Follow

Warna-warni Perjalanan Menyusuri Desa di Pulau Sulawesi

Editor: Khintan | Minggu, 31 Maret 2019 - 20:06 Wita | 160 Views
Foto: Santika/identitas

Buku berisi 21 esai ini lahir dari pengalaman Nurhady Sirimorok keluar masuk desa di Pulau Sulawesi. Lelaki lulusan Sastra Inggris Universitas Hasanuddin tersebut memulai perjalanan pertamanya di Tudu Aog, Pucuk Bambu, pada akhir 1996.

Ia menyusuri dan melihat secara lebih dekat kehidupan orang-orang desa. Hingga akhirnya ia mengetahui dengan benar masalah seperti apa yang sedang dialami mereka di sana. Pun Nurhady, tidak hanya mencukupkan diri sebatas mengetahui permasalahan dan menuangkannya dalam esai. Tetapi, ia turut membantu menyelesaikan permasalahan.

Semisal saat berada di wilayah perbukitan desa yang tidak menerima suplai air cukup. Sehingga warga yang berada di punggung bukit harus mengambil air di lembah lain dengan jarak sekitar satu kilometer. Oleh sebab itu, Nurhady dan kawan – kawan menyusun rencana kerja. Mereka mendirikan dua bangunan Mandi Cuci Kakus (MCK) dan menanam pipa untuk mengalirkan air ke MCK tersebut.

Di buku setebal 162 halaman ini, Nurhady juga menuliskan soal bagaimana masyarakat perkotaan melihat masyarakat desa sebelah mata. Dan mata yang digunakan ialah mata media massa. Bukan mata yang benar-benar menyaksikan dan mengalami apa yang sebenarnya terjadi. Esai itu diberi judul “Ketika Media Massa Melongok Orang Desa”. Ini merupakan bagian terfavorit saya.

Saat hendak berangkat ke salah satu desa di Barru yang dihuni masyarakat Bulo-bulo, seorang warga kota yang mengenalnya menitipkan baju bekas untuk diberikan kepada mereka. Hal itu ia lakukan karena rasa ibanya melihat penampilan masyarakat Bulo-bulo yang biasa bertelanjang dada. Padahal itu adalah hal wajar bagi mereka.

Mereka adalah petani desa. Hidup mereka sehari – hari dipenuhi dengan aktivitas pertanian. Adalah sebuah pembodohan dan kebodohan untuk berpakaian bersih dan rapi dalam aktivitas keseharian mereka.

Seorang petani bahkan mengeluh dalam bahasa daerah yang kira – kira terjemahan bebasnya adalah, “orang kota itu selalu memandang kami kotor karena selalu terlihat berlumpur. Padahal mereka tidak menyadari bahwa makanan yang mereka makan itu ada karena kami berkubang dengan tanah”.

Lebih lanjut, mereka juga berkata bahwa orang kota selalu datang dengan membawa sumbangan baju bekas, yang kadang – kadang sudah tidak layak pakai. Ia menegaskan, “kalau hanya baju bekas, insyaallah kami tidak akan kehabisan.”

Bukan hanya masyarakat yang dibahas dalam buku terbitan tahun 2018 ini. Penulis juga membahas soal sektor pertanian yang selalu menjadi penyedia lapangan pekerjaan terbesar bagi warga pedesaan. Dia menceritakan, dalam satu diskusi di Balai Desa muncul sebuah pertanyaan, “bagaimana mengajak anak muda desa agar tertarik menjadi petani?”. Nurhady menjawab bahwa ada tiga cara untuk meyakinkan para anak muda desa itu. Pertama, tunjukkan kepada mereka prospek cerah sektor pertanian, menghadirkan kondisi yang lebih pasti, dan membekali mereka dengan keterampilan serta pengetahuan bertani.

Nurhady juga mengkritisi kebijakan pemerintah yang hanya memberikan penyuluhan kepada warga. Padahal penyuluhan yang diberikan tidak begitu memberikan dampak kepada sektor pertanian. Tak satu dua kali Nurhady mendengar dari para petani bahwa penyuluhan hanya menawarkan janji – janji yang lebih banyak tidak menjadi nyata.

Contohnya saja di sektor kakao, teknik sambung samping atau sambung pucuk yang diajarkan ke mereka hanya bertahan beberapa tahun saja. Padahal untuk menerapkan teknik itu banyak dari mereka yang mengeluarkan modal lebih banyak termasuk tenaga kerja.

Masih banyak kisah dan kritik yang Nurhady tuliskan dalam buku ini. Dan itu bukan hanya yang terjadi di Sulawesi Selatan, tetapi juga di sejumlah desa di Pulau Sulawesi lainnya. Sayangnya, kebanyakan dari keadaan desa yang digambarkan di dalam buku tersebut merupakan kejadian masa lampau. Sehingga tidak ada kebaruan data soal desa yang dikisahkan.

Meski begitu, buku ini tetap menarik untuk dibaca sebab perspektif dan cara pandang penulis yang cerdas dan solutif dalam menuliskan esai tersebut. Tak hanya itu, bahasa yang tidak neko-neko membuat pesan dari kumpulan esai tersebut sampai kepada pembaca. Selamat membaca!

Data Buku        

Judul buku          : Catatan Perjalanan Tentang Satu Bahasa

Penulis                 : Nurhady Sirimorok

Tahun terbit       : 2018

Jumlah halaman : 162

                                                                                                                                Nidha Fathurahmy

BACA JUGA