Follow

Selamat Datang di Dunia Mahasiswa

Editor: Ayu Lestari | Selasa, 18 September 2018 - 09:20 Wita | 150 Views
ilustrasi : Renita Pausi Ardila

Sejak diumumkan melalui website, para mahasiswa baru itu akan melakukan registrasi di kampusnya. Berseragam hitam putih, seperti para calon karyawan yang ingin mendaftar kerja atau sedang magang di perusahaan. Rambutnya pun disisiri serapi mungkin. Tak lupa membeli sepatu baru untuk memasuki dunia yang baru pula.

Rasa bangga terpancar dari matanya saat memasuki pintu utama kampus, dengan pemandangan air mancur yang setiap saat memancarkan airnya. Sikap percaya diri mengantarkan dirinya ke Gedung Registrasi. Menyodorkan beberapa lembar kertas yang tersusun rapi.

Setelah proses registrasi usai, ia akhirnya memeroleh sebuah kartu multifungsi. Namanya KTM (Kartu Tanda Mahasisswa). Kunamai kartu multifungsi, karena kartu ini juga bisa digunakan sebagai ATM (Anjungan Tunai Mandiri). Selanjutnya, mereka akan membayar UKT (Uang Kuliah Tunggal) yang telah ditetapkan jumlahnya. Untuk mahasiswa lulusan jalur non subsidi, mungkin saja akan waswas melepaskan duit sejumlah ratusan juta rupiah, untuk membayar UKT sekaligus uang pangkal pendidikan.

Proses penerimaan mahasiswa baru pun segera dimulai. Riuh tepuk tangan bergemuruh kala rektor mengucapkan selamat datang di Kampus kenamaan itu. Tak lupa Rektor juga memaparkan status kampus tersebut yang telah mandiri mengelola kampusnya sendiri. Para mahasiswa baru semakin bangga dengan penyampaian sang rektor tersebut.

Para mahasiswa baru itu memang cukup bangga bisa berkuliah di kampus ternama ini. Memakai almamater yang menutupi baju putihnya. Namun, keadaan berbalik 360 derajat ketika akan memasuki tahap pengaderan. Melihat senior dengan muka garangnya. Apalagi saat senior membusungkan dadanya, sambil berteriak dengan pengeras suara memerintahkan mereka berbaris bersama mahasiswa baru lainnya.

“Selamat datang Maba botak, tolol, di kampus Neoliberal ini, kalian telah salah memilih kampus,” teriak sang senior. Ia juga menyuruh Maba tersebut memakai atribut berupa pita dan sebagainya sebagai identitas. Apabila si Maba tidak memenuhi segala aturan senior, maka ia akan mendapatkan hukuman yang bisa mencederai fisik bahkan mental. Rasa takut pun akan semakin menjadi-jadi pada Maba.

Setelah proses penerimaan Maba selesai, rasa ketakutan itu masih berlaku. Bukan lagi pada senior, melainkan kepada dosen. Di dalam kelas, dosen akan merajai para mahasiswa. Bersifat otoriter. Segala yang diucapkan dianggapnya paling benar. Mahasiswa yang protes akan di-error-kan. Tak ada yang bisa menentang sang dosen.

Fenomena tersebut mengingatkan pada kutipan Soe Hok Gie dalam buku Zaman Peralihan. Gie memberi pesan menjadi mahasiswa dengan ‘M’ besar yang selalu peka melihat kejanggalan-kejanggalan di dalam kampus, dan janganlah menjadi mahasiswa dengan  ‘kecil. Gie pun menulis “Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman se-ideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menegah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi”.

Sejalan dengan apa yang telah ditulis oleh mahasiswa sejarah Universitas Indonesia ini. mahasiswa masih terbelunggu oleh “culture of fear”. Mengutip tulisan Rydho Bagus di Inspirasi.co bahwa ‘Culture of fear’ adalah sebuah budaya ketakutan yang membelenggu segala tindakan. Ketakutan yang seakan bertindak menekan secara perlahan. Ketakutan itu juga menekan segala pemikiran sebagai seorang akademisi yang seharusnya bebas untuk berpendapat. Ketakutan itu seperti: ketakutan untuk mengutarakan pendapatnya, ketakutan mendapat nilai jelek karena menentang pemahaman dari dosen, ketakutan jika argumentasi yang dilontarkan menyingung hati dosen, dan ketakutan melihat segala macam penyelewangan-kejanggalan-manipulasi untuk dibenarkan kembali.

Bentuk penindasan masih terjadi di tempat produksi pengetahuan. Perlu direfleksi untuk segala bentuk penindaaan tidak lagi terjadi. Sejatinya masa kuliah adalah masa untuk mengasah potensi yang dimiliki bagi setiap individu. Potensi itu seperti keahlian dalam memanajemen organisasi, teknik kepemimpinan, kemampuan untuk mengorganisir dan lain-lain. Kuliah bukan seperti kursus yang hanya berangkat untuk belajar di kelas, setelah selasai kemudian  kembali ke rumah.

Hal ini bisa ditempuh oleh mahasiswa baru yang akan menjelajahi dunia kampus dengan berorganisasi. Belajar di kelas tidak cukup, ruang belajar banyak di kampus baik melalui organisasi, forum diskusi, atau membaca buku.

 

Penulis : Muh Nawir

Staf Penyunting PK Identitas Unhas 2018

Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan,

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unhas,

Angkatan 2015

 

 

BACA JUGA