Jumat, 9 Januari 2026
  • Login
No Result
View All Result
identitas
  • Home
  • Ulasan
    • Civitas
    • Kampusiana
    • Kronik
    • Rampai
    • Editorial
  • Figur
    • Jeklang
    • Biografi
    • Wansus
    • Lintas
  • Bundel
  • Ipteks
  • Sastra
    • Cerpen
    • Resensi
    • Puisi
  • Tips
  • Opini
    • Cermin
    • Dari Pembaca
    • Renungan
  • identitas English
  • Infografis
    • Quote
    • Tau Jaki’?
    • Desain Banner
    • Komik
  • Potret
    • Video
    • Advertorial
  • Majalah
  • Home
  • Ulasan
    • Civitas
    • Kampusiana
    • Kronik
    • Rampai
    • Editorial
  • Figur
    • Jeklang
    • Biografi
    • Wansus
    • Lintas
  • Bundel
  • Ipteks
  • Sastra
    • Cerpen
    • Resensi
    • Puisi
  • Tips
  • Opini
    • Cermin
    • Dari Pembaca
    • Renungan
  • identitas English
  • Infografis
    • Quote
    • Tau Jaki’?
    • Desain Banner
    • Komik
  • Potret
    • Video
    • Advertorial
  • Majalah
No Result
View All Result
identitas
No Result
View All Result
Home Jeklang Figur

Ija Syahruni, Menyulam Harapan Anak dan Perempuan di Pesisir Sulawesi Barat

16 Desember 2025
in Figur, Jeklang
Ija Syahruni, Menyulam Harapan Anak dan Perempuan di Pesisir Sulawesi Barat

Ija Syahruni. Foto: Dokumentasi Pribadi

Editor Nabila Rifqah Awaluddin

Laut Mamuju adalah ruang tumbuh pertama bagi Ija Syahruni. Sejak kecil, ia telah akrab dengan ombak, pasir, dan udara pesisir. Sepulang sekolah, ia sering menghabiskan waktu bermain di pantai bersama teman-temannya atau menjaga adiknya di rumah. Kehidupan di tepi laut ini menempa dirinya, mengajarkan kebersamaan, kedekatan dengan alam, dan kemandirian sejak dini.

Meski lahir dan besar di Mamuju sebagai anak pesisir, Ija memiliki latar belakang ganda. Ayahnya berasal dari Takalar dan ibunya dari Toraja. Perpaduan dan lingkungan pesisir inilah yang memperkuat ikatan emosionalnya dengan laut, sebuah ikatan yang kemudian memengaruhi keputusannya dalam menempuh pendidikan.

BacaJuga

Unpaid Internship, Benarkah Memicu Eksploitasi SDM?

Achie Thamrin, dari DB3 Voice hingga Makassar Bernyanyi 

Sejak Sekolah Dasar (SD), Ija sudah menunjukkan ketertarikan pada kegiatan sosial. Pengalamannya di Pramuka menjadi titik awal ia mengenal kerja kolektif dan kepedulian. Melalui kegiatan itu, ia belajar disiplin, kerja sama, sekaligus peduli pada orang lain. “Pramuka membentuk kesadaran saya sejak kecil. Dari situ saya belajar nilai tolong-menolong dan tanggung jawab,” kenangnya saat diwawancarai via telepon, Rabu (17/09).

Ketika tiba waktunya memilih jurusan kuliah, Ija tidak ragu mendaftarkan diri di Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin (Unhas). Keputusan ini muncul dari kedekatan emosional Ija dengan laut yang telah menjadi tempat ia tumbuh sejak kecil. “Belajar soal pesisir membuat saya merasa dekat, karena memang sejak lahir saya hidup di pesisir,” ujarnya.

Selama kuliah, Ija tidak hanya berfokus pada ruang kelas. Praktikum lapangan di pulau-pulau kecil dan interaksi dengan nelayan memberinya pemahaman bahwa ilmu kelautan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Ia juga aktif berorganisasi, bergabung dengan Senat Fakultas, Dewan Mahasiswa, dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Melalui organisasi-organisasi tersebut, ia belajar manajemen kegiatan, kepemimpinan, hingga cara mengelola program.

Lulus dari Unhas, Ija memilih jalur yang berbeda dari banyak teman seangkatannya. Ia tidak mengejar status pegawai negeri atau bekerja di perusahaan, melainkan bergabung dengan Yayasan Karampuang, sebuah organisasi masyarakat sipil di Sulawesi Barat.

Lebih dari 14 tahun ia mengabdi di Karampuang hingga dipercaya menjadi Direktur Eksekutif. Di sana, ia memimpin berbagai program sosial yang berfokus pada pendidikan, kesehatan, perlindungan anak, dan pemberdayaan perempuan.

