Hidup tanpa teman mungkin terasa hambar. Bagi saya, teman bukan sekadar orang yang hadir di sekitar, melainkan bagian penting dalam perjalanan hidup. Mereka adalah orang pertama yang saya hubungi ketika ada kabar gembira, juga tempat saya berlari saat sedang diterpa masalah. Kehadiran mereka membuat hidup saya lebih berwarna, penuh cerita, dan jauh lebih bermakna.
Saya sering berpikir, tanpa teman, mungkin saya hanya akan terjebak dalam rutinitas yang itu-itu saja. Tidak ada dorongan untuk berkembang, tidak ada cermin untuk berefleksi. Bersama teman, saya bisa bebas bercerita, mengeluh, bahkan menangis. Anehnya, justru di saat saya curhat serius, sering kali mereka merespons dengan candaan atau roasting. Tapi bukannya tersinggung, saya malah ikut tertawa setelah menyadari betapa konyolnya situasi itu. Dari situlah saya belajar, tawa sering kali bisa menjadi obat yang paling mujarab.
Ada satu momen yang sampai sekarang masih jelas dalam ingatan saya. Waktu itu, pengumuman seleksi yang sudah saya tunggu lebih dari sebulan akhirnya keluar. Dengan jantung berdebar, saya nekat membuka pengumuman itu di tengah kelas. Namun betapa hancurnya hati, ketika nama saya tidak tercantum di sana. Rasanya semua usaha dan doa yang saya panjatkan terbuang sia-sia.
Sepanjang kelas saya hanya terdiam, murung, dan enggan berbicara dengan siapa pun. Begitu kelas selesai, saya memberitahu kabar buruk itu pada teman-teman terdekat. Saya pikir mereka akan menyarankan untuk menenangkan diri sendirian. Namun ternyata, dugaan saya salah. Mereka justru mengajak saya berkumpul di rumah salah satu teman. Malam itu kami mengobrol panjang, bercanda, dan akhirnya menutup hari dengan pesta piza.
Ajaibnya, rasa kecewa yang semula menyesakkan perlahan memudar. Tentu saja bukan karena piza, melainkan karena kehadiran mereka. Teman memang punya cara unik untuk mengembalikan semangat saya.
Pastinya, memiliki lingkungan pertemanan yang suportif tidak terjadi dalam semalam. Tidak cukup hanya bertemu sekali-dua kali, lalu langsung merasa akrab. Butuh waktu, kadang bertahun-tahun, untuk benar-benar membangun rasa percaya dan saling memahami.
Saya percaya, teman yang saling mendukung adalah bentuk rezeki. Rezeki tidak selalu berupa uang. Bisa berupa kritik yang jujur, nasihat yang tulus, atau sekadar tawa yang mampu menghapus lelah. Semua itu, setidaknya bagi saya, jauh lebih bernilai daripada materi.

Ada pula cerita lucu lain yang membuat saya semakin yakin betapa pentingnya teman. Saat menunggu pengumuman SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri), entah kenapa saya selalu meminta seorang teman untuk membukanya lebih dulu. Uniknya, setiap kali saya membuka sendiri, hasilnya tidak lulus. Tapi kalau dia yang membuka, hasilnya justru lulus dua kali berturut-turut! Kami berdua sampai bercanda bahwa dia punya “tangan ajaib” yang bisa melancarkan urusan siapa saja.
Dari hal-hal sepele seperti itu, saya belajar bahwa teman bukan hanya sekadar pendamping, tapi juga bagian dari momen-momen penting yang tak akan pernah saya lupakan.
Bagi saya, teman tidak terbatas pada mereka yang seangkatan. Senior, junior, bahkan bapak-ibu yang sering saya temui sehari-hari pun bisa menjadi teman. Terkadang, dari mereka saya mendapat nasihat berharga. Di lain waktu, kadang mereka justru memberi bantuan yang sama sekali tidak pernah saya sangka.
Saya pernah membaca sebuah kutipan:
“Jika tidak bisa menjadi yang pertama, jadilah yang terbaik. Jika tidak bisa menjadi keduanya, jadilah yang paling diingat.”
Awalnya, kutipan itu lebih sering dipakai dalam dunia bisnis, tapi entah kenapa saya justru mengaitkannya dengan pertemanan. Saya pun mulai berpikir, ingin dikenal sebagai apa saya di lingkaran pertemanan?
Sejak itu, saya berusaha membangun personal branding kecil-kecilan. Tidak berlebihan, hanya ingin dikenal sebagai orang yang bisa diajak berdiskusi, curhat, atau sekadar bersenang-senang. Lambat laun, branding sederhana itu membuahkan hasil. Ada teman yang mempercayakan proyek sesuai minat saya, ada pula yang melibatkan saya dalam kegiatan mereka. Dari situ saya menyadari, membangun citra positif di lingkungan pertemanan bisa membuka banyak peluang, bahkan rezeki yang tidak pernah saya duga.

Sekarang saya semakin yakin, teman adalah investasi jangka panjang. Kita tidak pernah tahu siapa yang kelak akan menjadi penolong pertama saat kita kesulitan. Karena itu, saya berusaha berteman dengan siapa saja. Jika cocok, hubungan itu bisa berlanjut lebih dekat. Jika tidak, cukup berhenti di level awal, dan hal itu bukanlah masalah. Yang penting, kita tidak menutup pintu untuk menjalin silaturahmi.
Dalam masa pencarian jati diri, berteman dengan banyak orang justru membuka banyak kesempatan. Dari mereka, kita bisa belajar hal baru, memahami sudut pandang yang berbeda, dan menemukan siapa diri kita sebenarnya.
Saya semakin percaya pada pepatah lama: “Banyak teman, banyak rezeki.” Rezeki bukan hanya soal materi, melainkan juga energi positif, semangat hidup, serta keberanian untuk melangkah maju. Teman adalah cermin yang memantulkan siapa diri kita, sekaligus jendela yang membuka jalan ke berbagai kemungkinan.
Hidup bersama teman memang tidak selalu mulus. Ada salah paham, ada pertikaian, ada air mata. Akan tetapi, justru di situlah letak indahnya. Sebab, pada akhirnya, teman bukan hanya bagian dari perjalanan hidup saya, melainkan alasan terpenting mengapa saya bisa sampai sejauh ini.
Nurfikri
Mahasiswa Fakultas Teknik angkatan 2022
Sekaligus Litbang Data PK identitas Unhas 2025
