Follow

Perjuangan di Balik Kisah Sukses Hafidz Al-Qur’an

Editor: Admin | Minggu, 19 Juli 2020 - 19:00 Wita | 471 Views
Foto : Istimewa

Awalnya saya mengira sedang berusaha menjaga hafalan. Pada akhirnya saya sadar bahwa hafalan tersebut yang menjaga saya dari berbagai perbuatan negatif. 

Kegiatan menghafal Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang mudah, terlebih menjaga hafalan tersebut. Namun di tengah hiruk-pikuk kegiatan, Nirwan Anwar sebagai mahasiswa akhir selalu meluangkan waktu. Baru-baru ini, dirinya didaulat sebagai juara satu lomba Musabaqah Hafalan Qur’an (MHQ) yang diadakan oleh Kemahasiswaan Unhas pada Selasa (12/5). Kemenangan Ketua Umum Himab KMFIB-UH periode 2018-2019 itu tentu bukan tanpa persiapan. Ia mengaku bahwa yang dilakukannya adalah muroja’ah harian dan menonton berbagai serial MHQ di televisi.

“Sebetulnya saya tidak begitu mempersiapkan diri untuk mengikuti MHQ ini, muroja’ah hariannya sama saja. Namun yang sedikit membedakan, sebelum lomba saya sering menonton MHQ Internasional dan hafidz-hafidz cilik yang hafalannya mutqin sebagai bahan latihan dan penambah motivasi,” ujar Nirwan.

Perjalanan Nirwan Anwar sebagai penghafal Qur’an bisa dikatakan sungguh berliku. Pria yang kini menjabat sebagai Dewan Syuro Himab KMFIB-UH menyatakan bahwa jauh sebelum terdaftar sebagai mahasiswa Unhas, ia menjalani studi di suatu pondok tahfidz. Nirwan memulai perjalanannya sebagai hafizh Al-Qur’an sejak kelas satu Madrasah Tsanawiyah (MTs).

“Seusai mondok, saya sudah hafal tiga juz. Lalu sekitar dua tahunan di kampus merah, saya mampu menghafalkan 15 juz. Alhamdulillah tahun lalu sudah khatam, tepatnya Juni 2019,” ungkapnya.

Selain itu, mahasiswa Unhas angkatan 2015 ini juga selalu mengikuti MPQ (Mahasiswa Penghafal Qur’an), RTQ (Rektor Tahfizh Qur’an), dan daurah hafal Qur’an selama Ramadhan demi meningkatkan kemampuan hafalannya. Kebiasaan itu dimulai sejak semester dua. Nirwan bahkan rela melewati Ramadhan tanpa bersama keluarga dan memilih pulang kampung ketika H-3 lebaran.

Ia pribadi mengaku bersedih karena tidak bisa merasakan sahur dan berbuka bersama keluarga. Namun hatinya cukup senang bisa berada di tengah orang-orang yang berjuang menjadi keluarga Allah. Proses menghafal yang melelahkan itu bahkan sempat membuatnya jatuh sakit.

“Selain itu, sewaktu menghafal kadang tidak bisa masuk-masuk hafalannya. Pernah suatau ketika suara saya hampir habis karena selalu mengulanginya dan akhirnya saya pun jatuh sakit,” kenangnya.

Demi memudahkannya menghafal, pria kelahiran Pangaparang,  27 Maret 1997 ini menggunakan Qur’an yang memiliki terjemahan per-kata. Ia juga menitikberatkan bahwa dengan mengerti arti dari ayat surat yang akan dihafal tentu lebih memudahkan proses hafalan. Seiring berjalannya waktu, Nirwan tersadar bahwa tidak hanya mendapatkan banyak pahala, kegiatan menghafal Qur’an bahkan membawa seseorang menjadi ahlullah.

“Kian kemari, saya semakin mengerti keistimewaan para penghafal Qur’an. Salah satu dari sekian bnyak keistimewaannya adalah menjadi ahlullah atau keluarga Allah. Menjadi keluarga orang nomor satu di Indonesia saja pasti bangga, terlebih menjadi keluarga dari Dzat yg menciptakan orang nomor satu tersebut,” tegas Nirwan.

Selain keinginannya menjadi ahlullah, pun didukung oleh cita-cita Nirwan untuk memberikan mahkota kemuliaan bagi kedua orang tuanya di akhirat kelak.

“Saya pun ingin memberikan mahkota kemuliaan bagi kedua orang tua di akhirat kelak. Sebelum bapak meninggal di usia keempat saya, beliau berpesan ke Ibu agar menyekolahkan saya di pondok pesantren. Atas berkat perantara dari usaha Ibu dan pesan Bapak lah, saat ini saya bisa hafal Qur’an,” tuturnya.

Ketika disinggung perihal kiat menghafal, pria yang berasal dari Pinrang ini mengaku bahwa yang terpenting bukan terletak pada senjatanya, melainkan siapa yg berada dibalik senjata itu, yakni penggunanya. Maksud Nirwan ialah bahwa bagian terpenting dari proses menghafal adalah semangat juang besar untuk menghafalkan kalamullah yang mulia, yaitu faktor mental. Selain itu, perlu juga mendengarkan kajian dan ceramah yang bertemakan Quran.

Di samping itu, Nirwan menyatakan bahwa motivasi secara langsung sering ia dapatkan dari orang tua, teman terdekat, senior, hingga asatidz pembimbingnya. Dirinya pun mengaku bersyukur bisa dekat dengan  teman-teman religius yang selalu mengingatkannya untuk menjaga dan meningkatkan kualitas hafalan.

“Saya bersyukur bisa dekat dengan  religius yang selalu mengingatkannya untuk menjaga dan meningkatkan kualitas hafalan,” tutup Nirwan.

Nadhira Sidiki

BACA JUGA