Follow

Peran yang Tak Bersekat

Editor: Urwatul Wutsqaa | Rabu, 18 September 2019 - 13:10 Wita | 141 Views
Istimewa

Kesetaraan gender bukan lagi istilah asing di telinga masyarakat Indonesia. Kata ini sering hadir dan dikaitkan dengan istilah-istilah lainnya semacam emansipasi wanita, feminisme, atau lainnya yang entah memang ada kaitannya atau tidak. Oleh karena itu, untuk memahami lebih lanjut tentang kesetaraan gender, berikut kutipan wawancara Reporter identitas, Muflihatul Awalyah bersama Dosen Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Dr Herawati, M Hum :

1. Dewasa ini, kesetaraan gender sering menjadi bahan diskusi oleh beberapa kelompok. Apa sebenarnya makna kesetaraan gender itu?

Makna kesetaraan gender itu adalah tidak ada perbedaan laki-laki dan perempuan dalam hal peran. Nah, secara biologis, laki-laki dan perempuan kan memang berbeda. Tetapi, dari faktor budaya dan sosial juga turut menimbulkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Misalnya begini, masih banyak yang menganggap perempuan itu tempatnya di dapur. Laki-laki itu tugasnya mencari kerja.

Namun, dalam hal persamaan gender, laki-laki juga bisa ‘masuk’ di dapur. Perempuan juga bisa mencari nafkah. Selama tidak ada yang dirugikan baik perempuan maupun laki-laki. Hal itu menjadi bermasalah apabila ada satu yang merasa dominan. Ada satu yang merasa superior dan satunya lagi merasa inferior. Jadi, harusnya kan sama. Sehingga bisa menjadi mitra yang harmonis.

2. Seberapa penting kaum muda khususnya mahasiswa memahami tentang kesetaraan gender?

Penting sekali. Perlu diketahui bahwa budaya kita sejak awal sudah memberi label atau stereotip terhadap peran perempuan. Perempuan itu kerjanya mengurus anak, atau kerjaannya perempuan itu di dalam domestik domain, dalam rumah tangga. Laki-laki itu publik domain. Nah, sebenarnya kan tidak harus selalu begitu. Bukan berarti perempuan itu mengurus anak, lalu dia tidak produktif.

Padahal, ibu rumah tangga yang melaksanakan pekerjaan di dapur itu juga suatu sumbangan besar kepada keluarga. Mendidik anak. Hanya saja karena selalu  dilabelkan sebagai pengurus anak sehingga laki-laki kalau ada anaknya nakal, perempuan yang disalahkan. Padahalkan dalam satu keluarga, kalau anak punya masalah, dua-duanya bertanggung jawab untuk mendidik karakter anak tersebut.

3. Meski konsep kesetaraan gender ini ingin mewujudkan hilangnya perbedaan peran antara perempuan dan laki-laki, tetapi tetap saja ada beberapa pihak yang kontra terhadap konsep ini. Bagaimana pendapat anda terkait hal ini?

Gender memang dikaitkan dengan gerakan feminisme. Jadi, orang-orang belum paham. Mereka menganggap kesetaraan gender itu ingin mengubah budaya kita yang ada di Indonesia. Kalau menurut saya yang kontra itu sebenarnya belum memahami betul hal itu. Sebab memang tidak semua ajaran feminisme itu bisa kita terapkan. Nah, kita tinggal memfilter saja apa yang bisa diterapkan di sini (re: Indonesia). Tujuannya supaya laki-laki dan perempuan ini setara, memiliki hubungan yang harmonis.

Contohnya, bagi yang pro, jika di rumah, anak menangis, ibu memasak, kan tidak apa-apa bapak yang mengurus anak dulu. Atau bapak menggantikan ibu di dapur untuk mengurus anak. Jadinya kan menghasilkan kerja sama yang baik.

4. Lantas apa yang salah dengan aliran feminisme sehingga menjadi kontroversi?

Ya, karena beberapa aliran feminisme juga dikait-kaitkan dengan kebebasan seksual. Seperti LGBT (laki-laki dan perempuan dianggap sama untuk dapat dijadikan pasangan). Nah, itu kan melanggar norma agama. Sedangkan, masyarakat kita di sini kan punya norma agama, norma masyarakat, dan budaya. Menikah tidak boleh dengan sesama jenis. Sedangkan budaya di luar Indonesia membolehkan hal itu. Dan feminisme memang sebuah gerakan yang mulai tumbuh di Eropa.

5. Bagaimana sikap yang seharusnya dalam menyikapi kesetaraan gender?

Kita memang harus mengajak masyarakat agar memiliki pemahaman tentang gender. Kita mulai pelan-pelan dalam keluarga dulu lalu ke lingkungan sekitar. Semisal, anak laki-laki kalau mau pegang boneka, tidak apa-apa, tapi dikontrol, jangan keterusan. Anak perempuan kalau mau menendang bola, juga tidak apa-apa. Tetap dijaga, jangan sampai kebablasan sehingga besarnya ia tumbuh jadi balaki (re: tomboi).

Di dalam kelas juga misalnya, ini yang sering saya alami.  Kalau tidak ada anak laki-laki untuk menyalakan proyektor, ini perempuannya juga manja-manja. Saya bilang, jangan. Ayo kita sama-sama cari cara biar proyektor bisa hidup. Jangan tergantung terus sama laki-laki.

6. Bagaimana pengaplikasian kesetaraan gender di Indonesia?

Sebenarnya kalau pemerintah itu sudah sangat berperan untuk program kesetaraan ini. Namun. terkadang dalam praktiknya tidak seperti itu. Misalnya, biasanya orang beranggapan bahwa hal-hal yang berhubungan dengan teknologi itu bagiannya laki-laki. Padahal anak perempuan juga bisa. Tetapi, perempuannya yang tidak berminat untuk hal itu, sehingga tidak mengambil kesempatan kesetaraannya dengan laki-laki.

7. Apa harapan Anda untuk penerapan kesetaraan gender di Indonesia?

Tentu saja semakin tinggi pemahaman tentang kesetaraan gender itu sehingga tidak ada lagi yang menyebabkan salah satu jenis kelamin ini baik perempuan maupun laki-laki yang merasa terpinggirkan.

 

Data Diri:

Nama Lengkap : Dra Herawaty Abbas MHum MA PhD

Tempat dan Tanggal Lahir : Soppeng, 3 Januari 1963

Riwayat Pendidikan :

S1 Universitas Hasanuddin Makassar, Ilmu Sastra Inggris, 1981-1986

 S2 Universitas Gadjah Mada Yogyakarta , American Studies, 1995-1997

S2  Saint Mary’s University Canada, Woman’s Studies, 1999-2001

S3 Newcastle Universitas Australia,  Australian Literature, 2009-2013

BACA JUGA