Kamis, 8 Januari 2026
  • Login
No Result
View All Result
identitas
  • Home
  • Ulasan
    • Civitas
    • Kampusiana
    • Kronik
    • Rampai
    • Editorial
  • Figur
    • Jeklang
    • Biografi
    • Wansus
    • Lintas
  • Bundel
  • Ipteks
  • Sastra
    • Cerpen
    • Resensi
    • Puisi
  • Tips
  • Opini
    • Cermin
    • Dari Pembaca
    • Renungan
  • identitas English
  • Infografis
    • Quote
    • Tau Jaki’?
    • Desain Banner
    • Komik
  • Potret
    • Video
    • Advertorial
  • Majalah
  • Home
  • Ulasan
    • Civitas
    • Kampusiana
    • Kronik
    • Rampai
    • Editorial
  • Figur
    • Jeklang
    • Biografi
    • Wansus
    • Lintas
  • Bundel
  • Ipteks
  • Sastra
    • Cerpen
    • Resensi
    • Puisi
  • Tips
  • Opini
    • Cermin
    • Dari Pembaca
    • Renungan
  • identitas English
  • Infografis
    • Quote
    • Tau Jaki’?
    • Desain Banner
    • Komik
  • Potret
    • Video
    • Advertorial
  • Majalah
No Result
View All Result
identitas
No Result
View All Result
Home Sastra Resensi

Ketika Ayah Hanya Sebatas Nama di Rumah

6 Januari 2026
in Resensi
Sampul Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah. Foto: Istimewa

Sampul Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah. Foto: Istimewa

Editor Nurfikri

“Ibu, kenapa mau nikah sama Ayah?”

Pertanyaan yang dilontarkan Alin (Amanda Rawles), salah satu tokoh perempuan dalam film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah, menyiratkan bagaimana kondisi keluarga tanpa kehadiran sosok ayah dan memengaruhi keharmonisan keluarga. 

Disutradarai oleh Kuntz Agus, film ini mengisahkan kehidupan Alin, seorang mahasiswi kedokteran tingkat akhir yang tengah berjuang menyelesaikan skripsi di tengah ancaman pencabutan beasiswa. Karena kesulitan ekonomi, ia terpaksa harus kembali ke rumah dan menyaksikan perjuangan ibunya, Wulandari (Sha Ine Febriyanti), yang harus menjadi tulang punggung keluarga seorang diri.

BacaJuga

Kompas Penuntun Hidup dalam Buku Panduan Lima Jari

Desa yang Tak Lagi “Jaya” dalam Abadi Nan Jaya

Wulandari harus melakukan semuanya sendiri karena sosok ayah dalam film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah, Tio (Bucek Deep) tidak digambarkan sebagai seorang pelindung. Ia jarang pulang ke rumah, tidak menafkahi keluarga serta larut dalam kebiasaan merokok dan judi online yang berujung pada tumpukan utang.

Kehadiran fisik Tio sebagai seorang ayah tidak tidak pernah sejalan dengan tanggung jawabnya. Ia memiliki sifat tempramental dan abusive yang justru menambah penderitaan hingga membuat anak-anaknya tumbuh dengan luka batin dan trauma.

Karena perilaku buruk tersebut, Alin juga mulai meragukan hubungan percintaannya sendiri karena dihantui ketakutan bahwa pasangannya bisa saja mengulang perilaku buruk ayahnya.

Dalam film ini, penonton disuguhkan gambaran nyata tentang bagaimana kecanduan judi online mampu menghancurkan sebuah keluarga. Sang ayah, Tio, terjebak dalam lingkaran utang akibat kebiasaan berjudi dan semakin tenggelam karena terus berusaha menutupi kesalahannya dengan kebohongan baru.

Kebohongan Tio dapat kita lihat ketika ia berdalih kepada pacar Alin, Irfan (Indian Akbar), terkait masalah keuangan usaha laundrynya. Setelah diberikan bantuan dana, sang ayah justru menggunakan uang tersebut untuk berjudi. 

Selain itu, Tio juga pernah diam-diam melakukan pembicaraan bersamaan dengan Irfan untuk menyetujui pernikahannya bersama Alin, tanpa persetujuan sang anak. Hal itu ia lakukan demi mendapatkan uang mahar dari keluarga calon suami. 

Perilaku egois ini bukan kali pertama merusak hidup anak-anaknya. Sebelumnya, rumah tangga anak sulungnya, Anis (Eva Celia), hancur berantakan setelah suaminya tak sanggup lagi membayar hutang sang ayah dan memilih untuk kabur. 

