Apa jadinya jika sebuah postingan sederhana, justru disalahartikan, dan berubah menjadi awal dari hujatan tanpa henti di dunia maya? Begitulah cerita dari Cyberbullying, film yang tidak hanya mengangkat kisah remaja, tetapi juga menggambarkan realitas gelap di balik layar media sosial.
Film ini berpusat pada sosok Neira Kanjera (Amanda Putri Revina), siswi berusia 13 tahun yang dikenal cerdas dan berprestasi di sekolahnya. Namun, kehidupannya berubah drastis ketika sebuah video dirinya tersebar dan menjadi viral di media sosial.
Video yang menampilkan Neira menegur teman sekelasnya itu, disalahpahami oleh publik, sehingga ia menjadi sasaran hinaan dan ejekan netizen. Tekanan tersebut tidak hanya datang dari dunia maya saja, tetapi juga dari lingkungan sekitarnya.
Neira pun perlahan kehilangan rasa percaya dirinya, menarik diri dari pergaulan, hingga akhirnya harus pindah ke rumah kakeknya di pinggiran kota Makassar.
Sejak saat itu, alur film yang disutradarai oleh Rusmin Nuryadin ini bergerak ke masa lalu dan masa kini yang mengajak penonton untuk menyelami bagaimana satu momen kecil di dunia digital dapat mengubah hidup seseorang.
Cyberbullying tidak hanya menggambarkan penderitaan Neira, tetapi juga proses penyembuhan dan kebangkitannya. Di rumah kakeknya, ia menemukan lingkungan yang lebih hangat dan mendukung.
Pertemuannya dengan teman-teman baru membuat ia mempelajari makna empati dan kepercayaan diri. Puncaknya saat Neira memutuskan untuk kembali ke sekolah lamanya dan berdamai dengan masa lalunya.
Film yang diproduksi oleh DL Entertainment asal Makassar ini, membedah sisi kelam dunia digital. Media sosial digambarkan sebagai ruang yang paradoks, terbuka tetapi memenjarakan.
Visualisasi layar ponsel, notifikasi, dan komentar kebencian dibuat dengan teknik sinematik kreatif, seolah-olah mengingatkan penonton bahwa di balik setiap unggahan, ada manusia yang bisa hancur karena kata-kata.
Kekuatan film ini terletak pada keberaniannya dalam menyinggung masalah yang dianggap sepele, seperti menyebarkan video, membuat komentar sinis, atau ikut-ikutan menghujat seseorang di dunia maya yang sesungguhnya merupakan sebuah bentuk kekerasan.
Cyberbullying menghadirkan pesan tersebut tanpa menggurui. Narasinya berjalan lembut dan menggunakan pendekatan emosional yang memancing empati penonton terhadap korban.
Sinematografi dalam film ini terbilang sederhana namun efektif dalam mendukung nuansa cerita. Warna-warna dingin mendominasi adegan di sekolah dan media sosial membuat suasana menjadi lebih tertekan dan penuh ketakutan.
Sebaliknya, suasana hangat dan natural muncul di adegan rumah kakek yang memberikan simbol kalau lokasi itu menjadi tempat penyembuhan batin.
Penggunaan bahasa daerah dan budaya lokal juga menegaskan bahwa isu cyberbullying tidak hanya terjadi di kota-kota besar, melainkan juga merambah ke berbagai daerah dan lapisan masyarakat.
Dari sisi akting, pemeran Neira menunjukkan performa yang cukup mengesankan untuk seukuran aktris muda. Emosinya terasa tulus saat menggambarkan rasa takut, kesedihan, dan keberanian hingga di akhir film. Sehingga, ia berhasil menyentuh hati penonton.
Meskipun beberapa adegan dialog terasa agak kaku, kekuatan cerita dan pesan sosialnya menutupi kelemahan tersebut. Film ini berhasil membuat penonton merenung, terutama bagi mereka yang mungkin pernah menjadi korban, pelaku, atau saksi dari perundungan digital.
Pesan yang dibawakan pada Cyberbullying menjadi sangat relevan, terutama bagi kalangan pelajar dan remaja yang aktif di media sosial. Film ini juga memperlihatkan peran penting keluarga dan sekolah dalam membangun ketahanan mental generasi muda.
Film Cyberbullying mendapat dukungan dari berbagai lembaga pemerintah, salah satunya Kementerian Komunikasi dan Digital. Hal ini menunjukkan bahwa karya ini tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga bagian dari kampanye nasional untuk menciptakan ruang digital yang aman dan ramah anak.
Meskipun memiliki berbagai keunggulan, bukan berarti Cyberbullying bukan berarti tidak memiliki kelemahan. Beberapa bagian film terasa terlalu lambat dan berlarut-larut, terutama di pertengahan cerita.
Narasinya terkadang kehilangan intensitas emosional sebelum mencapai klimaksnya. Namun, kekurangan ini tidak mengurangi makna pentingnya secara keseluruhan.
Sebagai film yang lahir dari Makassar, Cyberbullying membuktikan bahwa produksi daerah juga mampu menghadirkan karya berkualitas yang relevan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Film ini bukan sekadar kisah seorang gadis yang dirudung di dunia maya, tetapi menggambarkan potret sosial tentang bagaimana masyarakat kita masih belum sepenuhnya peka terhadap dampak dari perilakunya di ruang digital.
Cyberbullying mengajak penonton untuk berhenti sejenak, menatap layar dengan lebih sadar, dan bertanya pada diri sendiri, apakah kita telah menggunakan teknologi untuk kebaikan atau justru melukai orang-orang?
Muh Yasin Sudhirajati Gafur
