Follow

Menyoal Keberadaan Solidaritas Keberagaman Gender

Editor: Admin | Selasa, 14 Juli 2020 - 10:00 Wita | 382 Views
Istimewa

Beberapa waktu lalu, kasus “ Prank Sampah” yang dilakukan oleh seorang Youtuber bernama Ferdian Paleka ramai diperbincangkan dan mendapat kecaman dari warganet. Bukan tanpa alasan, banyak yang menganggap prank yang dilakukan Ferdian merupakan bentuk diskriminasi terhadap transpuan yang tidak manusiawi. Kasus ini membuat Ferdian dijerat pasal 170 ayat (2) dan (3) KUHP dan terancam pidana maksimal 12 tahun penjara.

Bertepatan dengan International Days Against Homophobia, Biphobia, and Transphobia (IDAHOBIT) atau Hari Internasional Melawan Homofobia, Transfobia dan Bifobia, Reporter identitas berkesempatan melakukan wawancara khusus dengan Kevin Halim, seorang transpuan yang aktif mengampanyekan solidaritas dan hak-hak kaum LGBT, khususnya transpuan yang sering mendapatkan diskriminasi serta perlakuan yang tidak adil.

Menurut Anda, untuk sekarang ini, bagaimana masyarakat Indonesia memandang IDAHOBIT?

Memandang IDAHOBIT, sepertinya masih banyak orang yang belum mengetahui tentang hari yang dirayakan secara internasional ini. Jadi khususnya di Indonesia mungkin masih banyak yang belum paham betul.

Langkah apa yang harusnya diambil pemerintah dalam menyikapi adanya Homofobia, Transfobia dan Bifobia?
Melihat banyaknya diskriminasi yang terjadi, mungkin sudah saatnya pemerintah lebih berempati dan lebih melindungi warganya khusunya kaum LGBT yang kerap kali dipersekusi, distigma dan didiskriminasi. Mungkin dapat dimulai dengan berhenti memperlakukan rakyat seolah ingin memecah belah dengan pemikiran dari luar yang dapat membuat statemen yang justru terus memupuk rasa benci terhadap kaum LGBT di masyarakat.

Menurut Anda, bagaimanakah seharusnya keberagaman gender dan seksualitas diperlakukan dalam dunia pendidikan?

Dalam dunia pendidikan harusnya lebih bebas dari nilai-nilai kebencian. Kebijakan yang dibuat harusnya bisa membukakan pintu bagi siapa pun yang ingin mengeyam bangku pendidikan. Karena melalui pendidikan, orang-orang bisa saling belajar mengenal dan mendapatkan soft skill agar dapat meningkatkan kualitas hidup.

Bagaimana cara Anda secara pribadi memperbaiki stigma tidak lazim LGBT khususnya transpuan di mata masyarakat?
Saya sebisa mungkin untuk tidak mengikuti stereotype negatif yang ada. Karena dengan menindak tegas stereotype negatif yang ada, saya berharap perlahan dapat mengubah cara pandang masyarakat.

Di masa pandemi sekarang ini, bagaimana kondisi transpuan yang tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah?

Situasi mereka sangat sulit rasanya. Sangat penting bagi kita untuk terus memperkuat solidaritas dan membantu teman-teman yang sedang kesulitan menghadapi masa pandemi ini.

Apa pendapat Anda mengenai kasus Prank Sampah yang dilakukan Ferdian Paleka yang hangat dibicarakan baru-baru ini?
Melalui kasus tersebut, saya kira ada kemajuan di mana banyak orang yang menentang perlakuan yang tidak manusiawi tersebut. Saya berharap semoga ini menjadi budaya baru di mana orang tidak lagi menghina dan memperlakukan transpuan seperti itu. Memang sudah ada kebiasaan untuk membully kaum LGBTQ, tapi dengan adanya kasus ini, kita bisa belajar untuk memperlakukan dan menghargai orang lain dengan hormat.

Bagaimana cara memberantas bullying, perlakuan tidak adil, serta intimidasi yang menjadi akibat dari adanya Homofobia, Transfobia dan Bifobia?
Tidak ada satu jawaban pasti, yang bisa kita lakukan adalah memulai dari diri sendiri kemudian lingkungan sekitar kita. Jangan beri reward positif kepada mereka yang suka membully. Kita sendiri juga harus mulai menghargai orang lain tanpa perlu membeda-bedakan.

Karena ini bukan sesuatu yang lazim di Indonesia, bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap kaum LGBT yang berada di lingkungan kita? Terlebih jika itu adalah teman dekat atau keluarga?
Saya rasa pandangan ini tidak lazim di kita dan mungkin lazim di negara lain itu tidaklah benar. Semuanya butuh proses untuk belajar dan mengenal untuk menghargai orang lain. Sekarang pilihan itu ada di tangan kita. Maukah kita berbesar hati dan berempati memerlakukan orang lain sebagaimana kita diperlakukan dan apakah respek dasar bisa kita berikan tanpa pamrih ke semua, orang atau kita ingin terus menciptakan suasana yang tidak nyaman buat orang lain untuk jadi diri sendiri.

Apa pesan yang ingin anda sampaikan kepada pembaca setia PK Identitas Unhas?
Saya rasa sebagai pelajar, sudah menjadi tugas kita untuk bisa mencari tahu fakta dengan melepas kaca mata prejudice dan menjadikan fokus pada kebaikan untuk mengurangi penderitaan yang dialami oleh orang lain, bukan malah menambahnya. Dengan prinsip itu, Saya yakin, dengan prinsip itu generasi muda dan pelajar Indonesia bisa membuat masa depan menjadi lebih baik. Tidak hanya untuk teman-teman LGBT, tetapi juga untuk semua orang.

 

Data diri

Nama : Kevin Halim

Pendidikan :

S1 di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Pascasarjana di University of Aberdeen, Skotlandia, jurusan Sex, Gender, and Violence

 

Riwayat organisasi :

– Mantan Deputi Divisi Wanita Transgender di Gaya Warna Lentera Indonesia

– Asia and Pacific Transgender Network (APTN Indonesia)

– Dewan Sanggar SWARA, Komite Penasihat Teknis untuk Unzip the Lips

– Bagian dari Proyek Global Dewan Penasihat Internasional Transgender Eropa (TGEU): Transrespect vs Transphobia (TvT)

– Program Officer untuk Kantor Regional Hivos di Asia Tenggara

BACA JUGA