© Copyright Identitas 2020

“Belum pernah ada janji membunuh seseorang, Mala. Jangan khawatir. Kamu tahu kan aku adalah orang  paling benci ingkar janji?.”

Lelaki jangkung itu benar. Dia tidak pernah bohong. Mala ingat saat lelaki bermata seri itu berjanji akan membawanya menelusuri pantai paling indah. Dengan menempuh empat jam perjalanan berhasil membawa Mala melihat pantai paling putih dan biru cerah tidak pernah dilihatnya sebelumnya. Pantai itu berada di Bulukumba. Seperti namanya selalu membawa harapan baru, Fajar pun berjanji akan membawanya menemui pantai lebih putih lagi, yakni di Kota Palu. Sayangnya, Palu telah ditimpa musibah tsunami saat mereka hendak ke sana. Tapi sekali lagi, lelaki itu sangat takut mengingkari janji. Dia mengatakan, lelaki diukur dari omongannya. Atas prinsipnya itu, mereka tetap ke Palu, mengenang sisa-sisa keindahan yang berusaha dibangun ulang.

Bagi Mala, Palu memang paling indah karena di sana dia bisa melihat betapa luar biasa lelaki itu. Dia lebih bisa dipercaya daripada Bapaknya sendiri. Berkat Fajar, Mala dulunya menurunkan kedudukan lelaki setara dengan benda mati, kini mengangkat kembali kedudukan mereka lebih tinggi dari kedudukannya sendiri.

Fajar memang tidak perlu diragukan lagi. Orang-orang menyukai mulut bersihnya, jujur, dan terpercaya. Bahkan, Ibunya punya banyak pengalaman pahit tentang lelaki pun setuju bahwa Mala harus mempertahankan pria bermata seri itu. Mala senang. Dia amat mencintainya. Semua tentang pria subuh itu membawa rasa kagum.

Pernah Mala memaksanya untuk mengambilkan buku tugas yang tertinggal di rumah temannya. Malamnya hujan deras dan pekerjaan memaksa lelaki itu lembur. Mala tidak masalah. Toh, tugas dikumpul dua hari lagi. Dia bisa mengambilkan besok. Tapi jam setengah dua belas malam, lelaki itu datang basah kuyup membawakan buku tugas. Mala heran mengapa dia sangat keras kepala ingin membawakan buku itu dan menyusahkan diri sendiri. Dia sempat berpikir mungkin lelakinya itu sedikit bodoh atau sudah mejadi budak cinta.

“Bukan begitu, Mala. Aku tahu tugasnya masih bisa diambil besok. Tapi terlanjur janji hari ini dan laki-laki diukur dari janjinya. Tidak ada alasan bisa membuat janji terpatahkan, kecuali mati.”

Sekali lagi Mala kagum. Bahkan tidak ragu untuk melepas lelaki ini menimba ilmu di Pulau Jawa. Memang sudah cukup terlambat untuk Fajar mengejar cita-citanya bagi sebagian besar orang. Pria jangkung itu punya orang tua yang mampu membiayainya untuk kuliah jika hanya di jurusan ekonomi atau sastra. Tapi, Fajar punya mimpi mulia nan mahal untuk diwujudkan. Dia ingin menjadi seorang dokter. Untuk itu, butuh waktu tiga tahun bekerja demi menambah biaya masuk kuliah dan memantapkan ilmunya untuk ikut ujian masuk.

Sudah sering sekali Fajar dinasihati untuk menyerah pada impiannya dan mengambil jurusan yang mampu diambilnya saja, seperti sastra atau ekonomi, lelaki itu berpendirian kuat. Katanya, tiap orang mempunyai minat berbeda-beda dan harusnya minat seseorang tidak boleh dibunuh dengan alasan ‘asal lulus’ atau ‘asal kuliah’.

