Follow

Syamsuddin Yunus, Jatuh Bangun Rintis Usaha Donat

Editor: Ayu Lestari | Selasa, 09 Januari 2018 - 11:20 Wita | 432 Views

Nasib baik menghampiri Syamsuddin Yunus, Mahasiswa Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Pria yang akrab disapa Ampa ini bisa dibilang naik daun setelah menjalankan usaha donat. Dalam wawancaranya bersama identitas, ia menceritakan perjalanannya merintis usaha Ampa Bakery.

Bakat wirausaha memang telah dimiliki Ampa sejak masih duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Atas (SMA). Jika siswa seusianya saat itu asyik dengan bermain, ia malah menghabiskan waktunya berjualan roti di sela waktu belajarnya. Ia menjual rotinya di berbagai ruang kelas tanpa merasa gengsi pada temannya. “Awalnya, saya menjual roti dengan cara menitipkan box di setiap ruang kelas, sepulang sekolah saya baru ambil kembali boxnya untuk dipakai lagi besoknya,” ujarnya.

Keterbatasan ekonomi menjadi alasan utama ia berjualan roti. Setidaknya ia membantu meringankan beban orang tuanya. Pria kelahiran 4 Agustus 1995 ini mulai mengasah bakatnya saat mendapat pinjaman alat pembuat roti dari guru tarbiyahnya. Dari situlah, ia mengembangkan usaha rotinya.

Memasuki bangku perkuliahan , ia mulai menjual secara online dengan iming-iming lebih mudah dan bisa diselingi dengan jadwal kuliah. Namun, sayang. Takdir berkata lain,  bisnis yang dijalankannya itu kandas di tengah jalan. Mesin pembuat roti yang dipinjamnya dari sang guru kini harus dikembalikan. “Mesin itu ditarik kembali karena ada sedikit masalah,” katanya saat diwawancarai via telepon.

Walau begitu, mimpinya menjadi pengusaha tak berhenti sampai di situ saja. Pria asal Takalar ini tetap bersikeras untuk memiliki sebuah mesin pembuat roti. Harga mesin itu jutaan rupiah, untuk itulah ia mencari cara dengan membuat proposal. Proposal itu diajukannya ke Dinas Koperasi, namun tak kunjung didanai. Ia juga telah mencoba mengikutkannya pada ajang Program Kreativitas Mahasiswa, namun tetap saja ia harus kembali menerima kenyataan bahwa rezeki belum berpihak kepadanya saat itu.

Gagal untuk kedua kalinya tak menciutkan gairah wirausahanya. Ia tetap mencari jalan untuk bisa membeli sebuah mesin pembuat roti, hingga kesempatan emas itu pun datang dari Program Mahasiswa Wirausaha (PMW). Proposalnya kini lolos didanai. Namun, dana yang diperolehnya itu masih belum cukup untuk menjalankan usaha roti, hingga akhirnya ia beralih ke inovasi baru, yakni donat rumput laut.

Bantuan resep dari kakaknya yang pernah bekerja di perusahaan roti menjadikan donat buatannya diminati orang banyak. Tak heran jika usahanya kini telah terdapat 5 cabang di berbagai tempat, seperti di Jl Jend Sudirman (samping berdikari), Jl Poros Galesong, Jl Ince Husain Dg Parani, Jl. Poros Pabrik Gula, dan Jln. Poros Pattallassang.

Kesibukannya menjalankan usaha membuatnya tak bisa membagi waktu dengan kuliah, sehingga  nilai IPK-nya turun drastis pada semester empat. Namun, semua itu tak berlangsung lama.   Kelihaiannya mentaktisi setiap mata kuliah menjadikan nilai IPK-nya kembali memuaskan.

Selain aktif berwirausaha, ketua Beastudi Etos tahun 2014  ini juga aktif di organisasi religi, seperti Syiar FOSEI Unhas (Forum Studi Ekonomi Islam Unhas) tahun 2015-2016, dan   Syiar Lembaga Dakwah Mahasiswa Al-Aqso Unhas pada tahun 2016-2017. Selain itu, ia juga tak luput dari prestasi seperti menjadi Finalis Accounts Andalas di Padang,  dan meraih gelar The Best Participan Ikhwan Small Group Discussion pada ajang Pengembangan Pariwisata Syariah Sulawesi-Selatan.

Dari sekian lika-liku perjalanan usahanya, Ampa kini telah mewujudkan mimpinya untuk memiliki sebuah mobil sebelum sarjana. Bahkan, beberapa bulan yang lalu, ia juga membeli motor baru untuk adiknya. Ada prinsip yang tetap dipegang teguh oleh pria yang hobi membaca ini. “Bekerja Sampai Mati atau Berwirausaha”.

Tak ada yang betul-betul tahu takdir seseorang, kadang memang kita perlu jatuh untuk kembali bangkit. Seperti yang dikatakan Confusius, filsuf  sosial Tiongkok “Kebanggan kita yang terbesar bukan karena tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kita jatuh,”

Reporter: Enol Syahyadi

BACA JUGA