Follow

Unhas Hadiri Konsorsium Internasional Pendidikan Tanggap Bencana

Editor: Wandi Janwar | Kamis, 16 Januari 2020 - 21:10 Wita | 114 Views
Dokumentasi Humas

Universitas Hasanuddin sebagai Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia sudah seharusnya menjalankan Tri Dharma perguruan tinggi, baik itu penelitian, pendidikan, maupun pengabdian kepada masyarakat. Untuk menunjang hal tersebut, Unhas melakukan kerja sama dengan berbagai pihak. Misalnya saja Kyoto University Jepang dalam program pengembangan ketahanan masyarakat akibat perubahan iklim.

Program yang bertajuk “International Program on Resilient Society Development under Climate Change (RSDC)” ini, merupakan konsorsium riset dan pendidikan untuk lebih memberikan pembekalan terhadap daya tanggap masyarakat akibat dari dampak perubahan iklim. Bertempat di The Westin Grande Hotel Bangkok, Thailand, dilangsungkan RSDC Faculty Development Symposium “Inter-University Exchange Project”.

Kegiatan yang berlangsung pada Senin (13/01) tersebut diselenggarakan oleh Kyoto University dengan menghadirkan seluruh perwakilan konsorsium dari delapan negara yaitu Jepang, Thailand, Taiwan, Vietnam, Laos, Myanmar, Cambodia dan Indonesia.

Sebanyak 27 universitas dari delapan negara bergabung dalam konsorsium ini. Setiap perguruan tinggi memiliki keunggulan dalam bidang yang terkait dengan misi RSDC.

Dosen Teknik Sipil Unhas, Suharman Hamzah PhD, dipercaya sebagai wakil Unhas dalam konsorsium ini.  Alumnus Kyoto University ini mengatakan bahwa salah satu alasan bergabungnya Unhas dalam konsorsium adalah kuatnya basis sumber daya manusia yang dimiliki Unhas dalam bidang kebencanaan.

“Selain itu, Unhas merupakan mitra Kyoto University sejak lama, yang telah bersama terlibat dalam berbagai kegiatan kolaboratif,” kata Suharman dalam rilis yang diterima.

Prof Hiroyasu Ohtsu selaku project leader dari Kyoto University menyampaikan laporan kegiatan konsorsium ini pada awal pertemuan. Menurutnya, kegiatan ini memiliki misi utama untuk memberikan pengetahuan lebih banyak kepada masyarakat bahwa bencana diakibatkan karena alam dan manusia.

“Bencana dapat diminimalisasi, salah satunya dengan pendidikan. Pertemuan ini diharapkan dapat merumuskan atau mempersiapkan mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan dalam menciptakan sistem sosial dan lingkungan dalam menghadapai perubahan iklim,” kata Prof Ohtsu.

Wandi Janwar

BACA JUGA