Follow

Prof Arsunan, Aktivis Professor yang Tetap Produktif

Editor: admin | Kamis, 05 Juli 2018 - 18:01 Wita | 1324 Views

Saat bermahasiswa, dunia organisasi begitu digilainya. Walau telah menyandang gelar guru besar,  Chunank tetaplah dengan hasrat aktivisnya. Tak henti menginspirasi siapa saja utuk mau berbuat lebih.

Pengalaman hidup sebagai seorang aktivis kampus selama 10 tahun, begitu membekas pada sosok jejak langkah identitas kali ini, Prof Dr Arsunan Arsin. Seakan semuanya menjadi modal untuk terus melangkah, memberikan perubahan-perubahan kecil bagi orang-orang di sekitarnya. Mengajarkan bagaimana membuat loncatan demi loncatan, untuk menerobos keterbatasan hidup.

Perjalanan guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat satu ini, tentu patut diacungi jempol. Terlahir dari keluarga sederhana dan banyak menghabiskan waktu di lingkungan kampus. Sampai-sampai menghabiskan waktu 10 tahun untuk meraih gelar sarjana.

Apa saja yang dilakukannya di kampus, hingga menghabiskan waktu satu dekade? Semua itu dijawab Chunank dalam bukunya “Mengalir Melintasi Zaman Menebar Ide Dan Gagasan Tanpa Batas”. Seperti sepotong kata-kata yang disematkan dalam bukunya “Ada masa dalam ber-mahasiswa, di mana hasrat intelektual seperti menggila. Hasrat itu, tentu harus disalurkan secara benar. Bila tidak melalui proses diskusi dan perburuan buku-buku, maka hasrat itu akan tersalurkan dalam organisasi”.

Bagi Chunank, masa bermahasiswa perlu untuk dimanfaatkan. Sebab di situlah kita akan diterpa persoalan yang nyata. Menikmati dinamika berlembaga untuk pembentukan karakter, bukan sekedar menyelesaikan jumlah SKS semata.

Di tengah kesibukannya sebagai aktivis fungsionaris lembaga dan terlibat dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan, Chunank selalu menyisihkan waktunya setiap hari untuk membaca. “Urusan organanisasi memang menyibukkan tapi saya selalu membaca buku paling tidak dua puluh hingga empat puluh halaman setiap harinya,” katanya.

Menurutnya, kesibukan itu adalah keberuntungan, “organisasi sangat bermanfaat, mungkin belum bisa dilihat hasilnya, tapi minimal relasimu dengan orang-orang. Melalui orang tersebutlah dapat medatangkan rezeki,” tutur Chunank, Kamis (3/05).

Salah satu pendiri Korpala (Korps Pencinta Alam) Unhas ini berprinsip bahwa kehidupan akademik dan organisasi adalah sesuatu yang saling mengisi dan melengkapi. Baginya akademik tetap nomor satu, akan tetapi  organisasi adalah satu kesatuan yang melengkapi akademik, akademik di sini berfungsi untuk meningkatkan soft skill.

Memang berlama-lama di kampus, terkadang dianggap negatif oleh sebagian orang. Namun, Chunank berhasil menepis prasangka tersebut. Ia justru dapat membuktikan pada banyak orang, bahwa dirinya tak tertinggal. Justru kesuksesan datang lebih cepat dari perikaraannya.

Anak dari guru PNS ini  berhasil menjadi dosen yang  diperolehnya kurang lebih 24 jam. Bayangkan saja, ia diwisuda pada 10 September 1990 pada jam 12 siang. Dan  pukul delapan pagi, ia sudah dinyatakan lulus tes calon dosen. Ia akhirnya menyandang gelar dosen  sehari setelah wisuda. Chunank berhasil mengarungi kehidupan yang pelik, hingga dapat mencicipi nikmatnya kesuksesan.

Chunank menyadari, pendidikan yang ia tempuh di perkuliahan sangat lama tapi ia membayar semuanya dengan harga yang setimpal. Setelah wisuda Chunank tidak membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan tahunan untuk mendapat pekerjaan. Lebih-lebih gelar professor, ia hanya butuh dua tahun setelah menyandang gelar doktor pada 2004. Saat itu usianya baru 44 tahun, ia terbilang muda untuk gelar itu. “Ini pembuktian saya, bahwa mantan aktivis juga bisa dalam kajian ilmiah dan ilmu pengetahuan,” tegasnya.

Sebenarnya jauh sebelum di wisuda Chunank telah mendapat beberapa penawaran kerja tetapi ia lebih memilih menjadi dosen. Baginya, seorang dosen adalah jalan terbaik untuk berkembang dan tetap memelihara idealisme sebagai aktivis. “Profesi ini juga memungkinkan saya untuk terus merawat iklim intelektual,” tuturnya.

“Mengajar adalah hal yang paling menyenangkan dan momen yang tepat untuk menginspirasi anak-anak muda. Itulah sebabnya, di kelas mana pun saya mengajar, selalu saya siapkan waktu beberapa menit untuk menyemangati mahasiswa,” tambahnya.

Kini, mantan aktivis itu telah menjabat sebagai Sekretaris Komisi 3 Senat Akademik Unhas serta terlibat di berbagai organisasi di antaranya, Majelis Pakar Pengurus Pusat IKA Unhas, Ketua I Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam  (KAHMI) Kota Makassar, Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Sulsel dan organisasi lainnya.

Nurmala

BACA JUGA