Follow

Sumber Daya Maritim, Kunci Jadi Kampus Hemat Energi

Editor: Sri Hadriana | Rabu, 21 November 2018 - 07:30 Wita | 135 Views
Foto: istimewa

Program kampus ramah lingkungan sebenarnya sudah dicanangkan oleh Unhas sejak belasan tahun lalu. Konsep dan nama untuk mewujudkan cita-cita Unhas itu pun berubah-ubah. Mulai dari Unhas Green Community (UGC), Green, Healthy, and Safer (GHS), dan terakhir Green and Clean Campus (GCC).

Pembahasan ihwal kampus ramah lingkungan juga termaktub dalam buku yang berjudul Rencana Strategis Unhas 2016-2020. Salah satu poin cukup menarik dalam buku itu soal upaya merealisasikan GCC ialah kampus mandiri energi dan air. Untuk mencapai target itu, setidaknya Unhas harus menciptakan pemanfaatan energi alternatif. Gunanya tentu untuk mengurangi komsumsi energi. Kendati, usaha penghematan listrik seperti mengganti penggunaan lampu merkuri menjadi LED sudah dilakukan. Namun, penggunaan energi terbarukan atau energi alternatif sampai saat ini belum tercapai.

Hingga kini, Unhas diketahui masih memakai 100% listrik dari PLN. Kenyataan ini membuat impian Unhas menjadi kampus mandiri energi dan air masih membutuhkan waktu lama. Melihat realita tersebut, salah seorang peneliti di bidang mikrobiologi yang juga dosen Departemen Biologi Unhas, Dr Sulfahri mengutarakan, Unhas mestinya sudah mengembangkan energi alternatif. Ia juga menyayangkan, kampus kurang memanfaatkan para ilmuwan yang dimiliki untuk mewujudkan penggunaan hemat energi tersebut. Berikut kutipan wawancara reporter identitas Unhas, Nurmala dengan Sulfahri, Sabtu (3/11).

Sampai saat ini, ternyata Unhas masih mengonsumsi 100% listrik dari PLN, bagaimana pendapat Anda?

Saat ini Unhas memang masih belum mengarah ke pengembangan renewable energy. Setiap bulannya, penggunaan listrik di Unhas sangat besar, dan tentu menguras banyak biaya. Oleh karena itu, penting bagi Unhas untuk mengembangkan energi terbarukan yang lebih murah dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang ada.

Energi terbarukan seperti apa yang menurut Anda lebih murah?

Misalnya, setiap hari terdapat banyak seresah daun yang justru tidak dimanfaatkan di Unhas. Jika seresah daun yang berjatuhan setiap hari itu dikumpul dan diolah menjadi bioenergi, maka akan menjadi energi terbarukan, dan bisa menghemat pengeluaran Unhas. Meskipun ada biaya investasi di awal yang cukup tinggi.

Selain itu, apakah masih ada energi alternatif?

Ya! Salah satu upaya yang bisa dilakukan ialah memanfaatkan sumber daya berbasis maritim. Misal penelitian yang saya kerjakan soal alga yang dapat menjadi energi bahan bakar. Terdapat banyak alga yang dapat hidup di lautan, dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pengembangan energi alternatif.

Bisakah Anda menjelaskan, bagaimana alga bisa menjadi energi bahan bakar?

Penelitian membuktikan, cadangan minyak bumi di Indonesia hanya cukup untuk 12 tahun lagi. Dan, pada tahun 2027 diprediksi cadangan minyak itu akan habis. Lalu, Henry Ford pernah mengatakan kepada New York Times pada tahun 1825, “Ethanol will be the fuel of the future”, artinya bioetanol akan menjadi bahan bakar masa depan. Bioetanol dapat dikembangkan melalui tanaman yang banyak tumbuh di lahan Indonesia yang sangat subur dan luas, termasuk dari alga.

Apakah penelitian Anda itu bisa diterapkan di Unhas?

