Indonesia dikenal sebagai salah satu negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Tak heran jika di sejumlah pulau seperti Sulawesi, Sumatra, dan Kalimantan banyak dijumpai kelapa sawit. Sayangnya, kelapa sawit masih menyisakan persoalan limbah seperti pelepahnya yang hanya ditelantarkan di perkebunan. Padahal, limbah pelepah sawit memiliki kandungan yang dapat diolah menjadi produk bernilai jual.
Penelitian dari Universitas Hasanuddin (Unhas) mengungkapkan bahwa pelepah sawit memiliki kandungan lignoselulosa, yaitu campuran lignin dan selulosa. Kandungan ini merupakan sumber potensi dari pelepah sawit yang dapat diolah menjadi bahan komposit.
Melihat potensi tersebut, peneliti dari Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas), Sahriyanti Saad SHut MSi PhD bersama timnya berinisiatif memanfaatkan limbah pelepah sawit sebagai papan partikel. Penelitian ini juga selaras dengan konsentrasi yang ditekuni Sahriyanti sejak menempuh pendidikan S1 hingga S3, yaitu biokomposit dan papan partikel.
“Pelepah sawit itu kan mengandung lignin dan selulosa. Jadi kita melihat peluang bahwa potensinya besar, tapi tidak dimanfaatkan,” terangnya, Kamis (03/09).
Penggunaan pelepah sawit sebagai bahan utama dalam pembuatan papan partikel merupakan langkah untuk mengurangi limbah yang tidak diolah dengan baik. Namun, dalam pembuatannya, papan partikel umumnya menggunakan resin berbahan formaldehida sebagai perekat. Resin banyak digunakan dalam industri furnitur maupun konstruksi ringan karena mampu merekatkan kayu dengan kuat. Sayangnya, penggunaan resin berbasis formaldehida dapat menyebab masalah lingkungan dan risiko kesehatan, seperti iritasi kulit hingga kanker selama proses pembuatannya.
Untuk mengurangi dampak tersebut, Sahriyanti bersama tim mencoba memadukan molase dan asam sitrat sebagai perekat alami dalam pembuatan papan partikel. Molase merupakan limbah cair dari pabrik gula yang memiliki daya rekat kuat jika dikeringkan. Sementara, asam sitrat merupakan asam organik yang memiliki daya ikat kuat. Jika dikombinasikan, kedua bahan ini sangat cocok dijadikan sebagai alternatif perekat papan artikel yang ramah lingkungan.
Berdasarkan pengujian laboratorium, papan partikel yang terbuat dari pelepah sawit dengan perekat molase dan asam sitrat telah memenuhi standar mutu internasional. Berbagai parameter, seperti kadar air, ketahanan terhadap penyerapan air, pengembangan tebal, hingga kekuatan ikatan dalam penelitian ini menggunakan standar industri Jepang. Hasilnya menunjukkan bahwa sifat fisik papan partikel dari pelepah sawit dengan perekat alami dapat menyamai papan partikel yang menggunakan resin.
“Asam sitrat dan molase yang kita coba di riset ini sudah bisa menjadi alternatif (pengganti resin),” jelas Dosen Rekayasa Kehutanan Unhas itu.
Namun, beberapa aspek mekanis, seperti ketahanan elastisitas masih belum optimal. Untuk itu, penelitian lanjutan dibutuhkan dalam meningkatkan kualitas inovasi tersebut. Meski belum sempurna, inovasi ini dapat mengurangi ketergantungan pada resin formaldehida.
Sebagai produk alami, papan dari pelepah sawit ini tetap menghadapi tantangan, terutama pada daya tahan jangka panjang. Faktor kelembaban dan serangan jamur menjadi risiko nyata, apalagi di iklim tropis yang lembab seperti Indonesia.
Pelepah sawit memiliki sifat alami yang dapat menyerap air sehingga rentan lembab. Jika kadar air dalam pelepah sawit masih tinggi, papan partikel yang dihasilkan akan mudah rusak. Oleh karena itu, dalam produksinya diperlukan proses pemanasan dengan suhu yang tinggi.
Dalam hal ini, pelepah sawit dikeringkan hingga kadar airnya kurang dari 8%. Setelah itu, barulah dicampur dengan larutan molase dan asam sitrat. Penambahan larutan molase dan asam sitrat ini menyebabkan kenaikan kadar air dari pelepah sawit sehingga diperlukan proses pemanasan dengan suhu 80°C selama 12 jam. Setelah itu, pelepah sawit dicetak dan kembali dipanaskan pada suhu yang lebih tinggi, yaitu 200°C selama sepuluh menit.
“Kuncinya ada pada formulasi serta persiapannya,” ungkap Sahriyanti.
Tantangan sesungguhnya justru muncul pada penyimpanan dan penggunaannya. Jika papan partikel disimpan di ruang yang basah, misalnya dapur atau kamar mandi, maka jamur bisa tumbuh. Akan tetapi, ketahanan jangka panjang dari inovasi ini masih belum dilakukan. Oleh karena itu, inovasi ini diharapkan bisa diuji lebih lanjut.
Meskipun demikian, hadirnya papan partikel dari pelepah sawit menggunakan perekat alami dapat menjawab kebutuhan industri. Dalam hal ini, permintaan akan produk furnitur dan bahan bangunan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk. Inovasi ini juga berkontribusi pada pengurangan limbah. Bayangkan, jutaan ton pelepah sawit dan molase dari pabrik gula yang selama ini terbuang percuma dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Selain itu, inovasi ini dapat mendukung konsep pembangunan.
“Harapannya sederhana, kita bisa kurangi penggunaan perekat sintetis, sekaligus memanfaatkan limbah pertanian yang melimpah. Kalau dikembangkan lebih jauh, ini bisa jadi alternatif perekat alami yang layak dipakai industri,” pungkas peneliti.
Penelitian kolaborasi ini melibatkan berbagai pihak, termasuk Insitut Pertanian Bogor dan Badan Riset dan Inovasi Nasional, sebagai bentuk sinergi riset antarlembaga. Dengan dukungan kerja sama lintas kampus dan lembaga riset, inovasi papan partikel berbasis pelepah sawit berpeluang besar untuk dikembangkan secara komersial di masa yang akan datang
Ismail Basri
