Follow

Unhas Perkuat Hubungan dengan Jepang Lewat Seminar Internasional

Editor: Khintan | Selasa, 07 Agustus 2018 - 20:19 Wita | 161 Views
Foto: Istimewa

Universitas Hasanuddin bekerjasama dengan Direktorat Kerjasama Kantor Urusan Internasional mengadakan Seminar Internasional di Ruang Rapat Senat Gedung Rektorat Unhas, Selasa (7/8). Kegiatan yang diinisiasi Asosiasi Studi Japan di Indonesia (ASJI) ini mengangkat tema “Indonesia-Japan History: Connection and Comparison”.

Acara tersebut dibuka oleh Direktur Komunikasi sekaligus Kepala Sekretariat Rektor Unhas, Suharman Hamzah, ST, MT, Ph  D yang mewakili Rektor Unhas, Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu MA. Ia mengatakan bahwa hubungan kerja sama Indonesia-Jepang yang telah memasuki usia 60 tahun bukanlah waktu yang singkat, sehingga keduanya memiliki hubungan dan koneksi yang baik. Oleh sebab itu, hal tersebut dapat dimanfaatkan dalam dialog seminar seperti ini.

“Unhas dan Jepang punya hubungan dekat. Menurut data, lebih 200 dosen Unhas merupakan alumni universitas di Jepang. Hal itu tentu menjadi modal sosial untuk saling berdialog dan meningkatkan hubungan,”katanya.

Lebih lanjut, ia mengatakan hubungan diplomasi yang panjang itu memiliki arti dan makna tersendiri, baik di bidang pendidikan, sosial budaya, ekonomi dan lainnya.

Kemudian, pemateri yang hadir dalam acara tersebut ialah Prof Emiritus Aiko Kurasawa (KEIO University Jepang), Katsutoshi Miyakawa (Kepala Kantor Konsuler Jepang di Makassar) dan Dias Pradadimara MA (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unhas). Pada sesi pertama, Katsutoshi membahas mengenai keanekaragaman dan toleransi di Jepang dan Indonesia. Terdapat beberapa poin penting yang dia bahas diantaranya, pentingnya pendidikan dan budaya keanekaragam serta toleransi di Indonesia.

Ia juga mengakui bahwa bangsa Indonesia memilki kemampuan dalam mengatur pendidikan dengan baik. Selain itu, lanjutnya, generasi Indonesia sekarang sangat penting sebab mereka akan memiliki peranan penting ke depannya.

“Masyarakat Indonesia memiliki kemampuan mengelola pendidikan dan generasinya yang sekarang akan berperan penting di masa depan,” jelasnya.

Sementara itu, pada sesi kedua, Aiko mengulas tentang nasib mahasiswa Indonesia di Jepang, khususnya pasca kekalahan Jepang dengan Sekutu. Ia mengungkapkan bahwa jumlah mahasiswa Indonesia yang tercatat dari hasil penelitiannya pada masa sesudah perang berjumlah 107 orang.

Mereka berasal dari Sumatera, Jawa, dan pulau Boneo. Namun, akibat kekalahan Jepang, pihak sekutu membuat dua kebijakan, yakni menghentikan beasiswa mahasiswa Indonesia dan mempersilakan mereka pulang kampung.

“Mahasiswa Indonesia saat itu pun bertanya-tanya dalam hati, apakah aku yakin bisa pulang ke Indonesia dan bagaimana caranya,” tulis Kepala Humas Unhas, Ishaq Rahman dalam rilis yang diterima identitas mengutip Aiko.

Selanjutnya, Dias membahas mengenai Negara Kepulauan Indonesia di tahun 1957 dan Industri Perikanan Jepang. Dalam seminar tersebut ia memaparkan materi mengenai satu episode singkat dalam sejarah hubungan masyarakat dan pemerintah Indonesia dengan masyarakat dan pemerintah jepang.

Reporter: Wandi Janwar

BACA JUGA