Follow

Perjuangan di Balik Karier Cemerlang

Editor: Fitri Ramadhani | Kamis, 09 Januari 2020 - 20:30 Wita | 1449 Views
Santika/Identitas

Gigih dan konsisten, kunci sukses Meta Sekar Puji Astuti.

Sosok jejak langkah kali ini datang dari seorang perempuan hebat yang merupakan Ketua Departemen Sastra Jepang Universitas Hasanuddin (Unhas). Yah, Meta Sekar Puji Astuti SS MA PhD adalah alumnus Universtas Keio, Tokyo, Jepang.

Berawal dari ketertarikan Meta, sapaan akrabnya, dengan dunia sastra Jepang ternyata mampu mengantarkannya ke jenjang karier yang cemerlang. Kala itu, ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), saat seorang warga berkebangsaan Jepang melakukan homestay di rumahnya. Meta sering kali mendengar orang Jepang itu menggunakan bahasa negaranya.

Dari kejadian tersebut, putri dari pasangan Daruslan dan Musrini ini mulai ‘terhipnotis’ untuk mendalami ilmu dari negeri matahari terbit. Walaupun saat SMA dulu ia tidak pernah berkecimpung dengan dunia sastra Jepang, tetapi Meta nekat untuk mengambil jurusan tersebut saat kuliah.

“Dulu itu ada homestay, orang Jepang tinggal di rumah saya. Terus dia bicara pakai bahasa Jepang, dari situ saya terhipnotis untuk belajar bahasa ini,” tutur Meta, Rabu (20/11).

Istri dari Dr Ir M. Iqbal Djawat MSc PhD tersebut mengaku, belajar sastra Jepang tidak semudah yang dibayangkannya dulu. Menurut Meta, bahasa Jepang termasuk salah satu bahasa tersulit di dunia selain dari bahasa Rusia dan Jerman. Berbagai kendala terus dirasakan Meta ketika mulai aktif kuliah di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Kadang kala saya merasa stres ketika belajar bahasa Jepang. Karena saya kuliah di Yogyakarta, jadi dosennya selalu menuntut kami untuk menggunakan bahasa sopan walaupun menggunakan bahasa Jepang. Nah, susah itu nyari bahasa sopannya dalam bahasa Jepang,” ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, semua masalah tersebut lambat laun bisa teratasi berkat konsistensi dirinya. Setelah menjadi Sarjana Sastra, Meta melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Ohio, Athens, USA dan S3 di Universtas Keio, Tokyo, Jepang.

Layaknya mahasiswa luar negeri pada umumnya, berbagai kisah pilu dan tak terlupakan juga dirasakan oleh Meta. Misalnya saja ketika ia melanjutkan pendidikan di Jepang. Dengan bantuan yang diberikan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Meta  berhasil menyelesaikan studinya.

Namun, ceritanya tidak semulus yang dibayangkan. Kala itu, Meta tinggal di sebuah indekos dan ditemani dengan dua orang anaknya (Adhiqa Rafifanda Iqbal dan Vanya Kananga Iqbal). Di situ, Meta menjalani kehidupan sehari-harinya seperti biasa, kecuali dengan indekos yang tak memiliki kamar mandi.

“Ceritanya itu saya tingal di sebuah indekos yang tak memiliki kamar mandi, hanya ada sebuah toilet. Jadi jangan ditanya seminggu berapa kali mandi. Mungkin dalam seminggu itu hanya mandi dua kali saja,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Tak hanya itu, untuk menghemat pengeluaran bulanannya, Meta harus mengayuh sepedanya selama satu jam menuju kampus. Selepas pulang dari kampus, karena terkendala kamar mandi, tak jarang ia menumpang di rumah salah satu profesornya untuk membersihkan diri.

Di sela pembicaraan siang itu, di dalam ruangannya Meta juga menceritakan pengalaman lucunya ketika salah seorang temannya datang ke Jepang. Temannya tersebut mengetahui kondisi Meta bahwa di indekosnya itu tidak memiliki kamar mandi. Meta kemudian dipanggil untuk berkunjung ke hotel yang ditempati temannya. Dengan nada candanya, ia menceritakan bahwa dirinya diberikan keleluasaan untuk mandi di kamar hotel itu sepuasnya.

Cerita lain muncul saat beasiswa yang diberikan oleh Kemenristekdikti terlambat datang. Meta mengatakan, saat itu ia tidak memegang uang sama sekali. Sedangkan ia tinggal bersama kedua anaknya. Berbagai cara telah dilakukan Meta untuk mendapatkan uang, misalnya saja dengan meminjam kepada profesornya. Bahkan hampir seminggu, ia hanya memasak dua porsi saja.

Meta juga menceritakan bahwa saat itu, Adhiqa dan Vanya bertanya kepada maminya mengenai hal tersebut.

“Anak saya bertanya, kenapa cuman dua porsi mami masak. Kemudian saya menjawab bahwa ketika kalian makan, akan ada sisanya. Sehingga sisa makanan tersebut bisa saya makan setelah kalian merasa kenyang,” paparnya.

Meta berpesan, dalam setiap kehidupan manusia, terkadang mereka berada di bawah dan di atas. Itu sesuatu hal yang murni terjadi. Untuk setiap insan harus merasa sabar ketika berada di bawah.

“Jangan dipikir semuanya itu enak, ada hal tertentu yang perlu diperjuangkan,” tuturnya.

Dengan kegigihan dan kesabaran yan dimilikinya, Meta berhasil menduduki beberapa jabatan yang strategis. Misalnya saja, menjadi Koordinator Japan Corner Unhas (2018-sekarang), Koordinator Area ASJI Sulawesi Selatan (Asosiasi Studi Jepang Indonesia) (2017-sekarang), Kepala Pusat Studi Kebudayaan Jepang Unhas  (2007 – 2009), dan masih banyak lagi.

Sebagai seorang wanita karier yang memiliki banyak kesibukan, Meta mengaku sulit untuk membagi waktu dengan keluarga. Namun, dalam waktu tertentu, misalnya pada bulan Maret saat anak sulungnya libur kuliah. Mereka menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama.

“Memang susah membagi waktu dengan keluarga, apalagi sekarang saya menjabat sebagai Ketua Departemen dan suami sibuk juga. Jadi waktu bersama keluarga itu kurang. Ketika ada momen kami tidak sia-siakan,” tutupnya.

Wandi Janwar

BACA JUGA