Bisa. Suhu, dan kondisi lingkungan Indonesia sangat mendukung bioproduksi biomassa berbasis alga sebagai bahan baku pembuatan bioetanol. Indonesia memiliki sinar matahari sepanjang tahun yang sangat potensial dimanfaatkan untuk kultur alga.

Para peneliti di Unhas mestinya mampu memanfaatkan potensi alga itu. Dan, Unhas bisa menjadi pusat bioetanol berbasis alga sebagai konsep green energi yang terbarukan. Saatnya kita menerapkan konsep mandiri energi melalui pemanfatan alga Spirogyra sebagai bahan bakar masa depan yang dapat diperbaharui.

Menurut Anda, apa upaya yang harus dilakukan Unhas untuk memanfaatkan peneliti-penelitinya dalam menghasilkan energi alternatif?

Unhas harus memacu dan memfasilitasi dosen untuk melakukan hirilisasi hasil penemuannya.

Dari hasil penelusuran identitas, Unhas menargetkan masuk dalam peringkat 10 Green Metric UI, kiat-kiat apa yang perlu dilakukan untuk mencapainya?

Pertama, manfaatkan seluruh seresah daun menjadi pupuk kompos dengan membuat perusahaan sendiri untuk mengolahnya karena selama ini ribuan ton seresah terbuang percuma (bisa melakukan studi banding di ITS Surabaya). Kedua, manfaatkan sumber daya maritim untuk menghasilkan bahan bakar ataupun listrik,

Jika melihat kondisi Unhas saat ini, apakah Unhas bisa mencapai target masuk dalam peringkat sepuluh Green Metric UI? Dan tahun berapa target tersebut bisa terealisasi?

Bisa namun masih sangat lama karena usahanya belum terlihat. Saya memprediksi 2045.

Apa harapan Anda terhadap Unhas soal keinginannya menjadi kampus ramah lingkungan?

Untuk menjadi universitas yang besar haruslah dilandasi oleh penelitian yang berkualitas dan modern. Penelitian yang berkualitas harus lah didukung oleh referensi yang berkualitas pula. Sementara, saat ini Unhas masih belum berlangganan referensi berkualitas. Unhas bisa mencontoh kampus Institut Teknologi Surabaya yang telah berlangganan selama 10 tahun (sejak 2007) beberapa sumber referensi berkualitas, contohnya www.sciencedirect.com.

Bila Unhas melakukan hal yang sama, maka publikasi akan menjadi semakin berkualitas. Selanjutnya tinggal melakukan upaya hilirisasi ke penerapan teknologi untuk aplikasi hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan.

 

Data Diri:

  • Nama: Dr. Sulfahri,S.Si.,M.Si
  • Tempat, tanggal lahir: Tanete-Bulukumba, Sulawesi-Selatan, 26 Januari 1989.
  • Riwayat Pendidikan:
  • S1 Biologi bidang Mikrobiologi di Jurusan Biologi ITS Surabaya
  • S2 Biologi bidang Mikrobiologi di Departemen Biologi Universitas Airlangga Surabaya,
  • S3 di Jurusan Doktoral Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang.
  • Prestasi:
  • Peraih Outstanding Inventors pada International Exhibition for Young Inventors yang diadakan oleh Japan Institute of Invention and Innovation di New Delhi, India.
  • Lulusan terbaik Universitas Airlangga.
  • Peraih penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kategori penerima Beasiswa Unggulan dengan output penelitian terbaik karena lulus S2 hanya dalam waktu 10 bulan dengan kategori cum laude dan hasil penelitian dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi di Amerika Serikat.
  • Penghargaan 10 tokoh muda berprestasi Indonesia yang diprediksi akan memberikan perubahan untuk Indonesia tahun 2045 oleh tempo institute Pada tahun 2018,
  • Karir:
  • Dosen Departemen Biologi, FMIPA
  • Tim edior dan reviewer di jurnal Internasional Biofuels yang terindeks scopus dari publisher Taylor & Francis dari negara Inggris.

BACA JUGA