Follow

Pergeseran peran Pemuda dari Sektor Formal ke Informal

Editor: Arisal | Minggu, 08 Maret 2020 - 00:47 Wita | 354 Views
Ilustrasi : Identitas/Azzahra Nabilah

Lirik lagu “Sarjana Muda” yang populer tahun 1990-an, oleh Iwan Fals, tepat untuk membayangkan kondisi pemuda atau pencari kerja dewasa ini. dikarenakan sulitnya mendapat pekerjaan layak. Persoalan ini terus menjadi perbincangan “klasik” dari pihak pemerintah, hingga melibatkan berbagai pakar ekonomi maupun sosial.

Pertumbuhan pembangunan dan modernisasi perkotaan  tidak disertai dengan pembukaan lapangan pekerjaan, adalah suatu kebijakan yang bisa dianggap fatal dan rentang menciptakan kesenjangan ekonomi serta membuat  meningkatnya angka pengangguran tiap tahun di Indonesia.

Kebijakan pemerintah seolah tak mampu memberi jaminan bagi pemuda berpendidikan masuk dunia kerja sektor formal. Pergerseran nilai-nilai sosial di lingkungan masyarakat modern terus memaksa pemuda berpendidikan untuk membuka peluang kerja bagi diri mereka. Gejala ini sepuluh tahun terakhir terus bermunculan ketika sektor informal misalnya di warung makan, pedagang kaki lima, kafe, toko, restoran dan lain sebagainya kian banyak dimotori oleh pemuda berpendidikan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Februari 2019 penduduk berusia 15 tahun ke atas mendominasi pekerjaan di sektor informal sebanyak 74 juta. Dibandingkan sektor formal hanya 55,3 juta. BPS juga menjelaskan perkembangan sektor informal ini dapat dipandang dari munculnya wiraswasta mandiri dan kaum muda cenderung memilih pekerjaan yang jam kerja fleksibel.

Gejalah ini sudah muncul diberbagai kota di Indonesia. Walaupun awalnya sektor informal dipandang tidak begitu penting. Namun, pergeseran nilai sosial menempatkan dunia informal menjadi pilihan tepat untuk menampung pemuda menciptakan dunia usaha.

Turunnya nilai pendidikan dan bertambahnya jumlah generasi muda tidak melanjutkan sekolah, bukan karena biaya pendidikan mahal, tapi mereka memilih bekerja di sektor informal dari pada melanjutkan pendidikan.

Walaupun dunia sektor informal tidak membutuhkan keahlian, cukup dengan tenaga, seperti yang dijelaskan oleh para ahli kajian sosial-ekonomi, mampu menyerap tenaga kerja yang murah dan dapat menyediakan bahan baku bagi industri kapitalis.

Pekerjaan sektor informal kadang kala dicaci dan digusur sekaligus juga dibiarkan tumbuh tanpa peraturan yang jelas melindunginya. Hal yang dipandang perlu dalam mengatasi kasus-kasus seperti ini, harusnya ada payung hukum yang jelas melindungi hak-hak warga negara yang bekerja di sektor informal, karena sektor ini mampu menyerap tenaga kerja yang banyak.

Ketika sektor informal terus mengalami pertumbuhan utamanya di wilayah perkotaan akan semakin tampak menarik jika diperhatikan lebih lanjut, karena sektor informal dalam perkembangannya tidak lagi di “mainkan” oleh masyarakat berpendidikan rendah beberapa tahun terakhir. Pergeseran pekerja ke sektor informal kian banyak digerakkan oleh pemuda berpendidikan tinggi. Tentu yang dilakukan oleh pemuda ini bukanlah hal yang buruk tapi suatu bentuk kewajaran untuk menciptakan dunia usaha bagi dirinya ketika pemerintah tidak mampu memberi “ruang” di sektor formal.

Inovasi bagi pemuda berpendidikan sebagai penggerak ekonomi informal yang dikomprasikan dengan perkembangan teknologi adalah keharusan dalam menanggapi perkembangan zaman yang terus berubah. Tentu semangat seperti ini bagian yang cukup penting dalam memaknai kembali arti semangat kepemudaan beberapa tahun silam. Hal yang cukup menyakinkan bagi pemuda menjadi penggerak utama dalam mengembangkan ekonomi di sektor informal, mereka mempunyai keinginan memperkerjakan orang yang tidak mempunyai pekerjaan.

Apa yang dilakukan pemuda tidak hanya mempunyai tujuan etis, tetapi sekaligus otokritik kepada pemerintah yang tidak peka dalam mengurusi permasalahan sosial. Tentu yang dilakukan pemuda secara langsung mengambil tanggung jawab pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan dan menekan jumlah pengangguran.

Pola ini adalah bagian yang cukup penting untuk menempatkan dan memberi “ruang” bagi pemuda ambil bagian dari perubahan. Maka ada benarnya perkatakan Taufik Abdul yang menempatkan pemuda sebagai agent perubahan sosial dan sejarah pun mencatat hal demikian ketika Ben Anderson, menempatkan pemuda sebagai motor penggerak utama dalam sejarah pergerakan nasional.

Penulis : Ma’ruf

Alumni Jurusan Ilmu Sejarah

Fakultas Ilmu Budaya

 

BACA JUGA