa peristiwa sensitif akan lebih beresiko jika ditulis di medium jurnalistik.

“Biasanya ada beberapa peristiwa sensitif yang beresiko jika ditulis di dunia jurnalistik. Oleh karena itu, saya memilih berbicara di medium fiksi meski nyatanya kita sedang membicarakan persoalan yang nyata. Melalui medium fiksi, orang akan lebih mudah menerima dikarenakan mediumnya yang lebih nyaman,” ujar Erni.

Tumbuh di keluarga yang memeluk agama yang berbda, yaitu Islam dan Kristen, membuatnya belajar banyak hal. Ia mengaku sedih melihat tingginya  intoleransi agama di daerah sehingga antara kedua agama tampak tidak berbaur. Fenomena inilah penyebab awal mula konflik terjadi. Atas kegelisahan tersbut, wanita pemenang ungulan dalam Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012 ini bahkan sempat menuliskan sebuah cerita pendek yang menceritakan tentang seekor Anjing yang menyaksikan kematian seorang pengurus masjid.

“Cukup disedihkan bahwa kedua agama yang tidak berbaur itu adalah akar dari konflik yang ada. Kala itu di bawah hujan deras, saya menceritakan bahwa anjing itu menggonggong meminta bala bantuan. Metaforanya itu kita tidak bisa mengatakan bahwa anjing adalah simbol orang Kristen, tapi kita harus menolong sesama,” pungkasnya.

Kegelisahan yang Erni sering jadikan sebagai bahan tulisan itu tidak berarti membuatnya terbebas dari riset. Seorang pengarang tentu melakukan sebuah riset, termasuk penulis fiksi. Seorang pembaca itu tidak ia ibaratkan sebagai kotak kosong, baginya menulis fiksi tidak hanya mengandalkan imajinasi belaka.

Ketika disinggung perihal kegiatannya sebagai seorang peneliti, wanita yang pernah berpartisipasi dalam kegiatan World Culture Forum di Bali ini mengaku bahwa penelitian adalah hal yang independen. Ia terbiasa meneliti sesuatu karena ditugaskan oleh lembaga kebudayaan, perusahaan, lembaga pemerintah, dan lembaga lainnya yang tidak bisa ia sebutkan untuk menjaga rahasianya.

Meneliti bagi wanita yang dikenal berkat karyanya yang berjudul “Pesan Cinta dari Hujan”  ini ibarat bertandang ke suatu tempat dan dituntut untuk mengosongkan pengetahuan.  Dengan adanya penelitian, ia belajar perihal nilai-nilai dan strategi yang dimiliki oleh daerah tersebut. Baginya, penelitian bukan berarti kegiatan berkunjung untuk memberikan saran.

Penelitian yang terakhir ia lakukan adalah persoalan literasi kebudayaan masyarakat pesisir. Seiring dengan penelitian yang dilakukannya, ia mengaku menjelajahi banyak tempat, yaitu ke Papua, Aceh, Mataram, Pontianak.

“Penelitian saya yang terakhir kali itu adalah perihal kehidupan masyatakat pesisir. Saya keliling ke beberapa kota, yaitu ke Papua, Aceh, Mataram, Pontianak. Penelitian itu di luar kerja jurnalistik sendiri,” jelas Erni.

Berbicara tentang jurnalistik, Erni mengatakan bahwa ia tidak lagi menyentuh ranah jurnalistik sejak tahun 2010. Seusai terlepasnya ia dari dunia jurnalistik, wanita yang pernah bekerja di Luwuk Pos ini bahkan sempat mencicipi pekerjaan sebagai editor di penerbitan buku di Jakarta.  Kegiatan yang beragam itu membawa Eni pada satu titik bahwa menulis adalah meditasi.

“Menulis bagi saya berperan sebagai meditasi. Berhenti berbicara sejenak dan berbicara dengan kepala sendiri. Sementara goals dari tulisan saya sendiri adalah hal-hal yang manusiawi. Saya menempatkan tokoh-tokoh dalam cerita saya dalam posisi yang setara. Entah itu hewan, manusia, dan lain sebagainya. Itulah nilai yang saya bawa,” tegasnya.

Nadhira Sidiki

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT