Follow

Prof WIM Poli, di Antara Sastra dan Facebook

Editor: Sri Hadriana | Selasa, 23 Januari 2018 - 12:10 Wita | 773 Views

Umurnya telah menginjak 80 tahun, tapi semangat dan jiwanya tak pernah tua. Bahkan di masa pensiunnya, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Prof WIM Poli mungkin tak pernah lagi dijumpai di ruang kelas, namun ‘kehadirannya’ justru mudah ditemui di dunia maya: di akun Facebook-nya.

Tiap hari Prof WIM Poli rajin mengupdate status Facebooknya. Ia memposting esai-esai ekonomi, dengan ulasan yang dalam.

Reporter Identitas, Fitri Ramadhani menemui salah satu dosen terbaik yang pernah dilahirkan Unhas ini. Di rumahnya di Jl Kakatua II No 55, Makassar, WIM Poli banyak berkisah tentang guru yang dikaguminya serta pandangannya mengnai mahasiswa sekarang.

Bisa Prof ceritakan pengalaman yang berkesan menjadi dosen?

Yang berkesan adalah mahasiswa itu terkesan, seperti matanya berbinar setelah selesai kuliah dan mereka masih mau melanjutkan, itu kepuasan yang tertinggi, mahasiswa ternyata merasa mereka memperoleh sesuatu dan masih terus mau melanjutkan apa yang mereka peroleh. Itu kepuasan yang paling tinggi dari seorang dosen.

Prof kan berasal dari luar daerah Sulawesi, apa alasan Prof memilih Unhas dan memlih masuk FEB?

Saya tidak pernah berikir dulu untuk masuk ke Fakultas Ekonomi. Saya masuk di FEB itu adalah suatu kebetulan. Karena waktu saya SMA di kupang, saya sudah tertarik pada sastra. Dari kecil guru-guru saya itu memuji karangan saya, kira-kira mulai kelas 4 SD.

Dulu itu, di dalam kelas, ada gambar-gambar besar tanpa teks. Misalnya gambar stasiun kereta, gambar pasar, lalu kami disuruh mengarang. Dan waktu itu karangan saya yag terbaik di antara murid-murid berbahasa Belanda. Karangan saya itu dibacakan lalu dipuji. Dan itu sangat melekat, dan itu saya teruskan ketika saya mengajar dan mahasiswa-mahasiswa yang harus dipuji, saya puji. Karena saya sudah merasakan.

Maka, setelah saya tamat SMA, ada pergolakan Permesta, sehingga hubungan kapal laut dari Kupang ke Makassar terputus. Di Makassar sudah ada kakak saya, jadi saya tinggalkan Kupang dengan kapal lalu mendarat di Bali, menunggu kapal dari Jawa ke Makassar. Menunggu satu bulan. Tidak ada kapal waktu itu.

Waktu itu saya ingin masuk Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Tapi ayah saya tidak mau. Ayah saya, mau saya jadi dokter. Maka setelah satu bulan ada kapal dari Jawa ke Makassar. Saya naik kapal sampai ke Makassar, pada september tahun 1958, Sampai di Makassar, pendaftaran mahasiswa semua sudah ditutup. Tapi saya dengar akan dibuka Fakultas Sastra. Kapan? tunggu saja kapan.

Dan apa yang harus saya buat untuk menunggu terbuka fakultas sastra. Kebetulan Fakultas Ekonomi membuka pendaftaran kedua, maka untuk mengisi waktu, saya masuk. Ada 11 orang, mahasiswa Fakultas Ekonomi tahun 1958. Menunggu Fakultas Sastra dibuka, Fakultas Sastra baru dibuka tahun 1961. Waktu dibuka Fakultas Sastra, saya sudah dapat sarjana muda di Fakultas Ekonomi dan sudah jadi asisten, itu
kebetulan-kebetulan.

Saya tidak tertarik pada ekonomi, saya tertarik pada sastra saya suka mengajar, mengajar apapun, termasuk mengajar ekonomi.

Waktu itu buku-buku di Fakultas Ekonomi dalam bahasa Belanda, bahasa Inggris dan bahasa Jerman. Inikan bahasa yang susah. Tapi karena saya kuasai ini saya membuat ringkasan-ringkasan buku, menarik bagiteman-teman. Maka terpenuhilah keinginan saya sebagai pengajar.

Sebelumnya prof, apakah pernah bercita-cita menjadi dosen?

Tidak, saya tidak pernah merencanakan sesuatu. Saya tidak pernah berpikir akan menjadi profesor. Saya hanya melaksanakan apa yang hari ini saya laksanakan. Apa akibatnya saya tidak tahu.

Yah, ada orang lain, membuat cita-cita. Saya tidak pakai cita-cita. Tapi jangan ikuti saya. Mungkin orang lain lebih cocok pake cita-cita. Saya tidak pake cita-cita hanya pake keinginan untuk berbuat sesuatu dalam bentuk mengajar. Nah, kalau anda mau mengajar, maka belajar dulu kan.

Itu untungnya jadi dosen, dosen yang punya hati yah. Karena ada orang jadi dosen bukan karena apa-apa, mungkin jadi dosen, yah sumber penghasilan. Bukan sumber kehidupan.

Sebagai Guru Besar di FE Unhas, adakah cita-cita yang ingin dicapai?

Cita-cita saya tiap hari. Yah, menulis Facebook. Pagi-pagi kalau anda buka Facebook jam 3 atau jam 4 , sudah ada tulisan saya di sana. Dan itu saya pikir, apa lagi yang bisa saya tinggalkan. Saya sudah umur 79 tahun, kapan saya meninggal, saya tidak tahu. Tapi sebelum saya meninggal, seperti tu, jika saya kumpulkan
tulisan-tulisan saya di Facebook, sekitar 300 halaman itu diterbitkan. Sudah bisa diterbitkan, cuman siapa yang menerbitkan? Siapa yang membiayai saya tidak tahu. Akan datang dengan sendirinya.

Buku-buku apa saja yang sudah diterbitkan?

Buku yang terakhir, adalah tentang istri saya. Itu untuk mengenang meninggalnya istri saya. Tonggak-Tonggak Sejarah Pemikiran Ekonomi, Suara Hati Yang Memberdayakan, Modal Sosial Pembangunan, Iyawandatung Di Tanah Papua, Derita, Karya Dan Harapan Perempuan Papua, Kepemimpinan Strategik, Manajemen Strategis Melalui Cerita Kecil, Rekam Jejak Jusuf Kalla Otobiografi: Fakta dan Makna Sebuah
Perjalanan, Wati Dalam Rekaman, dan masih banyak lagi.

Dari beberapa buku yang sudah prof sebutkan tadi, manakah diantara buku-buku tersebut yang berkesan atau favorit?

Semuanya. Tidak ada anak tiri. Semua ditulis dengan hati, jadi tidak saya anak tiri-kan.

Saya tertarik dengan buku Prof terkait tanah Papua, apakah Prof pernah ke sana?

Tentu, saya meneliti di sana. Saya masuk dikampung. Tidak bisa dilihat dari jarak jauh. Di kabupaten Jayapura. Buku-buku saya yang itu terbit tahun 2008. Ada empat buku saya tentang Tanah Papua, yaitu Suara Hati Yang Memberdayakan, Modal Sosial Pembangunan, Iyawandatung di Tanah Papua, Derita, Karya Dan Harapan Perempuan Papua.

Apa alasannya Prof meneliti ke sana?

Karena ada mantan mahasiswa saya di sana yang diminta oleh bupatinya disana untuk meneliti apa yang sudah dikerjakan. Datang ke sana terbit buku yang pertama. Suara hati yang memberdayakan dan berlanjut terus ke buku berikutnya, dan itupun tidak terencanakan. Bergulir, mengalir, dari satu ke satu. Asal anda punya hati, akan mengalir.

Apa yang menarik dari buku itu?

Orang Papua itu masih lugu, dan mereka itu gampang menjadi teman, dan gampang juga menjadi musuh, kalau dia dikecewakan. Dan itu saya dengar sendiri itu di pesawat terbang. Pada suatu saat saya naik pesawat, ada sejumlah orang Belgia wisatawan dipimpin oleh sebuah pastor yang pernah kerja di Papua. Sebelum mendarat dia memberikan briefing. Dia menceritakan tentang orang Papua yang gampang menjadi
teman, tapi jangan dikecewakan. Dia bercerita dalam bahasa Belanda.

Dia tidak tahu saya bisa bahasa Belanda. Maka saya berhubungan dengan dia, setelah dia bercerita. Saya dulu belajar di Belgia, jadi terjadi kontak yang bagus, dan ketika saya ceritakan cerita ini kepada orang Papua. Betapa senangnya mereka. Itupun terjadi tanpa direncanakan.

Prof suka sastra, buku-buku sastra seperti apa disukai?

Yang paling saya sukai itu buku-buku puisi dan prosa. Disitulah, bapak-bapak pembangunan kita yang dulu mau membentuk generasi masa depan melalui bacaan. Penerbit yang namanya jambatan, jambatan itu kan menghubungkan. Penerbit jambatan itu menerbitkan buku-buku klasik dunia dan harga yang murah.

Waktu itu yang saya beli buku-buku itu di toko buku Kristen disamping gereja Immanuel di jalan Balai Kota harganya itu dalam sen. Bukan rupiah buku kecil-kecil dalam sen. Dari situ orang membaca dan membentuk pikirannya. Kita dihubungkan dengan dunia yang jauh buku-buku klasik dunia. Jadi generasi masa depan gampang dibentuk dengan bacaan-bacaan bermutu pada usia dini. Jadi manusia itu dibentuk wataknya pada usia dini melalui tokoh-tokoh di dalam cerita.

Siapa tokoh yang menginspirasi Prof dan mempengaruhi cara berpikir Prof?

Guru. Guruku yang pertama di taman kanak-kanak. Itu guru wanita orang Belanda, dan dia meninggal pada tahun 1947 di Jepang karena usus buntu, tapi dia memuji saya sebagai orang pintar di kelas. Sehingga pada saat saya tamat SMA dan tinggal di Kupang saya berziarah di kuburannya, dari situ saya tulis sebuah sajak yang berjudul “My Teacher”. Dalam bahasa Inggris. Lalu sajak itu dibaca oleh dosen bahasa Inggrisku di SMA.

Dosen ini saya berjumpa dengannya kembali pada tahun 63 di Salatiga, dia masih memegang karangan sajak saya itu, “My Teacher”. Dan semua tokoh-tokoh guru. Dan hampir semua perempuan. Guru perempuan pertama di TK. Guru perempuan kedua waktu saya dikelas 4 SD. Kemudian guru perempuan saya di kelas 1 SMP. Guru perempuan keempat waktu saya dikelas 1 SMA. Dan semua nya berhubungan dengan karang-
mengarang.

Jadi dulu itu, waktu di SMA misalnya, sebelum liburan guruku itu orang Australia, dia minta, waktu liburan, alami sesuatu lalu tulis sesuatu dan akan dibicarakan saat kita masuk, sewaktu itu rumah saya di tepi pantai. Dan saya liat itu gelombang mengempas di batu-batu karang. Lalu saya tulis itu. Gelombang itu datang memecah batu-batu karang. Gelombang putih seperti domba-domba berlompatan di padang. Dan
itu dia bacakan dikelas, guru bahasa Inggris orang Australia. Nah, bayangkan dibacakan dalam kelas, hati berbunga-bunga.

Guru yang memuji murid secara wajar itu dampaknya besar. Nah itu, waktu saya dikukuhkan jadi Guru Besar, saya meminta admnistrasi untuk mencari mahsiswa yang mendapat nilai A dari saya. Saya undang mereka, duduk di depan, dapat tempat yang terhormat. Lalu saya perkenalkan pada hadirin.

“Inilah orang- orang yang dapat nilai A dari saya.” Dan semuanya itu perempuan kecuali satu. Hampir semua mahasiswa saya yang bright perempuan.

Bisa jadi inspirasi Prof mengajar dari perempuan?

Pertama dari ayah saya, karena ayah saya pendeta, dia terbiasa berkhotbah. Saya masih ingat, waktu itu dia sedang mempersiapkan khotbahnya. Dia baca, saya ngintip yang dia baca, waktu hari minggu ia berkhotbah. Ia mengulangi apa yang dia baca yang saya ikut baca tentang burung elang.

Siapa penulis yang mempengaruhi Prof?

Penulisnya banyak sekali, tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Di bidang sastra, dan bidang apa saja. Dari Indonesia, ada satu perempuan. Saya tidak kenal dia, saya hanya baca sajaknya, orang Batak, judul sajak “ Ibu Telah Meminta Cucu” karya M Poppy Hutagalung.

Kok Prof bisa ingat sekali?

Karena punya perhatian, anda tidak akan ingat bila anda tak punya perhatian. Kalo tidak punya hati. Tidak diingat. Yang lain yang popular, NH Dini itu perempuan.

Tentang status-status Prof di Facebook, Aesop. Dari mana tau?

Dari SD saya sudah babca barang-barang itu. Itu dongeng Aesop saya sudah baca dari SD dalam bahasa Belanda. Jadi pendidikan dulu mendidik kita dari usia dini. Sekarang kita cari kembali refreshing. Kaya sekali itu tulisan Aesop yang 2500 tahun yang lalu tapi masih relevan saat ini, tentang manusia. Apa yang ditulis
tentang manusia tidak pernah ketinggalan jaman.

Ringan pengandaiannya, kenapa dia pilih binatang?

Karena kalo dia tulis tentang manusia, orang kan tersinggung, kalo saya menulis tentangmu orang pasti akan tersinggung. Tapi saya ambil jalan sendiri, jadi ambil kesimpulan sendiri, kaya sekali itu cerita diceritakan kembali. Saya baca di internet, seorang profesor yang mengajar mata kuliah seni. Diwajibkan mahasiswanya
membaca dongeng Aesop dan membuat gambar. Berarti, mereka harus menguasai dulu sebelum menerjemahkan. Jadi apa yang mereka buat itu adalah karya mereka sendiri, itu buka lagi karya Aesop. Itu namanya rekreasi.

Jadi apa yang saya tulis tentang Aesop sekarang, itu sudah saya olah untuk direlevansikan dengan situasi sekarang. Jadi, dongeng-dongeng itu luar bisa dampaknya. Mendongeng pada anak-anak itu luar biasa.

Dongeng kita itu belum dibukukan, padahal dongeng-dongeng itu kita itu kaya sekali. Ada dongeng Papua, kalo masih umur panjang saya masih menulis, dongeng-dongeng Papua kaya sekali, dongeng Sulawesi Selatan kaya sekali, tapi orang lebih menghargai yang dari luar. I Lagaligo misalnya kaya sekali.

Pertama kali main Facebook?

Saya tidak tahu awal mulanya. Tapi saya temukan ini, alat komunikasi yang bagus, bisa saja tidak bagus, ada juga. Kita ambil yang bagus, apalagi saya sudah kurang mengajar, saya masih ingin menyampaikan. (*)

 

BACA JUGA