Follow

Tentangmu Harus Pergi

Editor: Ayu Lestari | Rabu, 21 November 2018 - 10:47 Wita | 145 Views
Ilustrasi : Wandi Janwar

Kali ini mama kembali mengunjungi tempat aneh. Sudah tiga kali mama bolak-balik dari tempat ini. Aku masih belum tahu ini tempat apa. Biasanya rumah sakit yang dikunjungi mama punya papan tulisan di depan bangunannya, panti asuhan pun punya papan tulisan, tapi tempat ini tidak. Jangankan papan tulisan, rumah kecil ini bahkan jauh dari pemukiman. Hanya ada pohon-pohon dan anak-anak yang meramaikan tempat ini.

“Sudah masuk usia empat bulan? Kalau sejak awal memang tidak ingin, kenapa adik capek-capek bolak-balik ke sini?”

Nenek berambut putih yang tampak menyeramkan menatap mama dan membuatnya takut. Nenek yang giginya digosokkan daun sirih tersebut memang menakutkan. Anak-anak di sini juga takut padanya. Tapi aku tidak. Aku harus kuat untuk mama. Menghadapi nenek tersebut tidak ada apa-apanya dibandingkan menghadapi puluhan tablet yang membuat tubuhku terguncang.

“Jadi sekarang kamu sudah yakin?”

Lagi, pertanyaan nenek keriput itu membuat mama takut. Mama kembali merenungi hari-harinya dan rasa takutnya pun berangsur hilang.

“Aku tidak ingin, tapi ini juga berat untukku.”

Tiba-tiba mama menangis kencang. Mama mengingat kembali hari-harinya bersamaku. Selama ini mama selalu membawaku ke mana-mana. Bahkan mama membawaku ke sekolah meski tentu saja mama harus menyembunyiku sebisa mungkin. Tak hanya itu, tiap hari mama dimarahi oleh kakek dan nenek. Kadang pun dipukuli. Jangan tanya soal ayahku. Dia langsung lari saat pertama kali mengetahui tentangku. Seakan-akan tak ada yang merestui aku dan mama. Sungguh mama melalui hari-hari yang berat denganku. Aku tahu itu. Jangan tanya bagaimana aku bisa tahu itu semua. Aku bahkan tahu mama sedang sedih sekarang. Itulah mengapa aku berusaha jadi kuat. Aku tak ingin melihat mama sedih terus.

Nenek berkulit keriput itu membawakan teh hijau hangat ke hadapan mama. Dia memeluk mama dan membuatnya agak tenang. Untuk pertama kali aku bersyukur bertemu nenek tersebut karena saat ini aku belum bisa menghibur mama. Gerakku masih terbatas. Aku hanya mengeratkan tubuhku ke tubuh mama dan berharap kehangatanku sampai untuk menghiburnya sekaligus mengatakan bahwa mama masih punya aku.

“Stt… Tidak apa, sayang. Sekarang kamu tidak perlu menderita lagi.”

Nenek tua itu menghibur mama, membuatku berterima kasih secara bisu. Lalu dia membawaku dan mama menuju sebuah ruangan. Tiba-tiba anak-anak yang sejak tadi hanya menonton kami, menahanku.

“Jangan! Kau harus menghentikan mamamu!” Salah satu anak yang tubuhnya hampir tak terbentuk, meneriakiku. Dia terlihat panik, tapi aku tidak begitu mengerti.

“Mamamu ingin meninggalkanmu di sini. Sama seperti kami semua!” Dia berteriak kembali, mencoba menahanku yang sudah masuk ke ruangan. Ternyata ruangan tersebut adalah kamar dengan sebuah tempat tidur dari kayu.

“Tenanglah. Aku sudah melalui banyak hari bersama mama. Sama seperti kali pertama dan kedua, mama tidak akan biarkan kami berpisah,” jawabku meski agak ragu saat mama dan aku sudah dibaringkan oleh nenek di kasur.

“Jangan bodoh. Kali ini keputusan mamamu telah bulat. Kau harus melawan! Menendang! Menangis! Atau apapun itu!” Kali ini anak yang paling besar di antara mereka membentak.

“Aku tak seperti kalian. Mama mencintaiku.” Aku kembali menjawab dengan sangat ragu. Kudengar suara tangis mama meski berusaha ditahan. Mama memelukku dengan kedua tangannya, tapi aku tak berhenti ragu. Tak lama, keraguan tersebut beralih jadi rasa takut saat nenek membawa sesuatu dari lemari kayu.

“Kita semua sama,” kata anak paling besar lagi. “Kita ini hasil dari kecerobohan bukan hasil dari cinta. Tak ada yang menginginkan kesalahan dalam kehidupan seseorang. Begitu juga dengan mamamu.”

Aku membisukan diri antara tak ingin percaya atau ketakutan kini. Dengan tangan keriputnya yang menampakkan urat-urat, nenek itu melebarkan kedua kaki mama dan mengambil benda tajam. Aku ingin berteriak, mengalahkan teriakan anak-anak di sekitarku, tapi setitik rasa percayaku pada mama membuatku bisu.

Tiba-tiba aku merasakan benda keras dan dingin menyentuh kakiku. Oh tidak. Aku menangis kini. Menyebut nama mama dengan lembut, tak pernah aku berani meneriaki mama bahkan di saat seperti ini.

Benda itu mulai merusak kakiku, membuatnya berdarah-darah. Aku kesakitan meski kurasa mama lebih sakit dan sedih. Tiba-tiba kakiku yang tinggal sisa ditarik keluar. Aku bertahan. Tangan-tangan kecilku meraih apapun yang bisa kuraih, namun hanya plasenta tempatku berpegang.

“Ma, tolong hentikan nenek itu! Mama!” Kali ini aku meraung-raung. Sudah lupa aku untuk tidak meneriaki mama. Tapi mama tak bisa mendengar kini. Dia sibuk dengan rasa sakitnya.

Aku tak bisa bertahan lebih lama. Akhirnya benda itu berhasil mengeluarkanku, tapi aku belum menyerah. Jantungku masih berdetak. Aku tak ingin pisah dari mama.

“Jantungnya masih berdetak.”

Nenek tua itu memberitahu mama. Dia membawaku ke hadapan mama. Kini aku dapat melihat mama secara langsung. Mama cantik, lebih dari dugaanku. Peluh membasahi wajah dan leher jenjangnya. Mama tampak sangat kesakitan dan itu membuatku sedih.

“Kubur saja.”

Jantungku berdentum keras mendengar jawaban mama. Kucoba untuk menggeleng dan memberontak, tapi tak dapat bergerak.

“Ma, maaf sudah membuatmu susah, tapi kumohon aku belum merasakan pelukanmu yang sesungguhnya. Beri aku kesempatan. Aku janji tidak akan membuat mama kesakitan lagi.”Terus kubujuk mama, tapi terlambat. Tubuhku kini dihempaskan ke wadah berisi gumpalan darah yang sepertinya milik mama. Tiba-tiba aku teringat suatu perkataan yang kudengar sebelum aku hadir di kehidupan mama. Aku tak tahu pasti pemilik suara tersebut, yang pasti suaranya lembut dan mendengarnya mampu membuatku tenang. Kamu adalah karunia yang Kutitipkan untuk ibu dan ayahmu.

Aku menangis sejadi-jadinya, hingga jantungku berhenti berdetak.

*****

 

Penulis :Thania Novita

Mahasiswa Fakultas Hukum Unhas,

Angkatan 2016.

Anggota Forum Lingkar Pena Ranting Unhas

BACA JUGA