Follow

Penjara Orang-Orang Diam

Editor: Fatyan | Senin, 21 Januari 2019 - 16:25 Wita | 309 Views

Usai menunaikan shalat ashar, aku bergegas menuju ruang kuliah. Jadwal kuliah yang tertera di KRS adalah Pukul 15:20, bertepatan dengan jadwal shalat ashar. Langkah ku kupercepat. Mengingat dosen yang mengajar di kelasku adalah seorang profesor lulusan Prancis, terkenal disiplin dan tegas. Prof. Bada, begitu aku biasa mendengar mahasiswa menyebutnya.

Dari luar kelas samar-samar terdengar suara Prof. Bada telah memulai perkuliahan. Aku tertegun, sesaat niatku terhenti, meyakinkan diri bahwa Prof. Bada akan memaklumi keterlambatanku ini.

“Assalamualaikum”

Tidak ada jawaban. Beberapa mahasiswa melirikku, memberi isyarat agar tidak ribut. Prof. Bada tetap fokus menjelaskan, seolah tak menyadari kehadiranku. Aku segera menuju bangku terdekat, berharap Prof. Badar tidak melihatku.

“Keluar!”tiba-tiba terdengar suara membentak ketika aku hendak duduk. Kuurungkan niatku begitu aku sadar itu adalah suara Prof Bada. Aku berdiri. Terpaku.

“Saya…”

“Keluar!” Katanya sebelum sempat kuselesaikan kata-kataku

“Tapi Prof…..”

“Jika sebelah kaki saya lebih dulu melalui pintu, tak ada lagi yang boleh masuk! Mutlak.” Ucapnya dengan suara lantang

“Tidak ada alasan untuk terlambat, apapun itu…!” katanya lagi membuat seisi kelas terdiam.

“…Termasuk ibadah.” lanjutnya tanpa beban.

Suasana menjadi hening, hanya terdengar desau udara yang keluar dari AC. Aku melirik ke beberapa mahasiswa, terutama yang beridentitas muslim, semua diam, seolah tak ada masalah.

“Sekarang keluar!” Katanya lagi.

“Mohon maaf sebelumnya Prof. Ini kuliah perdana, belum ada kontrak kuliah apa pun, termasuk toleransi keterlambatan.” Kataku dengan dada berdebar.

Ia berdiri, menatapku dengan sorot mata menjatuhkan. Seketika mentalku luluh lantah. Kurasakan keringat mulai bercucuran.

“Sekarang kita buat kontraknya. Tidak boleh terlambat se-detik-pun. Tak ada alasan yang bisa ditolerir. Termasuk ibadah.” Katanya tegas, menatapku, lalu pandangannya dialihkan menyapu seisi ruangan seolah ingin memastikan tak ada yang membantahnya. Lalu pandangannya kembali padaku.

Aku melirik sekali lagi ke peserta kuliah. Bukan saja pada mereka yang beridentitas muslim. Aku berharap ada yang protes ketidakadilan ini. Semua bergeming. Bahkan beberapa mahasiswa menatapku, dari tatapannya aku paham, mereka menyuruhku untuk menerima keputusan ini. Apakah hanya aku yang merasa kalau perlakuan ini tidak adil? Atau hanya aku yang merasa tertindas dengan keputusan sepihak ini? Tetap tidak ada yang buka mulut. Semua bungkam. Aku ciut.

“Maaf Prof. Saya bisa terima keputusan ini dengan syarat izinkan saya terlambat sebab jadwal mata kuliah ini bertepatan dengan waktu shalat.” Kataku dengan suara parau.

“Kamu mau ikut kuliah saya. Aturannya tidak boleh terlambat!”.

Aku diam, suasana kembali hening.

Sekali lagi, kutarik nafas panjang, kulepaskan tas dari punggungku, berharap dengan itu aku lebih rileks. Aku meyakinkan diri bahwa yang aku perjuangkan adalah hal yang benar. Bukan hanya untuk ku, tapi semua orang yang ada di dalam ruangan ini.

Aku menatap sekilas seluruh peserta kuliah, dari wajah mereka aku tahu, mereka terbebani.

“Saya minta maaf Prof. Jadwal shalat saya tidak bisa ditawar, ditetapkan jauh sebelum mata kuliah ini dijadwalkan, bahkan jauh sebelum mata kuliah ini ada.”

