Follow

Zero Waste, Ladang Bisnis si Manusia Kreatif

Editor: Wandi Janwar | Jumat, 24 Januari 2020 - 07:30 Wita | 103 Views
Foto: identitas/Arisal

Manfaatkan peluang dari gaya hidup zero waste, beberapa orang meraup keuntungan.

 Penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari rasanya sudah sangat lazim ditemui, bahkan telah menjadi kebutuhan. Harga yang terjangkau, ringan, dan mudah didapatkan menjadi alasan penggunaannya. Namun di balik kemudahan tersebut akan menimbulkan masalah yang besar.

Misalnya saja, sampah plastik yang membutuhkan waktu sekitar 50 sampai 100 tahun hingga bisa terurai oleh alam. Belum lagi dengan berserakannya sampah plastik di lautan yang dapat mencemari ekosistem. Bahkan berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/ tahun.

Melihat hal tersebut, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Menristekdikti RI), Prof Drs H. Mohamad Nasir Ak MSi PhD, mengeluarkan intruksi mengenai larangan penggunaan kemasan air minum berbahan plastik sekali pakai dan/atau kantong plastik di lingkungan Kemenristekdikti. Sebagai salah satu institusi di lingkungan Kemenristekdikti, Universitas Hasanuddin sudah seharusnya mengindahkan imbauan tersebut.

Fakultas Kehutanan Unhas, mulai menjalankan gaya hidup zero waste sebagai salah satu langkah dalam meminimalisasi penggunaan plastik. Sejak munculnya tren gaya hidup ini, beberapa mahasiswa Unhas mulai membawa botol minum sendiri dari rumah. Tak hanya itu, sebagian dari mereka juga sudah mulai menggunakan sedotan stainless dan totebag sebagai langkah kecil untuk menerapkan gaya hidup zero waste.

Selaku Dekan Fakultas Kehutanan, Prof Yusran Yusuf MSi mengakui, pengurangan sampah plastik khususnya botol plastik di fakultas yang terbentuk pada tahun 2007 ini merupakan wujud kesadaran internal. Ditambah dengan adanya regulasi dari Rektorat mengenai pemisahan sampah.

“Walau masih di hulu oleh karena masih ada penggunaan, kita kini ingin lebih awal mengurangi sehingga kita mengampanyekan dengan beberapa lembaga seperti Kementerian Kehutanan,” beber Yusran.

Mahasiswa Fakultas Kehutanan Unhas, Muhammad Ihsan, melihat gaya hidup ini sebagai sebuah peluang usaha. Dengan jiwa pengusaha yang dimilikinya, Ihsan memberanikan diri menjadi seorang reseller produk stainless straw.  

Menurutnya, melihat kebiaasan anak muda saat ini yang sangat senang nongkrong di kafe membuatnya berpikir demikian. “Dari itu saya berusaha kecil-kecilan dengan ‘menyenggol’ teman di sekitar. Mulai dari teman dekat sampai teman beda universitas untuk bantu selamatkan bumi dari sampah plasik,” jelasnya, Kamis (9/1).

Walaupun laba yang didapatkan tidak begitu besar, Ihsan mengaku senang dengan bisnis tersebut, karena dapat membantu mengurangi penggunaan sampah plastik. “Selain menambah uang jajan, saya juga bisa membantu mengurangi penggunaan sampah plastik. Terkait untungnya, tergantung berapa banyak orderan. Kalau ada sepuluh orang yang mau beli, paling nanti bersihnya saya cuma dapat 150 ribu rupiah,” bebernya.

Hal serupa juga dirasakan oleh salah seorang pebisnis, I Gusti Ayu Kusuma Yoni. Wanita asli Badung ini, mengaku melihat peluang saat Gubernur Bali mengeluarkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 97 Tahun 2018 tentang pembatasan timbulan sampah plastik sekali pakai. Dilansir dari bali.tribunnews.com, wanita yang akrab disapa Ogek Yuni ini melihat peluang menjajakan pipet stainless.

Dalam kesehariannnya, ia menjajakan dua jenis pipet yang dibanderol 55 ribu rupiah dengan isian tiga jenis pipet yang berbeda, satu pembersih dan kantongnya. Kemudian paketan harga 80 ribu rupiah dengan isian sama. Dengan bisnis tersebut, ia mampu meraup penghasilan dari berjualan pipet stainless anti karat hingga 3,5 juta rupiah per bulan.

“Itupun saya masih belum setiap hari menjualnya, kalau setiap hari bisa lebih dari itu,” katanya, dilansir dari bali.tribunnews.com, Minggu (19/5/2019).

Besarnya peluang dari bisnis produk zero waste juga dimanfaatkan sejumlah lembaga mahasiswa di Unhas untuk meraup rupiah. Misalnya saja, Biro Adik Asuh yang dikelola Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Mahasiswa Pecinta Musala (MPM) Unhas. LDK  ini memanfaatkan peluang untuk Galang Dana (Galdan) dengan menjual produk berupa tas tentengan belanja dan tumbler.

Menurut salah seorang anggota LDK MPM, Sri Wahyuni, hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya mendukung gaya hidup zero waste. “Ini merupakan salah satu upaya kami untuk mengurangi penggunaan sampah/botol plastik sekali pakai. Selain itu, juga untuk menambah dana organisasi,” ujarnya.

Menurut Sri, hasil penjualan dalam satu bulan terakhir mencapai satu juta rupiah. “Kemarin itu lumayan banyak yang didapat, dalam sebulan penjualan ada kurang lebih satu juta,” ungkapnya.

LDK MPM ini bahkan berencana meluncurkan brand sendiri untuk produk zero waste yang mereka pasarkan. “Untuk produk yang kami pasarkan, ada brand tersendiri yang rencana akan dilauncurkan dalam waktu dekat,” pungkasnya.

Tim Laput

BACA JUGA