Salah satu program besar yang lahir dari inisiatifnya adalah pendataan anak tidak sekolah di Mamuju. Hasil pendataan yang menunjukkan angka putus sekolah yang cukup tinggi menjadi dasar lahirnya Gerakan Kembali ke Sekolah pada 2010. Program ini berhasil mengembalikan ribuan anak ke bangku sekolah, melatih guru agar lebih responsif, dan mendorong pemerintah desa agar anggaran lebih berpihak pada pendidikan.

Karampuang juga aktif bekerja sama dengan UNICEF dalam isu pencegahan perkawinan anak. Tantangan di lapangan cukup besar, terutama terkait budaya. Masih banyak orang tua yang menganggap perkawinan anak sebagai hal wajar. “Padahal, dampaknya sangat panjang, mulai dari putus sekolah, stunting, perceraian, hingga kemiskinan yang terus berulang,” kata Ija.

Untuk menjawab tantangan itu, Yayasan Karampuang membangun pendekatan kolaboratif. Mereka melibatkan tokoh agama, tokoh adat, dan pemerintah desa dalam kampanye pencegahan perkawinan anak. Cara ini terbukti lebih efektif karena suara tokoh masyarakat sering lebih didengar.

Ija juga mendorong lahirnya Lingkar Remaja, yaitu ruang aman bagi anak usia 10–18 tahun untuk berdiskusi dan menyuarakan pendapat. Dari sini muncul perubahan nyata. Ada remaja yang awalnya hendak menikah muda akhirnya memutuskan menunda, ada pula yang kembali bersekolah setelah sempat putus. “Mereka hanya butuh ruang untuk bicara dan dukungan untuk berani menentukan pilihan,” ujarnya.

Setelah lebih dari satu dekade mengabdi di Karampuang, Ija kini melanjutkan kiprahnya di level nasional. Ia aktif di Forum Aktivis Perempuan Muda Indonesia (FAM Indonesia) dan dipercaya sebagai Koordinator Nasional. Bersama komunitas ini, ia mendorong advokasi isu-isu sosial seperti RUU Masyarakat Adat, perlindungan kesehatan mental aktivis perempuan, hingga penguatan peran perempuan muda dalam politik.

Baginya, FAM Indonesia bukan sekadar jaringan aktivis. Ia melihat forum ini sebagai ruang belajar, saling menguatkan, dan menjaga semangat aktivisme tetap hidup. “Kami saling berbagi pengalaman dan analisis. Itu yang membuat energi terus terjaga,” kata Ija.

Kini, arah perjuangan Ija semakin jelas. Ia ingin memperkuat kapasitas perempuan muda di berbagai daerah agar lebih percaya diri mengambil peran dalam advokasi, politik, dan pembangunan sosial. Ia percaya perubahan yang besar selalu dimulai dari komunitas kecil, lalu menyebar lebih luas.

Seperti laut Mamuju yang tidak pernah berhenti berombak, langkah Ija Syahruni terus bergerak. Dari pesisir tempat ia lahir, kini ia berada di barisan depan aktivis perempuan muda yang bekerja untuk menghadirkan perubahan di Sulawesi Barat dan Indonesia.

Athaya Najibah Alatas

Tags: Forum Aktivis Perempuan Muda IndonesiaIja SyahruniSulawesi BaratYayasan Karampuang
ShareTweetSendShareShare
Previous Post

Rektor Nyatakan Unhas Berkomiten dalam Pemerataan Pendidikan bagi Mahasiswa Kurang Mampu

Next Post

Koperasi Merah Putih, Mampukah Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Desa?

TRENDING

Liputan Khusus

Pemdes Bonto Karaeng Dukung Program Pengabdian Mahasiswa KKN-T Unhas

Ketika Kata Tak Sampai, Tembok Jadi Suara

Membaca Suara Mahasiswa dari Tembok

Eksibisionisme Hantui Ruang Belajar

Peran Kampus Cegah Eksibisionisme

Jantung Intelektual yang Termakan Usia

ADVERTISEMENT
Tweets by @IdentitasUnhas
Ikuti kami di:
  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube
  • Dailymotion
  • Disclaimer
  • Kirimkan Karyamu
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
© 2026 - identitas Unhas
Penerbitan Kampus Universitas Hasanuddin
  • Home
  • Ulasan
    • Civitas
    • Kampusiana
    • Kronik
    • Rampai
    • Editorial
  • Figur
    • Jeklang
    • Biografi
    • Wansus
    • Lintas
  • Bundel
  • Ipteks
  • Sastra
    • Cerpen
    • Resensi
    • Puisi
  • Tips
  • Opini
    • Cermin
    • Dari Pembaca
    • Renungan
  • identitas English
  • Infografis
    • Quote
    • Tau Jaki’?
    • Desain Banner
    • Komik
  • Potret
    • Video
    • Advertorial
  • Majalah

Copyright © 2012 - 2024, identitas Unhas - by Rumah Host.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In