Follow

Prof Syukur Abdullah, Sarjana Sospol ke-24 yang Pernah Menjabat Dekan FISIP

Editor: Khintan | Rabu, 21 Agustus 2019 - 07:48 Wita | 114 Views
Foto Prof Syukur Abdullah di bundel identitas. Foto: Arisal/Identitas.

Jujur, rajin, tekun serta rendah hati merupakan kunci sukses kehidupan Prof Sykur Abdullah.

Saat beberapa kali meliput acara seminar di Aula Prof Syukur Abdullah Fisip, identitas penasaran dengan nama tersebut. Bagaimana track record Prof Syukur Abdullah dahulu sehingga namanya digunakan untuk aula itu. Setelah membuka beberapa bundel identitas, penjelasan terkait sosok Prof Syukur Abdullah pun berhasil didapatkan.

Pada masanya, Prof Syukur dianggap sebagai orang yang cerdas dan memberikan banyak sumbangsih untuk masyarakat. Lelaki kelahiran Enrekang ini menjadi mahasiswa terbaik pertama ketika ujian sarjana muda tahun 1961 di Fakultas Tata Praja yang kini dikenal sebagai Fakultas Sosial Politik. Tiga tahun berselang, Syukur menjadi sarjana Sospol ke-24 di Unhas.

Berkat kecerdasan yang ia miliki, lelaki yang tertarik pada dunia filsafat ini mendapat kesempatan untuk berdiskusi dengan para ahli perkembangan politik Indonesia, salah satunya Prof Ben Anderson di Universitas Cornell, Amerika Serikat. Dia mempelajari sistem politik  Indonesia dengan titik tolak pengetahuan dan pengertian lebih dalam mengenai sistem politik barat. Dari sini jugalah ia melihat perbedaan pokok antara sistem politik barat dengan sistem politik yang ada di Indonesia.

Saat masih berstatus mahasiswa, Syukur berusaha membiayai dirinya sendiri dengan melakukan pekerjaan sambilan. Semisal, kala tahun 1959, ia bekerja di Kantor Gubernur Sulsel. Kemudian tahun 1962-1966, ia mencoba hal baru dengan bekerja di perusahaan daerah STT Consern. Lalu, pada tahun 1966 Syukur diterima menjadi dosen di Unhas. Empat tahun kemudian Syukur dipercaya menjadi ketua jurusan administrasi. Jabatan tersebut ia emban  selama tujuh tahun.

Syukur termasuk orang yang dapat memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Saat tahun 1981, misalnya, tatkala ada proyek kerjasama antara Universitas Harvard dengan Indonesia. Berkat kesungguhannya, ia menjadi salah satu dari lima tenaga pengajar di Unhas yang berkesempatan mengikuti workshop on the implementation of studies CambridgeHarvard University.

Lanjut, pada tanggal 2 November 1985, Syukur berhasil meraih gelar doktor dengan yudisium ujian cum laude, setelah mempertahankan disertasi berjudul “Birokrasi dan Pembangunan Nasional Studi tentang Peranan Birokrasi Lokal dalam Implementasi Program-Program Pembangunan di Sulsel”.

“Kesempatan menyabet gelar doktor memberi kesan mendalam buat saya,” ujar Syukur Abdullah, dikutip dari terbitan identitas edisi November 1985.

Berkat kecerdasannya tersebut, Syukur juga pernah didapuk menjadi asisten Drs A R Laliseng di Fakultas Sospol Universitas Sumatera Utara (USU). Syukur menyampaikan bahwa kunci sukses menurut dia terletak pada prinsip dasar yang orang tuanya berikan. Prinsip itu yakni, kejujuran, kerajinan, ketekunan serta rendah hati dari segala hal.

Di mata Sahabat

Dr M Dahlan Abu Bakar sebagai orang yang merasakan kepemimpinannya mengambarkan sosok Syukur yang penuh wibawa.

“Orang yang dianggap cerdas pada masanya, beliau juga seorang pemimpin kampus yang menjadi panutan pada masanya, orangnya juga sangat low profile. Dia semasa dengan Prof Mattulada,” jelas M Dahlan, dikutip dari terbitan identitas edisi Maret 2018.

Pada masa 1950 dan 1960-an masih sangat sedikit orang yang berpendidikan tinggi dan meraih gelar sarjana. Pemerintah membantu dan memberikan kontribusi dari kaum terdidik tidak terkecuali Prof Syukur. Lelaki yang pernah menjabat Dekan Fisip ini banyak mengeluarkan ide dan gagasannya untuk membangun daerah, khususnya di Kabupaten Enrekang selaku tanah kelahirannya.

“Saat itu bupati adalah penguasa tunggal sehingga apapun yang diinginkan bupati pasti jalan dan perguruan tinggi pada saat itu sangat dominan memberikan kontiribusi pada pemerintah daerah,” ujarnya.

Dahlan juga menceritakan kepribadiaan dari sosok Prof Syukur yang menurutnya sangat sederhana dan kalem, “Dia itu kan termasuk sosok yang kalem dan tidak mudah mengumbar kata-kata. Saya tidak mampu mengingat beliau tertawa dengan lepas, yang saya saksikan beliau selalu berbicara secara serius,” kenang Dahlan.

Sosok tersebut kini tidak lagi dapat kita jumpai. Perjalanan dari Enrekang ke Makassar bersama sopirnya merupakan perjalanan terakhirnya. Meski begitu, semangat membangun daerah miliknya tentu dapat menjadi panutan bagi generasi muda masa kini.

Muh. Arwinsyah

BACA JUGA