Follow

Sociopreneur, Solusi Perubahan Sosial dengan Pendekatan Wirausaha

Editor: Urwatul Wutsqaa | Selasa, 26 November 2019 - 12:00 Wita | 126 Views
Foto : Istimewa

Ketika menyebut kata entrepreneur apa yang pertama kali terbesit di pikiran teman-teman?. Istilah ini tentu tak asing lagi di telinga kita, utamanya kaum milenial saat ini. Enterpreneur yang dalam bahasa indoesia berarti wirausahawan selalu identik dengan bisnis.

Namun tahukah kamu ada istilah lain dari kata entrepreneur yang mungkin kalian belum ketahui?, istilah itu adalah sociopreneur, seorang entrepreneur yang melakukan kegiatan bisnisnya dengan tujuan memperdayakan lingkungan.
Jika interpreneur pada umunya hanya fokus menghasilkan profit, sociopreneur juga berfokus membuat perubahan sosial. Memulai bisnis dengan model seperti ini butuh proses, komitmen dan persiapan yang matang. Prospek kerja di bidang ini pun sangat mumpuni, selain berwirausaha juga dapat membawa manfaat bagi orang banyak.

Untuk mengulas lebih dalam mengenai sociopreneur, reporter identitas, Muhammad Arwinsyah berkesempatan melakukan wawancara dengan Baban Sarbana, seorang sociopreneur, sekaligus Founder Kampung Wisata Edukasi Gizi Seimbang (Zimba) serta pendiri Yayasan Berkah Yatim Mandiri (YatimOnline). Berikut kutipan wawancaranya saat mengisi kegiatan Training Inovasi Pemberdayaan yang diadakan Beastudi Indonesia, di Yogyakarta, Minggu (05/08).

1. Apa pendapat Anda tentang Sociopreneur?

Sociopreneurship adalah pilihan solusi di masyarakat untuk menyelesaikan masalah sosial melalui pendekatan wirausaha. Banyak cara untuk mewujudkan kesejahteraan di masyarakat, salah satunya sociopreneurship. Kini, sociopreneur menjadi gaya hidup dan jalan hidup bagi banyak orang, termasuk kaum milenial untuk menjadi bagian dari proses perwujudan kesejahteraan masyarakat.

2. Apa yang membuat anda memilih bidang ini?

Saya memilih bidang ini bukan karena tertarik di bidang sociopreneur. Tetapi, karena panggilan/calling ketika memutuskan untuk kembali ke desa, membangun masyarakat dan memilih sociopreneurship sebagai metodenya.

3. Usaha-usaha apa saja yang Anda lakukan di bidang ini?

Saya melakukan sociopreneurship melalui 3 pendekatan, yang saya singkat menjadi GEOpreneur. GEOpreneur merupakan singkatan G (Goals), E (Empowerment) dan O (Organization).
– Goals dimulai dari dua hal, pertama memahami masalah dan potensi yang ada di masyarakat, kemudian merancang tujuan-tujuan berjangka yang menjadi rencana pencapaian. Sejak 2010, terhitung hamper 10 tahun hingga saat ini, kami berproses dengan dinamika dan potensi masyarakat untuk menentukan tujuan bersama dan berikhtiar mewujudkannya.
– Empowerment adalah proses pemberdayaan masyarakat, melalui berbagai pendekatan, mulai dari aspek pendidikan, ekonomi dan kesehatan. Pemberdayaan masyarakat adalah proses berkelanjutan yang harus terus berjalan, hingga masyarakat bisa membantu dirinya sendiri.
– Organization adalah mendirikan organisasi untuk mengelola kegiatan sociopreneurship yang berbadan hukum, mulai dari yayasan, koperasi hingga badan usaha.
GEOPreneur inilah yang menjadi platform untuk dalam pelaksanaan sociopreneur yang kami lakukan.

4. Bagaimana mahasiswa dapat meningkatkan kreativitasnya di bidang ini?

Mahasiswa harus lebih peka untuk mendefinisikan masalah dan potensi yang ada di masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Mahasiswa juga harus banyak belajar, baik dari literatur maupun belajar dari praktik-praktik yang telah dilakukan oleh para pendahulunya. Yang lebih penting adalah memanfaatkan teknologi yang semakin pesat berkembang untuk mengelola sociopreneuship, sehingga menjadi technosociopreneur.

5. Kreativitas/skill apa saja yang mesti mahasiswa miliki agar mampu membangun semangatnya untuk bergerak di bidang ini?

Melatih kemampuan berpikir seperti HOTS (High Order Thinking Skill) sehingga kita bisa menjawab masalah dari berbagai sudut pandang. Kreativitas seperti ini akan menghasilkan mahasiswa yang tidak hanya pintar (memahami banyak hal dari satu sudut pandang), akan tetapi juga menghasilkan mahasiswa yang bijak (memahami satu hal dari banyak sudut pandang). Kreativitas dalam menulis juga perlu dilatih, karena socipreneurship adalah kemampuan membangun narasi yang menyentuh hati banyak orang dan menggerakannya. Yang terakhir, kreativitas dalam meningkatkan kompetensi digital, sehingga bisa menjadi pemenang dalam era digital.

6. Mengapa mahasiswa mesti bergerak di bidang ini?

Mahasiswa adalah agen perubahan atau agent of change, oleh karena itu harus menekuni sociopreneurship, karena sociopreneurship adalah bagian dari upaya melakukan perubahan di masyarakat. Mahasiswa juga adalah iron stock, generasi penerus yang akan memastikan bangsa ini sampai pada cita-citanya sesuai janji kemerdekaan, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan.

7. Bagaimana prospek kedepannya?

Prospek sociopreneurship sangat bagus, karena berkembang pesat sesuai dengan kemajuan teknologi. Jika dulu, aktivitas sosial seolah terpisah dengan bisnis, maka pendekatan sociopreneurship saat ini bisa menjadi pilihan tepat bagi mahasiswa sebagai pilihan jalan hidupnya.

8. Perencanaan apa saja yang mesti dimiliki agar mampu membangun jiwa Sociopreneur?

Saya menyebut proses perencanaan ini dengan singkatan KEPOlogi, yaitu:
– Kondisi. Memahami kondisi masyarakat yang menjadi obyek kegiatan pemberdaayan ekonomi masyarakat. Mendefinisikan masalah dengan sejelas-jelasnya, karena memahami masalah adalah bagian dari menghasilkan solusi.
– Elaborasi. Melakukan elaborasi potensi yang bisa digali di masyarakat dan sekitarnya. Galian potensi yang sekaligus bisa menjadi potensi menyelesaikan masalah.
– Program. Menyusun program bersama dengan masyarakat dan stakeholders (pemerintahan desa, komunitas, akademisi, dll)
– Optimalisasi. Menyusun tujuan-tujuan berjangka ke depan untuk bisa mengoptimalkan potensi dan jaringan yang ada; serta menyusun program-program yang tertata untuk mewujudkannya.

9. Apakah mesti punya role model dalam melakukan kegiatan kedepannya?

Sociopreneur harus memiliki role model untuk mempelajari kesuksesan dan kegagalan dalam mencapai tujuan yang ditetapkan. Role model bisa dipelajari baik secara langsung maupun melalui media digital. Role model juga bisa dijadikan sebagai mentor yang bisa memberikan gambaran jalan yang akan ditempuh sebagai sociopreneur.

10. Harapan Anda terhadap Sociopreneur kedepannya?

Saya harap seorang sociopreneur menjadikan dirinya sebagai Angel of Change (malaikat perubahan) yang tidak pernah berhenti belajar.

Data Diri :
Nama Lengkap: Baban Sarbana
TTL: Bogor, 6 Agustus 1974
Riwayat Pendidikan:
S1 Universitas Pakuan, S2 Universitas Indonesia, S3 IPB (Masih Kuliah)
Pekerjaan: Wiraswasta
Riwayat Organisasi:
– Pendiri Yayasan Berkah Yatim Mandiri (YatimOnline)
– Founder Kampung Wisata Edukasi Gizi Seimbang (Zimba)
– Pendiri Yayasan Pusat Pembelajaran Ilmu Berguna
– Pengurus DPP KNPI
– Pengurus Nasional Karang Taruna

 

BACA JUGA