Gigi berlubang atau karies merupakan masalah kesehatan mulut yang dialami 36 persen dari populasi global. Di Indonesia, berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2018, tingkat karies mencapai angka 88,8 persen.
Rasa sakit, masalah mengunyah, stunting, maloklusi, hingga penurunan kualitas hidup dapat mempengaruhi kondisi sistem akibat karies yang tidak mendapatkan perawatan dini. Saat ini, penambalan pada karies yang paling utama masih menggunakan resin komposit. Namun, bahan ini justru memiliki kekurangan seperti menurunnya kemampuan mekanis gigi saat digunakan.
Berangkat dari permasalahan tersebut, mahasiswa Program Studi Kedokteran Gigi Unhas bersama tim yang terdiri dari 5 orang, melakukan suatu riset untuk mengembangkan inovasi terkait restorasi gigi menggunakan bahan alami. Riset yang dilakukan ini juga merupakan sebuah penelitian yang dikompetisikan dalam Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) tahun 2023.
Penelitian yang dilakukan tim ini mengkaji penggunaan bahan alami berupa kombinasi eceng gondok dan kulit udang sebagai restorasi gigi unggul. Riset terkait kombinasi dua bahan alami ini merupakan temuan pertama di dunia kesehatan. Sebelumnya, bahan alami ini telah diteliti secara terpisah sehingga tim akhirnya memutuskan untuk mengkombinasikan bahan tersebut setelah melakukan kajian literatur bersama.
Salah seorang anggota tim, Nur Aqilah Amir mengatakan, perkembangan untuk bahan tambalan gigi semakin pesat saat ini. Namun kebanyakan bahan yang digunakan adalah resin komposit. Resin komposit merupakan gabungan dari bahan-bahan unggul yang banyak digunakan sebagai restorasi gigi karena memiliki nilai estetik dan mirip dengan gigi alami.
Melalui studi literatur dan banyak penelitian terkait resin komposit ini, ternyata teradap beberapa kekurangan dari bahan itu, seperti adanya kebocoran mikro yang bisa menyebabkan tambalan gigi lebih mudah terlepas.
Sejauh ini, resin komposit yang sering digunakan terdiri dari bahan kimia yang memiliki efek samping, sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh tim PKM-RE Unhas ini menggunakan bahan alami berupa eceng gondok dan kulit udang pada matriks dan fillernya. Matriks dan filler ini merupakan komponen pada resin komposit. Oleh karena itu, tujuan dari tim PKM-RE Unhas ini adalah menganalisis sifat mekanik dan melihat seberapa dekat bahan tersebut dengan resin komposit.
“Dari hasil penelitian kami, eceng gondok dan kitosan dari kulit udang ternyata memiliki potensi untuk dikembangkan (sebagai bahan restorasi gigi) lebih lanjut,” ucap Aqilah.
Eceng gondok dianggap sebagai sumber selulosa yang dapat digunakan sebagai filler pada resin komposit. Selain itu, penggunaan eceng gondok ini memberikan manfaat bagi lingkungan karena dapat mengurangi ancaman ekosistem perairan.

Penelitian yang dilakukan oleh tim PKM-RE Unhas ini berlangsung sekitar enam bulan dan masih pada skala laboratorium. Oleh karena itu penggunaan bahan alami pada resin komposit ini masih belum diterapkan langsung.
Alisha Zafirah yang juga merupakan anggota dari tim PKM RE ini mengungkapkan, telah dilakukan sembilan tes untuk uji mekanik pada bahan alami yang digunakan ini. Adapun spesifikasi uji yang dimaksud ini mencakup kekuatan tarik, kekerasan, kekuatan tekan, dan kekuatan geser.
“Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat uji yang tidak memenuhi ekspektasi kami, yaitu uji kebocoran mikro,” tuturnya.
Kebocoran mikro ini menjadi petimbangan tim karena dapat menyebabkan tambalan gigi mudah lepas. Namun, setelah diteliti lebih lanjut, kebocoran mikro tersebut masih lumayan jauh dibawa rata-rata resin komposit yang beredar.
Sejauh ini, tim peneliti belum menguji coba secara langsung bahan alami tersebut kepada manusia. Selain itu, kriteria gigi yang dapat menggunakan bahan ini juga belum bisa diterapkan oleh semua gigi karena keterbatasan alat.
Alisha menjelaskan, tujuan dasar dari timnya tidak lain berfokus untuk mengetahui apakah formulasi dari bahan alami ini berpotensi untuk dijadikan bahan dasar dari tambalan gigi. Harapannya, penelitian ini dapat dikembangkan dalam ukuran nanofiller yang dapat digunakan untuk seluruh gigi.
Perjalanan tim untuk melakukan penelitian tersebut tentunya tidak mudah. Segala bentuk keterbatasan dan kekurangan yang ada menjadi tantangan bagi tim untuk bisa melanjutkan penelitian ini. Alisha juga menyebut faktor kegagalan sebagai salah satu rintangan timnya, terlebih 4 dari 5 anggota timnya merupakan mahasiswa kedokteran gigi.
“Kami sebenarnya bukan anak lab sama sekali yang akan menyentuh asam asetat atau menyentuh gelas-gelas lab, tapi banyak sekali insight yang kami dapatkan,”
Terlepas dari itu, tim PKM-RE ini merasa terbantu oleh fakultas lain, seperti Fakultas Farmasi yang memfasilitasi mereka dalam penelitian ini. Tim ini berharap agar penelitiannya dapat dilanjutkan ke depannya, terutama pada uji lanjutan, yaitu uji toksisitas pada manusia.
Jum Nabillah