Follow

SCL, Dosen-Mahasiswa Bak Mandor-Buruh

Editor: Renita Pausi Ardila | Rabu, 10 Oktober 2018 - 12:52 Wita | 397 Views
Drs Patrice Lumumba MA. Foto: Identitas/Arisal

Semenjak Unhas berganti kepemimpinan pada 2006 lalu, arah dan Rencana Strategis (Renstra) utama Unhas pun berubah. Di bawah pimpinan Prof Idrus Andi Paturusi lah terjadi perubahan proses belajar mengajar mahasiswa dan dosen di dalam kelas. Dari metode ‘teaching’ menjadi Student Center Learning (SCL) atau metode pembelajaran facilitating. Dengan metodi ini mahasiswa diajak berkreasi, berpendapat serta berpikir kreatif dengan berbagai metode seperti Study Case (SC), Experient Learning (EL), Project Based Learning (PBL), dan Collaborative Learning (CL).

Namun melihat realita Drs Patrice Lumumba MA, dosen program studi Hubungan Internasional (HI) Unhas, tidak setuju dengan penerapan SCL di kampus merah ini. Menurutnya  belum tepat sebab proses pengedukasian di kelas belum mencapai target sebagaimana manfaat SCL sendiri. Berikut kutipan wawancara reporter identitas Unhas Madeline Yudith, Kamis (4/9).

Mengapa anda tidak setuju dengan penerapan SCL di Unhas?

Maksud ketidaksetujuan saya karena belum memungkinkan 100% untuk bisa diterapkan. Satu mata kuliah diisi oleh 2 sampai 3 pengajar, diantara 3 pengajar itu belum tentu ada keselarasan kemampuan ilmu dalam menyampaikan pada mahasiswa. Dengan adanya SCL, seolah-olah mahasiswa itu dianggap sudah mumpuni (qualified). Banyak dosen memanfaatkan secara keliru penggunaan SCL ini. Dosen seakan bebas beban kewajiban ilmu.

Apa yang menyebabkan konsep SCL ini belum bisa diterapkan?

Benang kusut dari awal sudah ada. Pada dasarnya, pemberian tugas itu memiliki tujuan untuk mengevaluasi kemampuan daya cerna dan tangkap mahasiswa atas materi yang diberikan. Setelah itu,  dosen kemudian mengevaluasi dan memberikan keterangan salah dan benar. Namun yang terjadi saat ini tidak seperti itu.

itu dianggap pembendaharaan ilmunya itu sudah cukup/mumpuni, mulai dari tetek bengek halaman, titik, koma itu materi yang diberikan mahasiswa, harusnya dia sudah kuasai. Kalau tidak seperti ini, mahasiswa hanya mengerjakan tugas untuk nilai , bukan demi mengetahui apa yang ditugaskan. Karna mahasiswa berpikir bahwa dosen hanya memberi tugas tanpa melakukan evaluasi atas tugas tersebut.

Menurut anda, sebagai dosen seharusnya bagaimana?

Dosen itu bukan wasit. Dosen adalah motivator sekaligus leader, itulah baru makna yang sesungguhnya tentang SCL. Dimana dosen harus mempunyai pembendaharaan ilmu yang cukup mulai dari tetek bengek halaman, titik, koma materi yang diberikan mahasiswa.

Dosen-dosen muda seharusnya menempatkan paradigma pendidikan itu apa kepada mahasiswa, apa yang lebih utama antara substansi ilmu atau metode mengajar. Sebaik-baiknya metode tapi kalau bekal ilmunya kosong, yah mahasiswa yang rugi. Saya pernah mendengar, korupsi 5 menit terlambat waktu mengajar itu dosa. Itu benar, sebab mahasiswa punya hak karena mereka membayar UKT (Uang Kuliah Tunggal).

Masalah apa saja yang ditemukan dalam pelaksanaan SCL di dalam kelas?

SCL tidak diberlakukan 100%. Kita (dosen) memasukkan bahan ajar di portal akademik demi memudahkan proses belajar mengajar. Kemudian proses pembelajaran dikelas tatap muka, belum tentu semua mahasiswa akan paham materi yang diajarkan. Apalagi dengan penggunaan instrumen pembelajaran yang dianggap bisa memudahkan, tapi dalam kenyataannya justru terkendala diberbagi hal.

Beban mata kuliah yang terlalu berat per-semesternya membuat proses belajar mengajar seharian tidak efektif. Juga korelasi antar mata kuliah yang diajarkan di semester sebelumnya dengan semester selanjutnya tidak relevan. Ini disebabkan dosen yang memaksakan diri untuk mengajar bukan pada bidangnya. Hanya demi memenuhi jam kerja.

Hubungan antara dosen dan mahasiswa kini lebih seperti hubungan mandor dengan buruh. Dosen memberi tugas layaknya mandor, mahasiswa mengerjakan tugas dengan segala beban yang diberikan layaknya buruh.

Apa solusi menurut anda dari masalah penerapan SCL yang kurang efektif ini?

Dua pihak memperbaiki diri, dalam hal ini universitas dan dosen-dosen yang mengajar. Kasian mahasiswa sudah membayar UKT mahal, kemudian fasilitas yang diberikan pihak universitas tidak sebanding dengan jumlah pembayaran tersebut.

Kalau dosen saja tidak memilki kemampuan yang cukup atau mumpuni sebagai tenaga pengajar. Bagaimana dia mampu membentuk mahasiswa yang dalam hal ini adalah orang-orang yang harusnya mampu memberikan sumbangsi demi masa depan bangsa yang lebih baik.

Apa harapan anda untuk mahasiswa saat ini?

Harapan saya, cobalah mahasiswa mengubah pola pikirnya yang pragmatis. Jangan hanya sekedar kuliah, dapat gelar kemudian kerja bukan untuk mengembangkan ilmu. Ini sudah melenceng dari tujuan pendidikan itu sendiri. Tapi ini bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawab mahasiswa. Pemerintah dalam hal ini juga harus ikut campur tangan menciptakan lapangan kerja yang luas. Tidak hanya itu, juga menciptakan program-program yang ditujukan untuk mahasiswa, bertujuan untuk memecut motivasi kuliah mahasiswa. Intinya, misi kuliah ini harus jelas. Jangan asal kuliah.

 

DATA DIRI:

Nama: Drs Patrice Lumumba MA

Tempat Tanggal Lahir: Makassar, 12 Oktober 1961

Pendidikan:

  1. S1 HI di FISIP Unhas 1980-1985
  2. S2 Program Kajian Wilayah Amerika (American Studies) UI, 1997.

 

Madeline Yudith

 

BACA JUGA