Follow

Pejabat Struktural Belum Resmi, Centre of Microfinance Unhas Berani Terima Mahasiswa Baru

Editor: Sri Hadriana | Selasa, 25 September 2018 - 10:23 Wita | 163 Views
Gedung Centre of Microfinance. Foto: identitas/Arisal

“Kami melapor akan segera menerima mahasiswa magister keuangan mikro. Perpaduan para praktisi, akademisi, pebisnis dan masyarakat,” kata Rektor Unhas, Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu MA saat peresmian gedung Microfinance, Sabtu (23/6).   

Dua bulan setelah Dwia mengucapkan prakata itu, tepatnya 23 Agustus 2018, Unhas sudah membuka pendaftaran mahasiswa baru untuk program master of microfinace. Sayang, hingga batas registrasi, Unhas hanya mampu menggaet empat calon mahasiswa. Hal ini mengakibatkan jadwal pendaftaran pun diperpanjang.

Informasi ini dibenarkan oleh Direktur Centre of Microfinance, Prof Gagaring Pagalung. Ia mengatakan, Centre of Microfinance telah mendapat izin untuk menerima mahasiswa baru dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) akhir bulan Agustus.

Kendati peminat master of microfinance terbilang sedikit, Gagaring menganggap itu sesuatu yang wajar. Menurutnya, persoalan ini tidak hanya di kampus merah tapi juga beberapa universitas yang memiliki microfinance di Indonesia.

Oleh karena itu, ia mengatakan, ke depan akan melakukan berbagai kerjasama dengan pengadaan beasiswa agar bisa mengait banyak peminat. Ia juga menginformasikan jika saat ini sudah ada beberapa lembaga yang menawarkan kerjasama beasiswa.

Di sisi lain, dalam proses belajar tentu juga dibutuhkan tenaga pengajar. Menanggapi pernyataan ini, Gagaring mengaku, tenaga pengajar bakal berasal dari dosen Fakultas Ekonomi Unhas.

“Dosen ekonomi kan banyak, mulai doktor sampai profesor. Berdasarkan peraturan Dikti, homebase dosen hanya minimal enam tenaga pengajar tetap,” tuturnya.

Dosen tetap yang ia maksud ialah Dr Hj Kartini SE MSi Ak CA, Dr Sanusi Fattah SE MSi,  Dr Andi Nur Bau Massepe Mappanyompa SE MM, Dr Andi Aswan SE MBA, Dr Muhammad Sabit, dan Prof Gagaring Pagalung.

Kendati demikian, penerimaan mahasiswa baru ini tampak terkesan buru-buru. Sebab, posisi direktur yang saat ini dipegang oleh Prof Gagaring Pagalung nyatanya belum legal. Ia belum dilantik secara resmi oleh rektor Unhas.

Sebenarnya, penerimaan mahasiswa baru ini merupakan instruksi langsung dari rektor Unhas, Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu MA. Dwia ingin segera menerima mahasiswa meski hal demikian tidak sesuai aturan. Lantaran pada hakikatnya, penerimaan dibuka setelah sudah resmi pejabat struktural.

“Buka saja dulu siapa tahu peminatnya banyak,” kata mantan dekan FEB itu mencoba mengulangi perkataan rektor Unhas, Rabu (5/9).

Selain itu, gedung yang baru diresmikan beberapa bulan lalu itu sampai sekarang belum dioperasionalkan. Bangunan tinggi dengan dominasi warna putih itu masih tampak kosong, belum ada fasilitas yang terlihat.

Indikator belum kesiapannya juga tampak pada staf atau pegawai. Gagaring mengakui, hingga kini belum ada resepsionis. Kunci Gedung pun masih dipegang olehnya dan pekerja bangunan.

“Saya masih sendiri yah belum ada yang lain, hordennya juga belum ada,” kata Prof Gagaring kepada identitas, sambil menggerakkan tangannya memperlihatkan suasana gedung yang masih kosong.

“Infrastrukturnya juga masih diperbaiki seperti AC, toilet dan lain-lain” tambahnya.

Dengan kondisi tersebut, Gagaring mengelak, hal itu tidak ada hubungannya dengan penerimaan mahasiswa baru. Lantaran, lanjut Gagaring, proses perkuliahan akan dilakukan di Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unhas.

Menghadapi pelbagai persoalan itu, Gagaring tetap yakin kehadiran program baru ini akan bermanfaat bagi yang mendaftar. Ia optimis microfinance akan menjadi wadah pendidikan di bagian keuangan mikro, dan peluang kerjanya juga besar. Selain itu, harapanya, kemudian kelak microfinance dapat mengeluarkan para mahasiswa master yang handal.

“Kita ingin menghasilkan manajer-manajer menengah yang mampu memikirkan konsep-konsep usahawan kecil,” jelas direktur itu.

Selain itu, lanjutnya, lulusan master of microfinance kelak diharapkan dapat menjadi penggerak yang mengatur secara konseptual untuk meningkatkan pendapatan masyarakat MBR (Masyarakat Golonga Rendah). Sehingga dapat mengurangi jumlah masyarakat miskin.

Renita Pausi Ardila

BACA JUGA