Follow

Program Pendidikan Jarak Jauh Unhas Dulu dan Kini

Editor: Khintan | Kamis, 21 Maret 2019 - 19:00 Wita | 235 Views
Bundel identitas 1983. Foto: Santi Kartini/Identitas.

Program Pendidikan Jarak Jauh bukan lah hal baru bagi Unhas. Di tahun 1983, Unhas pernah menjadi koordinator penyelenggara PJJ untuk 14 Perguruan Tinggi di Kawasan Timur Indonesia.    

Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) telah diterapkan di Universitas Hasanuddin (Unhas). Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) menjadi fakultas pertama yang melaksanakan PJJ untuk program S2 dan S3. Hal tersebut telah disampaikan melalui lokakarya kesiapan manajemen Pendidikan Jarak Jauh di Malino, (24-26/08/2018) lalu.

Kegiatan itu dibuka Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan, Prof Dr Ir Muhammad Restu MP. Kala itu telah dijelaskan mengenai sosialisasi pelaksanaan, pengelolaan, kesiapan modul dan teknis PJJ itu sendiri.

Baca juga : Program Pendidikan Jarak Jauh, Dosen Mengajar Mahasiswa Unhas Lewat Teleconference

Program pendidikan yang dilakukan via video conference ini dilaksanakan atas dasar instruksi Rektor Unhas, Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu MA. Sebab fakultas tersebut telah memenuhi berbagai kriteria, seperti  memperoleh akreditasi A dan memiliki Sumber Daya Manusia yang cukup memadai.

“Jumlah doktor hampir 60 orang, profesornya hampir 20, sehingga sumber daya pun mampu bersaing. Untuk FKM se-Indonesia, secara kuantitas doktor dan profesor berada di FKM Unhas,” kata Dekan FKM Unhas, Dr Aminuddin Syam, SKM, M Kes, M Med Ed dilansir dari identitasunhas.com.

Ia juga menyampaikan, PJJ berhubungan dengan kebijakan Unhas mengenai revolusi industri 4.0. Selain itu, katanya, PJJ dapat memudahkan mahasiswa program magister dan doktor untuk memperoleh ilmu tanpa harus meninggalkan pekerjaan mereka di daerahnya.

Hingga saat ini, salah satu universitas mitra Unhas dalam program PJJ ialah Universitas Tadulako (Untad). Hal ini dikarenakan Untad memerlukan lulusan S2 Kesehatan Reproduksi.

Nyatanya, Pendidikan Jarak Jauh bukan lah hal baru bagi Unhas. Berdasarkan bundel identitas edisi Juli 1982, Unhas mendirikan Sistem Pendidikan Jarak Jauh Melalui Satelit atau yang biasa disebut Sisdiksat dan mulai beroperasi sejak tahun 1983. Dahulu, gedung Sisdiksat berada di dekat danau Unhas. Sisdiksat menyediakan suatu jaringan telekomunikasi dengan daya jangkau 2000 mil lebih dan menghubungkan 14 perguruan tinggi yang tergabung dalam Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi se-Indonesia Timur (BKS PTN Intim).

Ide tersebut diprakarsai Rektor Unhas masa itu, Prof Dr A. Amiruddin. Sisdiksat bekerjasama dengan Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) dan United States Agency for International Development (USAID).  Metode Sisdiksat bertujuan untuk menguji coba teknologi serta membantu pengembangan PTN di Indonesia Timur. Selain itu, hal tersebut juga menjadikan sistem pembelajaran baru, tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu.

Waktu itu, sistem tersebut memiliki beberapa kemampuan seperti menghubungkan suara (audio), dokumen, grafik, bagan, gambar, dan pengiriman komputer. Kantor Pusat Sisdiksat hanya memiliki 12 karyawan. Adapun enam di antaranya merupakan karyawan tetap. Sedangkan kepala teknisinya masa itu berasal dari fakultas teknik yaitu Ir Tahir Ali.

Dengan menggunakan teknologi yang tersedia pada saat itu, berbagai materi perkuliahan ditawarkan dengan sistem “credit earning”. Lalu, perkuliahan yang disajikan oleh salah satu perguruan tinggi dapat diambil oleh mahasiswa dari perguruan tinggi lain, dan diakui SKSnya.

Selanjutnya, dilansir dari www.unhas.ac.id/rhiza/arsip/kuliah, pada tahun 1994, Unhas mengadakan kerjasama dengan IptekNet BPPT untuk menyediakan link internet berkecepatan 14400 bps. Layanan internet dengan kecepatan seperti itu tersedia di Kantor Pusat Sisdiksat Unhas. Tak hanya Unhas, Sisdiksat di seluruh KTI juga dapat mengakses fasilitas tersebut melalui kanal SCPC dalam mode loopback.

Seiring berjalannya waktu, sistem perkuliahan tersebut tak lagi mampu bertahan. Dana menjadi kendala utamanya. Oleh sebab itu, di awal tahun 2000-an Kantor Pusat Sisdiksat Unhas ditutup. Tak hanya itu, BKS PTN Intim turut dibubarkan. Setelah itu, Konsorsium PTN se-KTI didirikan sebagai gantinya.

Begitulah perjalanan program PJJ di Unhas. Pernah ada lalu tak mampu bertahan karena tersandung dana. Hingga di era teknologi yang semakin berkembang ini, pimpinan Unhas memutuskan mengembalikan sistem PJJ. Tentunya dengan segala kemudahan teknologi saat ini, seharusnya PJJ dapat berjalan dengan baik dan terus bertahan.

Syahidah

BACA JUGA