Misalnya, ada anak minat dan berbakat artistik dimasukkan ke jurusan kedokteran hanya karena silsilah keluarganya dokter. Beberapa tahun di sana, habislah kebahagiaan anak itu. Tertekan, stres, dan hal negatif lainnya. Fajar menjelaskan semuanya dengan jelas pada Mala sehingga perempuan bugis itu termotivasi mengikuti kata hatinya untuk keluar dari jurusan ekonomi dan mengambil jurusan seni tari. Hasil pertama, tentu saja ejekan dan hinaan menghujani. Setiap jurusan memiliki peringkatnya tersendiri di mata masyarakat, jika kedokteran ada di peringkat pertama, maka seni tari menduduki peringkat paling bawah. Mala tidak pernah menyesal dengan pilihannya, hasil akhir, dia sukses di jurusan tersebut. Dia membawa Tari Padduppa, Tari Pakkarena, dan tari tradisional ke mancanegara.

Seluruh tindakan Fajar, telah membangun dinding kepercayaan kokoh bahwa lelaki lain mungkin bisa bermain-main saat tidak dilihat, tapi tidak dengan Fajar. Bukankah selama ini dia telah membuktikannya? Dan sesuai janjinya, dia selalu berkunjung tiap sekali sebulan. Padahal biaya tiket sekarang seperti lelucon, tiket ke jawa sama mahalnya dengan ke luar negeri, tapi dia tidak ingkar janji. Terakhir, saat Mala tahu bahwa Fajar sampai harus cuti satu semester demi menepati janji, dia menangis menyesal atas keegoisannya.

“Sudah cukup. Kali ini kau harus berjanji tidak akan datang lagi jika memberatkan bagimu. Saat kau datang ke sini dengan beban dan perasaan ringan, aku baru bisa menemuimu.”

Untuk menepati janji pada Mala, lelaki bermata seri itu tidak lagi datang tiap bulan. Dia datang hanya di acara besar keagamaan. Mala tenang. Berbeda dengan pasangan lainnya yang justru kebakaran jenggot saat pasangannya lama di tempat jauh sana, dia justru merasa tenang karena kepercayaannya besar pada lelaki ini. Kedatangannya justru membuatnya gelisah. Dia selalu terpikir uang dari mana lagi yang digunakan. Apakah dia kerja lembur lagi?. Ataukah dia harus meminjam uang lagi? Sering kali dia berharap lelaki itu tidak pernah mengetuk pintu rumahnya lagi dan berdiri tersenyum di hadapannya seakan biaya tiket tidak pernah mengguncang pikiran.

“Mala, aku akan ke rumahmu malam ini. Aku dan orang tuaku akan datang melamar. Tanya ibumu jangan memasak makanan yang berlebihan. Kami senang memakan makanan apa adanya. Dan ingat! Jangan makan ataupun minum tanpaku. Karena percayalah aku pasti datang.”

Setelah berita wisuda menggirangkan hati Mala dua hari yang lalu, hari ini dia kembali tenggelam dalam euforia. Lelakinya yang sudah enam bulan tidak dijumpainya, kini akan datang bersama sebuah lamaran. Lengkap sudah hidup Mala. Saat itu, dia baru hendak makan siang ketika menerima telepon dari Fajar. Hilang sudah niat makannya. Dia terlalu bahagia sehingga hanya bisa berlari menuju kios baju ibunya di pasar untuk menyampaikan kabar gembira. Tentu saja itu juga kabar gembira bagi sang Ibu. Dia segera menutup kios dan membeli seluruh bahan makanan dan menyulapnya menjadi hidangan lezat.

Tapi malam berlangsung sangat panjang karena lelakinya tak kunjung datang entah mengapa. Dia tidak bisa dihubungi. Hingga fajar yang lain muncul di garis langit, Fajar yang dinanti tidak datang-datang dan begitu seterusnya hingga tiga hari kemudian lelaki itu baru datang, tapi bukan untuk melamar. Dia datang untuk melayat. Kekasihnya mati demi menepati janji. Mala dengan jujurnya tidak menyentuh makan atau minum demi memercayai lelaki ini. Padahal dia pun punya riwayat sakit maag akut.

Fajar sungguh menyesali omongannya. Padahal dia baru saja kehilangan ibu dan kali ini dia harus kehilangan wanita terakhir yang dicintainya.

 

Penulis Thania Novita,

mahasiswa  Jurusan Hukum Administrasi Negara,

Angkatan 2016.

 

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT