Tidak banyak orang yang mampu berdiri di persimpangan antara pendidikan, pekerjaan, dan hobi, lalu menemukan identitas diri di sana. Namun, bagi sosok pelatih vokal dan penggagas Makassar Bernyanyi, Achie Thamrin, perjalanan menuju dunia musik berawal dari sesuatu yang lebih sederhana, yakni kecintaan lama pada dunia tarik suara.
Perjalanan musik Achie bermula dari langkah sederhana di bangku sekolah. Saat itu, ia sudah akrab dengan dunia tarik suara lewat aubade upacara dan berbagai kegiatan resmi tingkat kabupaten. Namun, momen yang benar-benar mengubah pandangannya terjadi saat ia menginjakkan kaki di bangku perkuliahan.
“Sebenarnya awalnya hanya sebatas tertarik. Namun saat masuk kampus dan melihat Paduan Suara Mahasiswa (PSM), rasanya keren sekali,” kenang Achie melalui pertemuan daring, Kamis (06/10).
Di PSM Universitas Hasanuddin (Unhas), ia menemukan dunia yang jauh lebih hidup, terstruktur, dan megah. Dari sana, Achie belajar dari nol, mencintai setiap prosesnya, hingga tanpa sadar ia terseret semakin jauh ke dalam dunia yang tak pernah ia rencanakan sebelumnya.
Sebagai aktivitas tambahan di luar perkuliahan, Achie harus membagi waktu, tenaga, dan perhatiannya. Ia merasa beruntung karena mendapat dukungan penuh dari rumah, selama kegiatan tersebut bernilai positif dan tidak mengganggu kuliah. Teman-teman kampusnya pun ikut memberi semangat, membuat ruang untuk bertumbuh semakin terbuka.
Pada 2009 menjadi titik balik baginya. Saat itu, Unhas menggelar Lomba Paduan Suara Tingkat Fakultas dalam rangka Dies Natalis. Dukungan pihak Dekanat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) beserta orang-orang terdekatnya memercayai Achie sebagai koordinator pelaksana. Kepercayaan tersebut membuka jalan bagi lahirnya DB3 Voice, yang tumbuh dari program ekstrakurikuler paduan suara FISIP Unhas.
“Nama DB3 atau 3B sendiri bukan tanpa makna. Akronim itu merujuk pada semboyan FISIP Unhas, Bersama, Bersatu, Berjaya,” ungkapnya.
Perjalanan Achie tidak hanya berhenti di DB3 Voice. Pengalaman melatih kelompok kecil, fakultas, lembaga, hingga kampus lain membuatnya semakin memahami dunia paduan suara. Kesempatan demi kesempatan membuka jalan menuju pengabdian yang lebih luas di Kota Makassar.
Eksplorasi Achie tak berhenti di lingkungan kampus. Bersama Viny Mamonto, sesama alumni FISIP, ia merealisasikan ide ambisius yakni Makassar Bernyanyi. Terinspirasi dari gerakan serupa di Jakarta, mereka ingin menghidupkan ruang publik di Makassar sebagai wadah ekspresi yang positif.
Makassar Bernyanyi bukanlah paduan suara formal, sebab tidak ada audisi dan tidak ada batasan kemampuan yang diterima. Dalam setiap volume, 150–200 orang berkumpul, belajar vokalisasi dasar, membentuk harmoni sederhana, dan menyanyikan satu aransemen dalam waktu yang singkat. Komposisi pesertanya beragam mulai dari penyanyi kafe, vokalis amatir, bahkan mereka yang tidak pernah bernyanyi di depan umum.
Keriuhan itulah menjadi tantangan bagi Achie, sebab bagaimana memastikan setiap orang merasa terlibat, termasuk dalam memilih lagu yang tidak terlalu sulit, tetapi tetap menarik. Ia merancang berbagai inovasi agar peserta tidak mudah bosan pada volume berikutnya, tanpa menghilangkan tantangan yang ada.
Ia menyoroti dua hal ketika ditanya apa yang perlu diperkuat musisi lokal agar tetap berdaya saing, seperti karya dan kolaborasi. Menurutnya, era digital memudahkan musisi kampus dan band indie untuk berkembang, dengan memanfaatkan sarana publikasi melimpah, kesempatan tampil banyak, dan pasar terbuka.
Namun, banyak musisi muda kerap terjebak pada idealisme yang terlalu kaku. Menurut Achie, pintu kolaborasi justru sangat terbuka lebar jejaring bisa membuka akses sekaligus memperluas pasar. Di sisi lain, inovasi tidak boleh berhenti. Publik, terutama anak muda Makassar, mudah merasa bosan tanpa pembaruan karena mereka cepat berpindah ke hal lain.
Di balik semua keriuhan ini, ia tetap menjalankan hobinya hingga bekerja. Paduan suara baginya bukan pekerjaan utama, melainkan kecintaan yang menuntut waktu. Rasa lelah tentu hadir. Namun ia punya cara untuk bangkit, kembali pada niat awal.
“Saya bersyukur bisa melakukan hal yang saya suka. Di luar sana banyak orang harus bekerja pada sesuatu yang bahkan mereka tidak sukai,” ujarnya.
Ia percaya setiap pelaku seni akan bertemu titik jenuh, entah itu musisi, penari, atau aktor. Solusinya bukan memaksa diri, tetapi memberi ruang untuk istirahat, lalu kembali berkarya. Karena ketika seorang seniman berhenti mencipta, maka berhenti pula gerak hidupnya di dunia seni itu sendiri.
Muh Fadhel Perdana