“Siapa namamu?.”

“Fahri.”

Ia mengambil daftar hadir, membaca sekilas lalu dengan pulpen ia membuat sebuah lingkaran kecil di atas daftar hadir itu.

“Kamu keluar sekarang!” Katanya kemudian.

Aku sudah siap dengan keputusan ini. Aku tak membantah lagi, setidaknya semuanya sudah jelas, antara shalat dan kuliah, semua sudah dijadwalkan, itu pilihan.

Aku melangkah meninggalkan kursi yang belum sempat aku duduki itu. Sekilas aku menangkap seluruh mata menuju padaku. Tak terkecuali Prof. Bada.

“Fahri….!” Prof. Bada memanggilku ketika Aku sudah berada di depan  pintu. Aku menoleh.

“Namamu sudah ada dalam catatanku, hati-hati!.” Katanya sambil dengan nada ancaman sembari mengacungkan daftar hadir yang sudah dilingkarinya tadi.

Di kantin, Aku merenungkan semua yang baru saja terjadi. Pekan depan hingga satu semester selesai, masalah ini akan terulang. Aku juga heran mengapa aku begitu nekat membantah Prof. Bada yang begitu disegani di kampus ini. Sesekali aku tersenyum memikirkan kenekatan itu.

“Fahri….!” Aku menoleh ke arah suara yang memanggilku. Dari jauh aku melihat Meldi berlari ke arahku.

“Gawat bro, Prof. Bada memanggilmu untuk menghadap di ruangannya.” Katanya dengan napas tersengal-sengal. Aku sedikit kaget, tapi Aku mencoba untuk tetap tenang, stay cool. Ku perbaiki letak dudukku.

“Sekarang?”

“Iya secepatnya.”

Aku bingung, memenuhi panggilan itu atau tidak. Tapi sebenarnya rasa takutlah yang menindihku. Bagaimana kalau Aku diskors, atau mungkin saja di-DO. Pertanyaan itu memenuhi kepalaku sepanjang jalan menuju ke ruangan Prof. Bada.

“Duduk” perintah Prof. Bada. Aku menurut. Ku siapkan mental terbaikku untuk menerima segala kemungkinan yang akan dilakukan oleh dosen yang sangat disegani ini.

“Apa masalah mu?” tanya Prof. Bada tanpa basa-basi. Matanya fokus pada laptop di depannya.

“Saya hanya ingin diberi kesempatan untuk melaksanakan shalat tanpa tergesa-gesa sebelum masuk kuliah, Prof.” Kataku se-sopan mungkin. Seketika wajahnya beralih menatapku.

“Silakan, lakukan ibadahmu. Tidak ada hak saya untuk melarang. Termasuk keterlambatan masuk kelas.” Katanya dengan raut wajah bersahabat.

Aku diam.

“Aku hanya ingin melihat bagaimana reaksi dari mahasiswa terhadap aturan itu. Dan kau lihat sendiri, apa yang terjadi. Seolah-olah tidak ada masalah.” lanjutnya.

“ Kampus butuh orang seperti kamu yang berani melawan ketidakadilan. Berani ambil risiko. Apa jadinya ketika di tengah masyarakat nantinya banyak ketidakadilan yang terjadi tapi orang-orang di sekitarnya hanya diam?”.

Jeda,

“Jangan pernah diam ketika melihat ketidaadilan. Perhitungkan dan ambil risiko.” katanya sebelum mempersilakan Aku meninggalkan ruangannya.

Setelah bertemu dengan Prof. Bada di ruangannya, aku selalu melaksanakan sholat sebelum masuk kuliah. Tak ada teguran. Walau begitu, aku menangkap tatapan heran dari teman kuliah ketika masuk terlambat dengan sangat tenang seolah tak pernah terjadi sesuatu. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Kujelaskan yang sebenarnya. Satu persatu temanku mulai melaksanakan shalat sebelum kuliah. Bahkan menjelang akhir perkuliahan, aku pernah mendapati Prof. Bada duduk sendiri di dalam ruangan menunggu mahasiswa yang terlambat karena shalat. Lalu melaksanakan perkuliahan seperti biasanya.

***

 

 

Koridor MIPA, 17 Desember 2018

Penulis : Ahmad Alfarid

Jurusan Biologi FMIPA 2015

Anggota Forum Lingkar Pena ranting Unhas

 

BACA JUGA