Follow

The Bajau : Problematika Suku Pengembara Lautan

Editor: Wandi Janwar | Selasa, 02 Juni 2020 - 13:00 Wita | 147 Views
Istimewa

Sejak dulu, Indonesia telah dikenal sebagai negara kepulauan yang memiliki tradisi maritim. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya penduduk Indonesia yang menjadi pelaut ulung. Bahkan ada suku yang tinggal dan menetap di laut, mengapung di atas perahu, dan menjelajah bentangan laut, seperti suku Bajo.

Hal inilah yang diperlihatkan Dandhy Laksono dalam film yang berjudul The Bajau. Film dokumenter yang berdurasi 80 menit ini mencoba menceritakan kisah suku Bajo yang hidup di perairan Torosiaje, Gorontalo dan perairan Marombo, Konawe Utara. Suku Bajo terkenal sebagai kelompok masyarakat yang berani mengembarai lautan dengan perahu tradisional.

Film ini diproduksi oleh WatchdoC, sebuah rumah produksi yang telah ada sejak tahun 2009. Hadir dengan misi utama memproduksi film-film dokumenter yang bertemakan keadilan sosial serta hak asasi manusia. Bagi WatchdoC dokumenter merupakan audio visual yang sangat strategis yang menggabungkan kemudahan media, di tengah makin ditinggalkannya sumber informasi lama, seperti buku dan jurnal.

Di awal film dinarasikan  penangkapan 500 keluarga suku Bajo karena dianggap sebagai nelayan asing oleh pemerintah Indonesia. Negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina pun tidak mengakui mereka sebagai warga negaranya. Hal tersebut terjadi karena mereka tidak memiliki identitas resmi. Lalu dengan dalih memberikan kehidupan yang lebih baik, pada tahun 2014 melalui Dinas Sosial, pemerintah Indonesia mengambil kebijakan untuk memukimkan mereka di daratan agar memiliki identitas sebagai warga negara.

Dalam film ini kita disajikan keseharian suku Bajo pada masa sekarang. Seperti yang diperlihatkan pada permulaan film, sebuah ritual penolak bala di laut dengan menjadikan penyu dan nasi sebagai sesajen. Sebelum meneggelamkan sesajen ke laut, para tetuah suku Bajo tak henti-hentinya berdoa menggunakan bahasa suku Bajo maupun Arab. Berdasarkan ilustrasi tersebut, hal ini mengindikasikan bahwa identitas suku Bajo sebagai orang laut.

Selain itu, film tersebut juga mencoba membandingkan kehidupan antara masyarakat Bajo yang ada di Torosiaje dan Marombo. Suku Bajo yang ada di perairan Torosiaje relatif lebih baik dibandingkan  yang ada di Marombo. Di Torosiaje mereka masih bisa melaut di perairan yang jernih. Habitat ikan yang masih terawat, sehingga hasil tangkapan melimpah. Namun, hal tersebut berbanding terbalik dengan suku Bajo yang ada di Marombo. Kondisinya sangat memperihatinkan. Mereka harus melaut di perairan yang dangkal dan keruh akibat dari limbah tambang nikel.

Sejak pemeritah Indonesia mengambil kebijakan untuk memukimkan mereka, identitasnya sebagai suku pelaut kian sirna. Dalam film tersebut seorang Bajo yang ada di Marombo menuturkan, Dinas Sosial meminta mereka tinggal di rumah agar lebih aman, dan anak-anak mereka bisa bersekolah. Justru hal ini sangat dilematis karena bertentangan dengan kebiasaan orang Bajo. Selama berabad-abad mereka hidup mengembarai lautan, kemudian mereka dipaksa untuk menjalani kehidupan darat.

Selama mengikuti program pemerintah, masyarakat Bajo yang ada di perairan Marombo, Konawe Utara terus menghadapi masalah baru. Di darat mereka pernah menggarap lahan pertanian, akan tetapi lahan tersebut kemudian digusur. Bahkan, selama penggusuran, mereka tidak diberikan ganti rugi sepeserpun. Mereka merasa dibohongi, tutur seorang Bajo dalam film tersebut. Kehidupan mereka menjadi serba salah. Di darat mereka harus terampil sebagaimana mestinya orang darat. Sementara di laut tempat mereka menggantungkan hidup selama berabad abad sudah tercemari akibat adanya aktivitas tambang nikel.

Di akhir film dinarasikan maraknya eksploitasi alam di Sulawesi Tenggara, berupa tambang dan perkebunan sawit. Tercatat, ada 141 izin usaha tambang dan 400 ribu hektar perkebunan sawit. Akibat eksploitasi yang dilakukan secara besar-besaran menimbulkan dampak kerusakan lingkungan yang cukup parah, sehingga merugikan masyarakat sekitar, khususnya masyarakat Bajo. Air laut yang semakin keruh, serta hutan yang mulai hilang daya serapnya akibat alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit. Selain itu diakhir film diilustrasikan Banjir yang melanda Konawe Utara akibat rusaknya lingkungan.

Lewat Film dokumentasi The Bajau ini, Dandhy Laksono  memberikan serangkaian kritik sosial terhadap pihak-pihak yang berwenang. Di mana pemerintah terlalu gampang memberikan izin bagi para perusahaan tambang, tanpa memperhatikan dampaknya terhadap manusia di sekelilingnya.

Muh. Alif

 

Data Film

Judul        : The Bajau

Sutradara  : Dandy Laksono

Produksi.  : WatchdoC

Durasi       : 80 menit

 

BACA JUGA