Follow

Peserta KKN Perbatasan Atambua Unhas dapat Pembekalan Active Citizens

Editor: Wandi Janwar | Minggu, 16 Juni 2019 - 07:05 Wita | 302 Views
Arisal/Identitas

Mahasiswa Unhas yang terdaftar sebagai peserta Kuliah Kerja Nyata Perbatasan Atambua (KKNPA) angkatan 102, mendapat pembekalan Active Citizens di Ruang Kemandirian Lokal Unhas.

Rencananya kegiatan tersebut dilaksanakan selama tiga hari, yang berlangsung pada Sabtu-Senin (15-17/6). Acara yang dihadiri oleh 37 peserta ini mendatangkan pemateri dari  British Council, Danny Wetangterah.

Supervisor KKN Perbatasan Atambua, Muh Ashry Sallatu menyampaikan, Active Citizens adalah pendekatan yang dikembangkan oleh British Concil dihampir 80 negara.

Active citizens mengajak mahasiswa untuk menjadi pemimpin projek sosial yang mampu memberikan perubahan di mana mereka berada, dan mengajak komunitas agar tidak pasif menunggu orang lain melakukan perubahan untuk mereka,” jelas dosen Hubungan Internasional ini.

Tak hanya itu, Gego, sapaan akrabnya juga menjelaskan, untuk hari pertama dan kedua, peserta akan diberi materi “aku dan kamu”. Materi ini berbicara tentang bagaimana mahasiswa mendapatkan pemahaman dengan orang lain.

Kemudian dilanjutkan dengan materi “kami: bersama”, yang berisi tentang cara mahasiswa bisa memimpin dan terjadinya saling pemahaman dalam komunitas. Dan yang terakhir, “merancang project social”, dimana mahasiswa dibekali kemampuan dalam merancang, melaksanakan dan mengevaluasi project social.

“Dengan ini mahasiswa bisa punya wawasan dan keterampilan terutama komunikasi untuk menjadi pemimpin perubahan sosial dalam komunitas mereka, dalam hal ini pada saat KKN di Atambua,” ucapnya.

Lebih lanjut ia berharap, pihak P2KKN dapat mengadopsi materi active citizens ini sebagai bahan pembekalan bagi mahasiswa yang akan mengabdi di manapun itu.

Turut berkomentar Koordinator Desa (Kordes) KKN Perbatasan Atambua, Sofyan. Ia menjelaskan, pembekalan khusus dengan pelatihan active citizen dari British Council menarik kerena seluruh perserta terlibat aktif.

Mereka dilatih untuk mendesain dan melaksanakan social project dengan empat tahapan, yakni mengindetifikasi kekuatan internal, mengkoordinasikan kekuatan, mengumpulkan kekuatan tersebut, merancang dan beraksi di masyarakat.

“Semoga bisa menjadi wawasan dan skill baru yang dapat diaplikasikan di Atambua nanti,” harap mahasiswa Manajemen ini.

Arisal

BACA JUGA