Permintaan Terakhir (Seri 1)

Di dalam suo, saya tidak bisa melihat wajahnya. Di sini sangat gelap, cahaya terlalu sedikit untuk bisa menerangi. Hanya tangan dan kakinya yang perlahan-lahan bisa saya sentuh dan pastikan—semuanya kian melemah dan terasa lunglai. Dalam keadaan tergeletak, juga dengan sisa-sisa tenaganya, ia menjangkau tangan saya. Saya mendekatkan telinga ke bibirnya, ia ingin membisikkan sesuatu.

“Seperti yang kau khawatirkan Ambe,” katanya dengan suara yang terdengar lemah. “Semuanya benar-benar telah terjadi,” ada sedu sedan yang tertahan dari suaranya.

Saya ingin segera meninggalkannya, meninggalkan suo, dan meminta pertolongan. Tetapi ia mencegah saya.

“Biarkan saya pergi! Saya akan meminta pertolongan.”

“Kau hanya akan membuat kekacauan, Ambe. Orang-orang tidak akan percaya, tetaplah di sini,” ucapnya pasrah dan tangannya mulai terasa dingin.

“Saya bisa menjadi saksinya Kamou, semua orang perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini.”

Tangan saya meraba-raba udara, berusaha menggapai pintu. Saya ingin meninggalkan suo dan dirinya, tetapi lagi-lagi ia mencegah saya. Tangan saya digenggamnya dengan sedikit tekanan dari sisa kekuatannya. Saya tahu kalau ia tidak ingin kebenaran ini terungkap. Genggaman ini seperti mengisyaratkan agar saya tidak perlu beranjak. Ia ingin saya terus berada di sampingnya.

“Hanya kau yang tahu Ambe, berjanjilah! Kau tidak perlu membahayakan dirimu dengan menceritakan semuanya,” ucapnya setelah mengatur napasnya yang dari tadi terdengar tak karuan.

“Tetapi… “

“Sebagai permintaan terakhir!” Belum selesai saya berbicara, ia langsung memotong ucapan saya. “Anggap saja ini permintaan terkahir dari teman yang akan pergi selamanya,” katanya dengan penuh harapan meminta kepastian.

Saya mencoba mengamati wajahnya. Namun saya kesulitan memastikan wajahnya dalam gelap. Hanya suaranya saja yang bisa saya dengar. Di dalam suo, kami dikurung dalam gelap agar menjadi kalambe yang taat dan tak tersesat. Tetapi tak saya kira kau harus kehilangan martabat, Kamou. Menangislah, saya tahu ada tangisan yang tertahan, juga kesedihan yang kau sembunyikan.

Di luar, malam sedang sunyi. Tak ada rambi padangga untuk kami menghibur diri. Kami benar-benar telah ditelan sunyi setelah mengurung diri di dalam suo sampai berakhir upacara karia nanti.

“Ambe, apa suara saya masih terdengar?” ucapnya dengan pelan seperti berbisik, setelah tadi saya hanya diam mendengar permintaannya. Tangan saya masih digenggamnya, tapi tak saya rasakan lagi tenaga di jari-jari tangannya.

“Saya masih bisa mendengarmu Kamou,” suara saya tertahan di tenggorokan. Berusaha menahan tangis.

“Biarkan ini menjadi rahasia Ambe, kau tak harus bertanggung jawab untuk menceritakannya kepada siapapun juga.”

“Ambe, berjanjilah? Apa suara saya masih bisa kau dengar?”

Air mata saya hampir jatuh. Sangat bersedih, tetapi tidak bisa menangis. Saya memang tidak boleh menangis. Di dalam suo, kami dilarang menangis jika ingin menjadi kalambe yang memahami empat sisi penjuru dunia—istilah untuk nilai ajaran yang diturunkan pada perempuan yang menjadi kalambe—setelah upacara karia dilangsungkan. Hidup sepertinya memang begitu susah dan celaka untuk kami perempuan maradikka. Jika kami tengah dirundung derita dan bahaya, kami tak pernah bisa untuk dipercaya untuk bercerita. Bukankah begitu Kamou?

“Diammu berarti kau telah berjanji Ambe,” katanya setelah saya tak memberi jawaban apa- apa. “Kau memang teman yang baik dalam penderitaan,” suara itu makin terdengar pelan dan setelahnya, saya tak mengdengar suaranya lagi.

Malam ini adalah malam terakhirmu di dunia. Di tempat yang sangat gelap, tempat paling sunyi untuk undur diri. Padahal hanya sebentar lagi kita akan sama-sama menjadi kalambe seperti yang kau impikan. Sisa satu hari lagi upacara karia ini akan selesai, orang-orang akan menyoraki dan menjunjung kami sebagai perempuan maradikka yang bermartabat. Tetapi  kau sudah pergi Kamou, selama-lamanya sudah pergi.

Tubuh itu segera saya angkat bersama patahan bambu di antara kedua pahanya. Saya lalu mendudukan tubuhnya di atas kursi. Sebentar lagi utusan pomantoto yang mengantarkan makanan akan datang. Saya akan memberitahunya bahwa ada kematian di dalam suo, tanpa harus menceritakan bagaimana kematian itu terjadi. Orang-orang percaya bahwa perempuan yang mati saat upacara karia dilangsungkan, adalah perempuan yang telah rusak jiwanya. Biasanya hal ini dihubungkan dengan keadaan perempuan yang memang telah hilang kesuciannya sebelum melaksanakan karia. Jadi mereka tidak akan mempertanyakan bagaimana kematian itu bisa terjadi.

Dari tempatnya berbaring , banyak tertinggal darah yang menggenang membasahi lantai suo. Sekarang, saya hanya meyakinkan diri untuk menjaga permintaannya. Ia meminta saya untuk merahasiakan ini kepada siapapun. Merahasiakan apa yang saya tahu dan dengar. Setelah dibisiknya ke telinga, permintaan itu terus membuat saya ragu untuk menjaganya.

Catatan:

  1. Suo :Ruangan gelap untuk keluarga bukan bangsawan
  2. Kalambe : Perempuan dewasa setelah melaksanakan karia
  3. Kalambe : Bunyi-bunyi gong untuk menghilangkan rasa gelisah
  4. Karia : Upacara bagi perempuan suku Muna dalam menuju kedewasaannya
  5. Maradikka : Golongan kasta rendah
  6. Pomantoto : Pemandu

Penulis Miftahul Sidik merupakan Juara 1 Cerpen Dies Natalis ke-46 identitas Unhas,

sekaligus Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan.

Post Tags
Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT