Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia, Dra Hj Arifatul Choiri Fauzi MSi, membawakan kuliah umum. Mengusung tema “Mewujudkan Kampus Inklusi dan Bebas Kekerasan”, kegiatan berlangsung di Ruang Rapat Senat Lt. 2 Rektorat Universitas Hasanuddin (Unhas), Sabtu (24/5).
Dalam pemaparannya, Arifatul menyoroti pentingnya peran perempuan dan anak dalam pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Berdasarkan Data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA), perempuan saat ini menduduki 49,51% populasi dan anak-anak sebesar 28,4%.
“Perempuan dan anak memiliki potensi luar biasa, bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai subjek dan penggerak pembangunan,” ujarnya.
Menteri PPPA itu mengingatkan tantangan di era globalisasi semakin berat. terutama dengan perkembangan teknologi dan digitalisasi yang membawa dampak signifikan dalam kehidupan masyarakat.
Lebih lanjut, Ia juga juga menyoroti hasil Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional 2024. Hasil tersebut menunjukkan 1 dari 4 perempuan usia 15-64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik dan seksual dari selain pasangannya.
“Lebih memprihatinkan lagi beberapa anak di Indonesia pernah mengalami kekerasan. Ini menandakan Indonesia dalam kondisi darurat kekerasan,” tegasnya.
Simfoni PPA mencatat sebanyak 12.416 korban kekerasan, seluruhnya perempuan. “Data ini belum sepenuhnya menggambarkan kondisi sebenarnya, karena masih banyak kasus yang belum terlaporkan,” tambahnya.
Di akhir kegiatan, Arifatul menegakan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan kampus, untuk mencegah dan menangani kekerasan terhadap perempuan dan anak. “Perempuan berdaya, anak terlindungi, menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.
Nayla Maulidya
