Follow

Rahasia Ilahi

Editor: Ayu Lestari | Jumat, 24 Agustus 2018 - 07:30 Wita | 505 Views
ilustrasi : Renita Pausi Ardila

Masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) mungkin menjadi impian bagi setiap siswa, saat masih duduk di bangku SMA atau sederajat. Untuk masuk ke PTN, pemerintah membuka dua jalur, Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Salah satu syarat kelulusan SNMPTN ditentukan dengan peningkatan nilai rapor siswa per semesternya. Fira, salah satu pendaftar SNMPTN berharap lulus di sebuah PTN sesuai jurusan yang diminatinya, kedokteran. Sayang, harapannya tidaklah terwujud. Sedih sudah pasti dirasakannya. Namun, kesedihan itu tak berlangsung lama, sebab masih ada jalur SBMPTN. Ia akhirnya mendaftar jalur SBMPTN bersama kedua orang temannya, Nesa dan Sasya.

Fira berusaha keras untuk bisa lulus jalur SBMPTN, ia akhirnya membeli sejumlah buku persiapan ujian, serta mengunduh aplikasi yang berisikan kisi-kisi ujian, lalu dikerjakannya dengan baik. Ia menghabiskan waktunya dengan belajar bersama dua orang temannya.

Ujian SBMPTN telah tiba, ketiganya mengerjakan soal dengan serius. Hingga tibalah saatnya mereka membuka hasil ujian tersebut. Dan pada akhirnya, Fira dan kedua temannya harus menelan pil pahit. Takdir ternyata belum berpihak pada mereka. Kecewa untuk kedua kalinya kini dirasakannya. Namun, Fira tak berhenti di situ saja. Ia mencari informasi kesana-kemari tentang kampus impian yang berada di daerah ibu kotanya itu. Berita baik diterimanya, kampus impiannya itu ternyata membuka jalur mandiri. Fira mengabari dan mengajak kedua temannya untuk mendaftar jalur mandiri. Mereka kembali mendaftar bersama-sama.

Beberapa waktu telah berlalu, pengumuman peserta yang lulus jalur mandiri pun tiba. Fira merasa senang saat melihat namanya terpampang pada portal dengan predikat lulus. Namun di sisi lain, Fira juga sedih karena kedua sahabatnya masih belum bisa bergabung bersama di kampus impian mereka. Keduanya tidak lulus. Selain itu, Fira juga merasa bimbang karena ia hanya lulus di pilihan keduanya.

Kendati, Fira tetap menghubungi kedua temannya itu untuk saling menguatkan. Tak lupa, Fira juga menghubungi orang tuanya untuk mengabarkan kebimbangan yang dirasakannya. Kedua orang tuanya senang mengetahui anaknya lulus. “Alhamdulillah, Kamu lulus pilihan ke berapa ? ” tanyanya orang tua Fira. Berselang beberapa detik ia menjawab dengan nada sedih “Pilihan kedua,”

Ibu kandung Fira tahu betul keinginan besar anaknya untuk menjadi dokter, namun apalah daya, takdir berkata lain. Sang ibu tetap menguatkan Fira dengan memberinya pilihan lain. “Bila kamu ingin mencoba tahun depan, tidak apa-apa. Itu terserah padamu, Nak.” Katanya kepada sang anak. Fira pun terdiam sejenak mendengar titah ibunya itu. Ia membayangkan kebahagiaan orang tuanya saat mendengar ia berhasil masuk ke kampus impiannya.

Segala kebimbangan ia coba hilangkan dalam hatinya. Ia akhirnya menguatkan diri untuk tetap bertahan pada ketentuan Allah. Dengan mengucapkan basmalah dalam hati. Fira berkata pada ibunya bahwa ia akan tetap pada pilihannya itu.

Sebelumnya, ia merasa kuat karena sering mendengarkan ceramah di masjid maupun di acara televisi. Kebanyakan dari ceramah yang ia dengarkan itu menyampaikan terjemahan ayat Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 216 yang berbunyi, “Boleh jadi kamu membenci  sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu: Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Ia renungkan lama-lama ayat ini, mungkin saja ini isyarat dari Allah. “Mungkin inilah jalan kesuksesanku di masa depan nanti,” pikirnya. Ia akhirnya menghilangkan segala kebimbangannya itu dengan berbaik sangka kepada Qadarullah, bahwa inilah yang terbaik baginya, karena Allah memberikan sesuatu yang kita butuhkan, bukan yang kita mau.

Terdengar kabar tentang kedua temannya, Nesa dan Sasya yang  tetap melanjutkan pendidikannya meski tidak di kampus impiannya. Namun, keduanya tetap melanjutkan mimpinya dengan berkuliah di jurusan pilihannya. Nesa lanjut di salah satu kampus swasta yang bisa mengantarnya menjadi apoteker. Sedangkan Sasya mengambil jurusan pendidikan, sesuai passion-nya.

Dari kisah di atas, bisa kita petik hikmahnya dengan tetap berbaik sangka atas garis hidup yang telah ditentukan Sang Pencipta kepada kita. Yakinlah bahwa Allah akan memberikan warna lain, hingga akhirnya garis itu menciptakan lukisan yang bermakna.

Nesa dan Sasya, walaupun belum rejekinya untuk berkuliah di kampus yang diidamkan. Ia bersyukur masih diberikan kesempatan untuk meraih cita-citanya. Nesa dan Sasya percaya bahwa rejeki sudah ada yang mengatur. Seperti yang tertulis dalam Al-Qur’an Surah At- Thalaq ayat ketiga, “Dan Dia Memberinya rejeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”

Hidup ini rahasia Ilahi. Semua sudah diatur oleh sebaik-baiknya Pengatur. termasuk rejeki, marilah kita bersama-sama berbaik sangka dan bersyukur kepada Sang Maha Pemberi. Dengan bersyukur, maka Allah akan tambahkan nikmat-Nya. Bahagia lahir batin akan didapatkan. Insyaallah. Janji Allah itu pasti.

 

Penulis : Fitri Ramadhani

Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris,

Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Angkatan 2016,

Staf Penyunting PK Identitas Unhas 2018.

BACA JUGA