Follow

Pulang

Editor: Melika Nur Jihan | Jumat, 22 Mei 2020 - 17:18 Wita | 200 Views
Sumber ilustrasi : majalah.tempo.co

Dia kukuh dengan idealis dan cintanya

Memesona para petani, pengamen, pejalan dan gelandangan

Mencaci para kapitalis negeri, karena airpun harus dibeli

Bukankah tanah, air dan udara itu gratis?

Pemuda dengan idealismenya itu

Memaki manusia yang menyiakan alam

Tak bisa tidak bila tak dikotori

Miris!

Limbah dimana-mana, membuatnya resah pada kota

Berpikirlah ia, bahwa alam akan bahagia bila tak ada manusianya

Kegelisahannya menciptakan pergerakan

Berjuang melindungi semua yang dicintanya,

Mengedukasi anak di perbatasan negeri

Menghimpun Pace Mace, untuk lawan para kaki tangan negara,

Yang ingin mengganti sagu dengan sawit, dengan sawah, dan dengan tambang

Membuatnya menjadi pemberontak dalam pikiran para elit kapitalistik

Dia dituduh, dicari, dikejar, ditembaki, dan akhirnya matilah dia

Tuhan yang maha kuasa

Melihat semuanya dengan leluasa

Satu hal yang sudah terlanjur

Mau atau tidak mesti bilang syukur

Pulanglah dia dalam dekapan sang pencipta

Tapi semua kasih dan sayangnya, bersemayam dalam ingatan semesta

 

Penulis : Widya Sari Asis,

Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya,

Angkatan 2018

BACA JUGA