Follow

Tak Ada Senja untuk Bekerja

Editor: Fitri Ramadhani | Senin, 22 Juli 2019 - 08:29 Wita | 313 Views
Foto : Identitas/Arisal

 

“Basineng, juru bersih yang merasa akan tetap sehat selama bekerja, dan menjalani hari tuanya yang menyenangkan”

Bagi sebagian orang, mereka bekerja keras di masa muda dengan harapan untuk menikmati kekayaannya di masa tua. Akan tetapi, ada juga yang bekerja keras hingga usia tua. Ialah Daeng Basineng, Cleaning Service (CS) Unhas.

Usianya kini telah 71 tahun. Meskipun usianya kian senja, kakek dari tujuh orang cucu ini tetap aktif bekerja sebagai juru bersih. Bisa dibilang ia tidak pernah absen dalam bekerja, kecuali jika ia benar-benar sakit.

Anak pertama dari empat bersaudara ini menyapu halaman Unhas mulai jam tujuh pagi hingga jam dua siang, di bulan puasa. Sedangkan di hari-hari biasanya, ia bekerja dari pagi hingga sore hari. Area menyapunya saat ini berada di sekitar Kudapan sampai depan Kantor Pos Indonesia. “Sudah beberapa kali ma dipindahkan. Pernah di parkiran rektorat, depan masjid, sama lantai dasar perpustakaan. Tapi di sini baru dua tahun,” katanya sembari menunjuk area menyapunya.

Sudah sebelas tahun ia berjasa atas kebersihan Unhas. Ia mulai bekerja sejak tahun 2008, setelah meninggalkan pekerjaannya sebagai tukang bangunan. Sejak pertama kali menjadi cleaning service, ia digaji dengan upah yang tak seberapa dibandingkan upah tukang bangunan saat itu, tetapi ia menyenangi pekerjaannya, sehingga ia memilih untuk tetap bertahan. “Gajiku dulu 400 ribu dalam satu bulan. Tapi ku suka ji, karena (Red kerjanya) santai. Sekarang naik mi lagi 1,6 juta mi,” tuturnya.

Selain karena senang dengan pekerjaannya, alasan utama lelaki paruh baya berkaos orens tetap bekerja, karena ia tidak senang dengan hari libur. Baginya, hari libur adalah hari yang membosankan, karena ia tidak bisa mengerjakan sesuatu yang menurutnya produktif. Setidaknya dengan menyapu ia bisa mengeluarkan keringatnya, sehingga tubuhnya menjadi sehat. “Karena kalau tinggalki di rumah toh, pusing jaki. Lebih baik begini (Red menyapu). Ada-ada dikerja. Kerja begini, keluar keringat, jadi baik ki,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Hal yang paling menyenangkan baginya selama bekerja adalah merawat taman di waktu senggang. Dan diberi santunan oleh pegawai rektorat. “Kadang dikasih ka pembeli rokok sama prop (Red Profesor). Paling banyak itu biasa kasih ka  kalau hari Jum’at,” ucapnya.

Lelaki yang suka meminum kopi bekerja setiap hari Senin-Sabtu. Untuk menuju ke tempat kerjanya, setiap jam enam pagi, ia harus menahan pete-pete di sekitar rumahnya, Parangtambung untuk membawanya menuju ke Tamalanrea (Kampus 1 Unhas).  “Pulang ka juga biasa naik pete-pete 02. Tapi sekarang biasa diboncenga’ sama cucuku yang kerja di situ,” katanya sambil menunjuk ke arah Jl Sahabat.

Di hari libur, suami dari Almarhumah Daeng Baji ini biasa menghabiskan waktunya berjam-jam dengan menonton televisi atau menyaksikan cucu-cucunya bermain. Siaran yang paling sering ditontonnya adalah Indosiar. Sedangkan sinetron andalannya adalah Azab. “Ku suka itu (Red. film) Azab karena heba’ ki,” serunya bersemangat.

Di tengah-tengah wawancara, ayah dari dua anak ini mengeluarkan telepon genggamnya sembari mengutak-ngatiknya. Ia membaca informasi yang ada di telepon kecilnya itu. “Cek pulsa.. cek bonus. Nomornya ji anakku ada di dalam. Ka biasa na teleponga,” ucapnya.

Meski usianya sudah kepala tujuh, kemampuan membaca, mengingat, dan mendengarnya masih berfungsi cukup bagus. Ia bahkan masih ingat tahun berapa ia lahir dan menikah dengan istrinya, serta membaca tulisan ukuran mini yang ada di gawai kecilnya itu.

Lelaki yang mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat Maccini menceritakan hal unik yang jarang dijumpai pada sekolah umum sekarang. Waktu itu, sepatu dan tas menjadi benda paling elit, bahkan kertas dan pulpen pun belum ada. “Dulu pakai sandal jaki pergi sekolah. Itu lagi tidak semua punya sandal. Dulu juga tidak ada buku sama pulpen. Kita pakai papan tripleks dijadikan buku, pulpennya pakai paku,” kenangnya.

Selama bekerja sebagai juru bersih, ia merasa tidak pernah mengalami nyeri otot, pegal-pegal atau penyakit lainnya, kecuali demam dan batuk. “Itu pun biasa sekali-sekali ji. Biasa kalau minum ma air (Red rebusan) daun pepaya, sembuh ma,” jelasnya.

Selama bekerja, ia berharap akan selalu sehat, sehingga ia bisa tetap bekerja dan menjalani hari-hari tuanya yang menyenangkan.  

Muflihatul Awalyah

BACA JUGA