Dalam salah satu adegan trailer film ini, terlihat sang ibu, Wulandari memanjat atap untuk memperbaiki genteng bocor yang rusak. Padahal, pekerjaan berat tersebut seharusnya menjadi tanggung jawab Tio sebagai ayah yang posisinya juga berada di rumah saat itu. 

Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah secara tidak langsung menampilkan bagaimana perilaku destruktif seorang ayah tidak hanya menyakiti dirinya sendiri, tetapi juga merusak masa depan anak-anak yang seharusnya ia lindungi.  Gambaran tersebut menjadi representasi nyata dari fatherless family, kondisi ketika hadirnya laki-laki sebagai “ayah biologis” tetapi kosong akan peran dan tanggung jawab moralnya.

Dalam wawancaranya di kanal YouTube Rapi Films, sang sutradara, Kuntz Aguz mengungkap jika ide film ini lahir dari perbincangan di media sosial mengenai ketiadaan peran ayah. Dalam struktur sosial masyarakat, ia banyak menemui anak-anak maupun remaja yang merasa fatherless bukan karena orang tua mereka bercerai, melainkan karena sang ayah tidak menjalankan perannya sebagaimana mestinya.

Film ini mengajak penonton melihat sisi lain kehidupan seorang anak yang tumbuh tanpa peranan seorang ayah sekaligus menyoroti dinamika pernikahan melalui kacamata sang anak, membuat kita merenungkan kembali makna pernikahan dan arti keluarga yang sebenarnya.

Pengambilan gambar serta penataan latar dalam film ini secara realistis menggambarkan kondisi rumah kelas menengah serta memberikan kesan yang autentik dekat dan dengan kehidupan sehari-hari.

Penggunaan tone warna yang khas juga berhasil menambah kekuatan visual sekaligus mempertegas suasana di setiap adegan. Lagu ‘Lekat’ yang digunakan sebagai soundtrack turut memperdalam makna di beberapa adegan serta menambah sentuhan emosional yang membuat film ini terasa lebih menyentuh.

Film berdurasi 1 jam 49 menit ini resmi tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 4 September 2025. Hasil kolaborasi antara Rapi Films, Screenplay Films, Legacy Pictures, dan Vortera Studios, meraih rating 8,3/10 di IMDb.

Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah benar-benar mengajak kita merenungkan arti kehadiran dan perhatian ayah sesungguhnya. Jangan lupa siapkan tisu, dan peluk erat orang-orang terdekatmu setelah menonton film ini, ya!

Aynun Lutfiya

Tags: Amanda RawlesAndai Ibu Tidak Menikah dengan Ayahfatherlessfilm keluargaResensi film
ShareTweetSendShareShare
Previous Post

Proker KKN-T Unhas Atasi Kebingungan Identitas Digital hingga Limbah di Bonto Tallasa

Next Post

Dorong Digitalisasi Desa Rompegading, Mahasiswa KKN Unhas Hadirkan Website Profil Terintegrasi

TRENDING

Liputan Khusus

Pemdes Bonto Karaeng Dukung Program Pengabdian Mahasiswa KKN-T Unhas

Ketika Kata Tak Sampai, Tembok Jadi Suara

Membaca Suara Mahasiswa dari Tembok

Eksibisionisme Hantui Ruang Belajar

Peran Kampus Cegah Eksibisionisme

Jantung Intelektual yang Termakan Usia

ADVERTISEMENT
Tweets by @IdentitasUnhas
Ikuti kami di:
  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Youtube
  • Dailymotion
  • Disclaimer
  • Kirimkan Karyamu
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
© 2026 - identitas Unhas
Penerbitan Kampus Universitas Hasanuddin
  • Home
  • Ulasan
    • Civitas
    • Kampusiana
    • Kronik
    • Rampai
    • Editorial
  • Figur
    • Jeklang
    • Biografi
    • Wansus
    • Lintas
  • Bundel
  • Ipteks
  • Sastra
    • Cerpen
    • Resensi
    • Puisi
  • Tips
  • Opini
    • Cermin
    • Dari Pembaca
    • Renungan
  • identitas English
  • Infografis
    • Quote
    • Tau Jaki’?
    • Desain Banner
    • Komik
  • Potret
    • Video
    • Advertorial
  • Majalah

Copyright © 2012 - 2024, identitas Unhas - by Rumah Host.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In